Kamis, 23 Februari 2012

Resensi Buku: Berkeliling Dunia di Bawah Laut

Penulis            : Jules Verne
Penerjemah     : Agus Setiadi
Penerbit          : Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit    : 1977
Halaman         : 336

Berkeliling Dunia di Bawah Laut berkisah tentang seorang professor berkebangsaan Perancis bernama Prof Aronnax yang mendapat undangan untuk ikut dalam misi mengejar ‘paus raksasa’ di lautan. Ya, pada saat itu dikisahkan bahwa ada semacam paus atau siluman raksasa yang beberapa kali merusak kapal yang berlayar di lautan. Rumor tentang siluman laut itu semakin berkembang, hingga akhirnya AS memutuskan untuk menyelidiki kebenarannya. Maka berlayarlah sebuah kapal bernama Abraham Lincoln, yang dinahkodai oleh kapten Farragut.
Sebagai professor yang berkecimpung di dunia hewan, dan pernah menulis tentang alam laut, Prof Aronnax pun diundang dalam pelayaran tersebut. Ia juga mengajak asisten pribadinya yang bernama Conseil.

Berbulan-bulan mengapung di lautan, membuat awak kapal semakin gelisah, karena ‘siluman’ yang ditunggu malah tidak menampakkan diri. Hingga pada suatu hari, saat para awak kapal merasa putus asa dan mulai berpikir untuk menghentikan pelayaran, kapal terbentur benda raksasa. Saat itu Prof Aronnax sedang berada di pinggir kapal, sehingga saat benturan terjadi ia terlempar ke laut. Ternyata yang terlempar tidak hanya dia, melainkan asistennya dan pemburu paus bernama Ned Land.

Setelah cukup lama terombang-ambing di lautan, Prof Aronnax terjaga dan menyadari kalau ia, Conseil, dan Ned, sudah berada di dalam sebuah kapal dalam keadaan selamat. Ia menyadari kalau ia berada di kapal yang tidak biasa dengan awak kapal yang tidak biasa pula.

Kaptennya bernama Kapten Nemo, dan kapalnya bernama Nautilus. Nautilus sejenis kapal selam canggih, di mana memiliki berbagai teknologi hebat yang membuatnya mampu berada lama di dasar laut. Kapten Nemo merasa ‘kecewa’ dengan penduduk bumi dan memilih mengasingkan diri bersama orang-orang yang sependapat dengannya di bawah laut. Ia sendiri yang menciptakan berbagai teknologi hebat yang dipakai di kapal Nautilus tersebut.

Tiga orang pendatang di kapalnya itu tidak diizinkan untuk naik ke daratan lagi. Namun mereka dibiarkan hidup secara layak, mendapat makanan setiap hari, dan diajak untuk menjelajahi dunia bawah laut yang begitu menakjubkan.

Sebagai professor, Prof Aronnax merasa senang sekali mendapat kesempatan seperti itu. Mereka benar-benar diajak berkeliling dunia dengan jalur laut oleh Kapten Nemo. Berburu hewan laut, melihat kapal-kapal karam, hingga melawan ganasnya alam di laut kutub selatan.

Namun, setelah berbulan-bulan menjalani pelayaran yang menakjubkan, Prof Aronnax, Conseil, dan Ned, merasa sangat rindu kehidupan di daratan dan ingin kembali. Hanya saja mereka tidak pernah mendapat izin dari Kapten Nemo yang khawatir Nautilus dan kehidupannya di bawah laut diketahui orang banyak. Si pemburu ikan paus malah merencanakan untuk kabur selagi ada kesempatan.

Cerita ini sebenarnya bagus, tapi entah kenapa saya agak bosan membacanya. Apa karena memang kurang tertarik dengan dunia laut atau gimana. Tapi, saya rasa konfliknya sendiri memang kurang. Selama saya membaca, rasanya saya seperti Ned yang tak sabar sampai kapan pelayaran ini akan berlanjut. Namun saya tetap membacanya karena penasaran dengan akhirnya.

Ditulis pada tahun 1870, karya-karya Jules Verne dianggap sebagai sains fiksi terbaik pada zamannya. Salah satunya adalah kisah ini yang berjudul asli  Vingt mille lieues sous les mers: Tour du monde sous-marin atau Twenty Thousand Leagues Under the Seas: An Underwater Tour of the World.

Sabtu, 11 Februari 2012

Resensi Pertama: The Lord of The Rings

Ini pertama kaliya saya menulis review buku, setelah beberapa bulan terakhir sering blogwalking ke para blogger buku Indonesia. Sudah lama sebenernya saya ingin mencoba untuk menulis review buku bacaan. Tapi, karena saya sendiri jarang membaca buku di masa-masa kuliah, jadilah liburan kali ini dihabiskan untuk membaca buku.

Buku yang pertama kali saya review adalah Lord of The Rings karya JRR Tolkien. Lord of The Rings terdiri dari tiga buku yang berjudul The Fellowship of The Rings, The Two Towers, dan The Return of The King. Cerita fantasi dengan setting Dunia Tengah, yang bagi saya terasa sangat antah-berantah, hehehe. Di dunia itu terdapat makhluk-makhluk hidup selain manusia, namun agak mirip dengan manusia. Seperti Hobbit, Peri, Kurcaci, dan Penyihir.

Berkisah tentang Cincin Utama yang memiliki kekuatan untuk menguasai dunia. Cincin itu berada di tangan sehobbit (mau nulis seorang, tapi dia kan bukan orang, hahaha) bernama Frodo. Frodo memiliki tugas untuk membawa cincin itu ke Mordor dan memusnahkannya agar tidak jatuh ke tangan Sauron, makhluk jahat yang berniat menguasai dunia dengan cincin itu.



Bersama para sahabatya, Sam, Merry, dan Pippin, mereka melewati berbagai rintangan dan petualangan sampai akhirnya berada di Rivendell. Dari Rivendell, perjalanan dilanjutkan dengan menambah anggota rombongan, yakni Aragorn, Boromir, Gandalf, Legolas, dan Gimli. Perjalanan yang mereka lalui –menurut saya- sangat panjang dan melelahkan. Sampai akhirnya rombongan itu terpisah. Gandalf yang masuk ke jurang saat melawan Balrog. Frodo dan Sam yang terus menuju Mordor. Legolas, Gimli, dan Aragorn yang bertemu kaum Rohan dan mempersiakan peperangan. Merry dan Pippin yang bertemu dengan kaum Ent, dan Boromir yang tewas di tangan Orcs.



Sam, Frodo, Merry, dan Pippin (atau Pippin dan Merry, saya suka ketuker, hehe)



Di film nya, yang jadi Legolas, Orlando Bloom, cakep banget, hehe

Seperti yang sering terjadi di cerita fantasy, (nggak bermaksud spoiler, hehe), kebaikan selalu menang melawan kejahatan, dan begitulah yang terjadi cerita ini. Meskipun begitu, saya tetap saja terkesima dengan buah pena Tolkien ini. Dunia ‘aneh’ yang beliau ciptakan disampaikan begitu detil, sampai-sampai saya sendiri tidak bisa ingat seluruhnya. Pokoknya ingat yang penting-penting aja, hehehe…

Saya suka penggambaran Tolkien terhadap tempat-tempat yang ada dalam ceritanya. Betapa suramnya Old Forest, betapa indahnya hutan Lorien, dan betapa menakutkannya Mordor, semuanya digambarkan begitu hidup. Selain itu saya suka dengan cerita yang dilengkapi dengan sajak-sajak.

Cerita Lord of The Rings ini, bagi saya mengajarkan banyak hal. Tentang persahabatan, keberanian, pengorbanan, dan kesetiaan. Di antara tokoh-tokoh yang bertebaran di cerita ini, saya paling suka dengan Sam Gamgee. Dia setia banget sama Frodo, dan begitu baik hati. Rela nggak tidur berjam-jam buat jagain Frodo, masakin makanan, ngerelain jatah makanan dan minumannya untuk Frodo, bahkan menggendong Frodo saat berada di Gunung Api. So sweet… 

Oya, sebelum membaca novel LoTR, saya sudah nonton film-nya, besutan sutradara Peter Jackson. Hanya saja, saya baru nonton The Return of The King, sedangkan dua lainnya belum. Tapi, waktu baru nonton film itu, saya nggak tertarik sama film sebelumnya karena takut. Takut karena di film, Orc-nya serem banget. Tapi, dengan baca novelnya, saya jadi bisa bikin Orc yang nggak serem-serem banget di kepala saya. Begitu juga dengan makhluk-makhluk seram lainnya. Itulah keuntungan membaca, kita bebas membayangkan apa yang ada di novel sesuai imajinasi masing-masing. Tapi, untuk tokoh-tokoh seperti Frodo, Sam, Pippin, Merry, Gandalf, Legolas, dan Gimli sesuai dengan gambaran yang di film sih. Soalnya udah keburu nempel di kepala, hehehe.

Intinya, saya suka dengan cerita ini, dengan penggambaran latarnya, dengan sajak-sajaknya, dan dengan beberapa tokohnya yang loveable, hehehe….

Sebagai review pertama yang saya tulis, mungkin ini review ini aneh atau apalah namanya. Yah, namanya juga pemula, hehe…

Di bawah ini ada beberapa potongan kalimat yang saya suka :

"Kau bisa mempercayai kami untuk mendampingimu dalam semua kesulitan—sampai akhir yang pahit. Dan kau bisa mempercayai kami untuk menyimpan rahasiamu yang mana pun lebih rapat daripada kau sendiri bisa menyimpannya. Tapi kau tak bisa menyuruh kami membiarkanmu menghadapi masalahmu sendirian, dan pergi tanpa kabar. Kami sahabat-sahabatmu, Frodo. Bagaimanapun: begitulah. Kami sudah tahu sebagian besar dari apa yang diceritakan Gandalf padamu. Kami tahu cukup banyak tentang Cincin itu. Kami sangat takut, tapi kami akan mendampingimu; atau mengikutimu seperti anjing pemburu."
-Merry Brandybuck, The Fellowship of The Rings-

"Aku sayang sekali padanya. Dia memang seperti itu, dan kadang-kadang cahaya itu menembus keluar, entah bagaimana. Tapi aku sayang padanya, seperti apa pun keadaannya.”

"Tidak, tapi sebaiknya kita memasang mata sampai kita tiba di sana. Kalau kita tertangkap sedang tidur, Gollum akan cepat sekali menerkam. Tapi bukan berarti sekarang tidak aman bagimu untuk tidur sebentar, Master. Aman kalau kau berbaring dekat denganku. Aku akan senang sekali melihatmu tidur. Aku akan menjagamu; kalau kau berbaring dekat aku, dengan tanganku memelukmu, takkan ada yang bisa menyentuhmu tanpa diketahui Sam."

-Samwise Gamgee, The Return of The King-

Kalimat pertama dari Merry untuk Frodo. Bagi saya, kalimat tersebut menunjukkan persahabatan dan kesetiaan yang sangat kental. Dua kalimat terakhir adalah kalimat Sam untuk Frodo, dan kalimat yang paling saya sukai. Nggak tahu kenapa, tapi rasanya melting aja gitu dengernya. Sam baik banget sama Frodo. Di dunia nyata, ada nggak ya, sahabat sebaik Sam? Hehehe…..