Rabu, 24 Oktober 2012

Never Let Me Go


Never Let Me Go
Judul Buku      : Never Let Me Go (Jangan Lepaskan Aku)
Penulis             : Kazuo Ishiguro
Penerjemah      : Gita Yuliani K.
Penerbit           : Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit    : September 2011
Halaman          : 358

“Dari luar, Hailsham tampak seperti sekolah asrama Inggirs yang menyenangkan, jauh dari sentuhan kota besar. Murid-muridnya terpelihara dengan baik, diajari seni, olahraga, dan ilmu pengetahuna. Namun anehnya mereka sama sekali tidak dibiarkan berhubungan dengan dunia di luar asrama mereka.
Kathy, yang kini sudah dewasa, mengenang kembali masa-masanya di Hailsham. Ingatannya tentang persahabatannya dengan Ruth dan Tommy, teman masa kanak-kanaknya di asrama tersebut, membuka berbagai rahasia di balik dinding Hailsham. Di sanalah manusia di cloning agar bisa menyediakan organ-organ yang dibutuhkan oleh penduduk dunia luar yang sakit.”

Paragraf tadi, tentu saja blurb dari novel Never Let Me Go. Dan alasan kenapa saya memilih menyalin tulisan dari sampul belakang novel itu adalah karena saya bingung serta terlalu malas untuk membuat review saya sendiri.

Entah dari mana awalnya, saya merasa pernah membaca, atau mungkin melihat sekilas, atau entahlah, saya memiliki ingatan kalau buku ini katanya bagus. Makanya, waktu saya menemukan buku ini di rak perpus pusat, tentu saja dengan senang hati saya meminjamnya.

Secara garis besar, alur ceritanya flashback ke masa lalu, seperti yang ditulis di blurb. Dari sudut pandang Kathy seorang. Pada awalnya, saya berharap diberi sebuah misteri atau teka-teki menarik yang akan dijelaskan akhirnya. Namun, entah kenapa, saya merasa cerita ini tidak ada klimaksnya sama sekali.

Semuanya terjadi begitu saja, tentang manusia-manusia (anak-anak) hasil kloning. Bagaimana awalnya, begitu samar dijelaskan. Tahu-tahu mereka sudah bisa berlari dan belajar. Saya berharap, kalau ada penjelasan awal mula mereka tercipta. Memang, saya pernah belajar tentang kloning waktu zaman SMP dulu. Tapi kan tetep aja penasaran. Apalagi saya udah agak lupa tentang ilmu itu. Seinget saya, kalau kita mengkloning sesuatu, umur makhluk ciptaan itu, juga persis seperti sama seperti makhluk aslinya. Jadi, kalau ada manusia yang gen nya di kloning, dan saat itu usianya 11 misalnya, si gen itu juga berusia 11 saat diciptakan. Nah, kalau ingatan saya benar tentang itu, saya bingung, kok anak-anak di Hailsham ini sepertinya tumbuh secara wajar saja.

Terus tentang ide mengkloning manusia untuk jadi donor anggota tubuh bagi manusia lain yang sakit. Saya sendiri berharap penulis mau menuliskan secara rinci tentang ide tersebut. Bagaimana prosesnya, terus kalau udah diambil satu organ untuk didonor, hati misalnya, apakah si pendonor akan dapat hati baru, atau hidup tanpa hati? (hehehe, ini maksudnya hati yang di dalam tubuh ya).

Pokoknya, selesai baca ini, masih banyak yang ingin saya tanyakan deh. Tentang hubungan Kathy, Tommy, dan Ruth juga. Oke, saya kasih tahu aja, dua sahabat Kathy itu pada akhirnya meninggal. Seperti yang sudah diatur oleh institusi yang menciptakan mereka. Mereka hidup untuk menjadi donor, untuk kemudian mati. Tapi, saya berharap, ada adegan yang dramatis ketika Tommy meninggal. Bahkan di novelnya, hanya diceritakan Tommy pergi. Nggak ada kata perpisahan, nggak ada adegan mengharukan, yah, saya tahu sih, mungkin ini sebenarnya masalah selera saya, yang suka sama hal-hal yang berbau melodrama, hehe..

Masalahnya, saya juga nggak ngerti apa hubungan kenangan-kenangan Kathy dan akhir cerita. Kalau memang Kathy dan Tommy saling mencintai, kok ya buat saya, fighting mereka untuk memperjuangkan cinta itu terasa kurang. Kayaknya pasrah banget gitu loh. Terus pas Tommy udah pergi, kayaknya Kathy juga nggak terlalu kehilangan tuh! Apalagi, ini kan sudut pandangnya Kathy ya, jadi bisa aja kan dia cerita dengan lebih detil tentang perasaan dia kepada Tommy. Dan ini nggak ada sama sekali.

Yah intinya, saya nggak ngerti, apakah saya yang terlalu bodoh untuk memahami cerita di novel ini, atau mungkin karena memang selera saya yang berbeda dengan genre novel ini, saya kecewa bacanya. 

Setidaknya, saya punya ekspektasi tinggi di awal, yang saya sendiri juga nggak tahu dari mana asalnya itu.
Tapi, mengingat cerita ini adalah kisah anak-anak yang bersekolah di asrama, saya cukup suka. Ditambah lagi di Inggris, di kota-kota kecilnya, yang di dalam pikiran saya, indah dan misterius. Dua hal itulah yang lumayan mengurangi kekecewaan saya. By the way, ini hanya opini. Kalau ada yang pernah baca buku yang sama, dengan pandangan yang berbeda, itu terserah, hehehe…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar