Senin, 02 Desember 2013

Resensi Buku: Libri di Luca


Penulis                : Mikkel Birkergaard
Penerjemah         : Fahmy Yamani
Penerbit               : Serambi
Tahun Terbit       : Cetakan II, Desember 2009
Halaman              : 588


Apa yang kau pikirkan, ketika kau tahu ternyata selama ini ada orang-orang yang mengetahui apa yang sedang kau baca dalam hati, bahkan sampai mempengaruhi caramu membaca? Tidak cukup dengan itu, ada pula orang-orang yang memiliki kemampuan mempengaruhi orang lain dengan apa yang dibacanya, dan kau adalah salah satu dari mereka.

Jon Campelli tidak pernah mengira sebelumnya, kalau dirinya adalah salah satu orang yang memiliki kemampuan khusus tersebut.

Jon, pria berusia 30an, keturunan Itali yang tinggal di Denmark. Ia adalah seorang pengacara muda yang sukses, hampir selalu memenangi kasus yang ditanganinya, namun hidup sendirian dan tidak dianggap oleh ayah kandungnya sendiri, Luca Campelli.

Luca adalah seorang lelaki tua pecinta buku, dan menghabiskan hidupnya dengan menjaga toko buku antik bernama Libri di Luca. Kematian Luca yang mendadak, mengubah jalan hidup Jon secara drastis. Mau tak mau, Jon harus turun tangan mengurus Libri di Luca, karena Iversen, sahabat Luca, merasa kalau Jon-lah orang yang paling pantas memiliki Libri di Luca.

Dugaan kalau Luca meninggal bukan karena serangan jantung biasa, membuat Jon akhirnya mengenal kelompok orang berkemampuan khusus tersebut. Mereka menyebutnya Kelompok Pecinta Buku. Kelompok itu terbagi dua, kelompok Pemancar, alias kumpulan orang-orang yang bisa mempengaruhi orang lain dengan bacaan yang mereka baca secara lisan (bukan dalam hati), dan kelompok Penerima, yaitu orang-orang yang bisa mengetahui apa yang sedang dibaca oleh orang lain meskipun dia membacanya dalam hati.

Dua puluh tahun lalu, kubu pemancar dan penerima tergabung menjadi satu. Namun, setelah beberapa kejadian, termasuk kematian Marianne, istri Luca, kelompok itu mengalami perpecahan, dan terbagi menjadi dua kubu.

Iversen, sahabat Luca, yang juga mengurus toko buku, merasa yakin, jika ada salah satu pihak, entah itu Pemancar atau Penerima, yang memang merencanakan perpecahan itu, serta bertanggungjawab atas kematian Luca. Iversen meminta Jon untuk menyelidiki kasus tersebut. Bersama Katherina, murid Luca yang juga ikut menjaga Libri di Luca, Jon pun mengurai rahasia-rahasia di balik kelompok Pecinta Buku, sekaligus menguak rahasia mengapa ayahnya tidak lagi menganggapnya anak sejak ibunya meninggal.

Dari awal, ceritanya sudah cukup seru. Mampu membuat aku penasaran, menunggu rahasia apa lagi yang akan keluar. Meskipun, sebagai pembaca, dari awal aku bisa menebak, siapa tersangka dari permasalahan itu. Sayangnya, tokoh-tokoh di situ, seolah-olah nggak bisa mengira siapa orangnya. Dan itu bikin aku gemes.

Ceritanya panjang, tapi nggak ngebosenin dan terus bikin penasaran. Sayangnya, di bagian akhir kok malah biasa aja ya? Membuat aku berkomentar, “begini aja nih?”

Tapi secara keseluruhan, cerita fantasi ini cukup unik, karena aku baru nemuin kekuatan yang aneh kayak gitu. Dan membuat aku berpikir-pikir, kalau beneran ada orang-orang seperti itu, bakal kayak apa ya dunia? Hehehe…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar