Selasa, 20 Mei 2014

Opini: A Walk to Remember - Tak Seperti yang di Film




Jadi aku baru baca novel A Walk to Remember. Sebenernya nggak baru-baru banget sih, sekitar 3 minggu lalu, tapi belum tergerak untuk nulis review-nya.

Setelah membaca novel Nicholas Sparks tersebut, barulah aku sadar kalau ternyata apa yang di film dan di novel itu sangat sangat sangat berbeda.

Dan, sebelum tulisan ini berlanjut, aku peringatkan kalau tulisan ini mengandung banyak spoiler, oke??
Secara umum, A Walk to Remember berkisah tentang hubungan Jamie dan Landon. Jamie anak perempuan pendeta yang alim, santun, dan baik hati, serta Landon anak anggota dewan yang, yah… seperti remaja lelaki kebanyakan.

Di novel, cerita dituturkan dari sudut pandang Landon Carter. Ia bercerita tentang masa kecilnya, ayahnya, daerah tempat tinggalnya, juga tentang pendeta yang terkenal di kotanya, yaitu Herbert Sullivan.  Herbert Sullivan adalah ayah dari Jamie Sullivan.

Di film pun, menurutku memang diceritakan dari sudut pandang Landon. Namun, perbedaan paling kentara antara di novel dan di film adalah tentang keinginan Jamie.

Di film, Jamie memiliki daftar keinginan atau hal yang ingin dia lakukan selama hidupnya. Misalnya berdiri di dua tempat dalam satu waktu, memiliki tattoo, memiliki teropong bintang, dan lain-lain. Saat ditanya Landon apa keinginan pertamanya, Jamie bilang “Aku akan membunuhmu kalau kau tahu.” (seinget aku ucapannya begitu, atau mirip-mirip itu). Baru di akhir, setelah mereka jadi lebih deket, Jamie bilang kalau keinginan pertamanya adalah menikah di gereja tempat orangtua dia menikah.

Sedangkan di novel, Jamie langsung bilang kalau dia ingin menikah di gereja tempat orang tuanya menikah dan dihadiri oleh banyak orang. Dan itu membuat aku cukup shock. Whaaat?? Jamie langsung ngomong begitu? Dan saat aku nanti-nanti keinginan-keinginan lain yang mungkin Jamie sebutkan, ternyata tidak ada. Dia hanya ingin menikah. Oalaaah… 

Jadi daftar keinginan Jamie yang diwujudkan oleh Landon, ternyata cuma ada di film. 

Lalu di bagian lain, yaitu saat pementasan drama.

Di film, di akhir adegan drama, setelah Jamie nyanyi (lagu berjudul Only Hope yang dinyanyikan dengan bagus oleh Mandy Moore), Landon begitu terpukau oleh kecantikan Jamie dan berakhir dengan mereka berciuman di panggung.

Di novel, adegan kissing di panggung ini nggak pernah ada. Aslinya, Landon itu susah sekali mengucapkan kalimat “Kamu sangat cantik” dengan penuh penghayatan kepada Jamie di adegan drama. Tapi ketika pementasan, setelah begitu terpesona dengan perubahan Jamie, Landon benar-benar sadar kalau Jamie itu cantik banget, sehingga kalimat “Kamu sangat cantik” yang dikeluarkannya benar-benar penuh penghayatan.

Ada lagi bagian-bagian di film yang menurutku romantis banget. Seperti saat Landon mengajak Jamie pergi ke perbatasan untuk mewujudkan mimpi Jamie berdiri di dua tempat dalam satu waktu. Lalu saat Landon memberi tato bergambar kupu-kupu dan memakaikannya di pundak Jamie. Saat mereka berdua melihat bintang, dan terakhir saat Landon membuat teropong bintang untuk Jamie, agar Jamie bisa terus melihat bintang dari rumahnya.
Saat Landon memakaikan tattoo kupu-kupu di pundak Jamie
Keromantisan itu nggak ada di novel, kawan-kawan!

Dan tentu saja, nggak ada juga adegan saat Jamie nangis karena temen-temennya Landon ngedit foto dia dengan badan cewek seksi terus disebarin ke murid-murid di sekolah. Yang mana di film, Landon membela Jamie dengan nonjok temennya sendiri karena telah membuat fitnah tersebut. (Aaaak… di sini Shane West keren banget sumpah!)

Di novel, Landon memang digambarkan lebih manusiawi, alias lebih normal sebagai laki-laki. Yang kadang malu pulang bareng sama Jamie, kadang kesel, kadang menjauhi Jamie. Walaupun memang tetap ada hal romantis yang dia lakukan. Yang paling aku suka sih saat Landon menambah jumlah uang sumbangan di tabung-tabung yang disebar Jamie di setiap toko. 

Jadi, Jamie itu punya kebiasaan menaruh tabung-tabung (semacam kenclengan gitu kali ya kalau di Indonesia) di setiap toko yang ada di kotanya. Uang yang disumbangkan di tabung-tabung itu, nantinya akan dibelikan Jamie hadiah-hadiah natal bagi anak-anak yatim di panti asuhan. Tahun itu, Jamie meminta tolong pada Landon untuk mengumpulkan kembali tabung-tabung yang sudah disebar. Ternyata setelah Landon hitung, uang yang terkumpul sedikit sekali, sehingga dia berinisiatif untuk menambahkan dengan uangnya sendiri tanpa sepengetahuan Jamie.

Memang sih hal yang sederhana. Tapi menurutku ini malah membuat tokoh Landon jadi normal, seperti remaja laki-laki kebanyakan di dunia ini. Nggak kerasa di awang-awang gitu.

Dan yang paling beda tentu saja ada di saat pernikahan mereka.

Di film, di hari pernikahan, Jamie terlihat sehat dan segar meskipun sebelumnya dia sempet masuk rumah sakit karena penyakitnya makin parah.

Di novel, di hari pernikahan, Jamie walaupun berjuang untuk sehat dan segar, tetap digambarkan sangat sakit. Badannya semakin kurus dan dia nggak bisa berjalan, sehingga selalu menggunakan kursi roda. Namun, saat menuju altar bersama ayahnya, Jamie memaksakan diri untuk berjalan sendiri tanpa kursi roda.
 
Langkah Jamie di altar itulah, yang sangat terkenang oleh Landon. Karena semua orang dapat melihat kalau dia melakukannya dengan penuh perjuangan. Bahkan di tengah jalan, Jamie mulai kelelahan dan kehabisan nafas, sehingga harus berhenti sebentar. Perawatnya sudah menyodorkan kursi roda, tapi Jamie bertahan dan berusaha melangkahkan kakinya.

“A walk to remember - Langkah yang akan kukenang selalu.” Kalau kata Landon.

Bagian inilah, yang menurutku, bagian pamungkas yang membuat novel ini menjadi sangat indah.

Di film, bagian terakhirnya adalah saat Landon kembali mengunjungi kotanya (saat itu dia sudah jadi mahasiswa), menjenguk kembali Herbert Sullivan, dan minta maaf kalau ada satu permintaan putrinya yang belum dia wujudkan, yaitu “to witness a miracle”, yang dijawab dengan indahnya oleh Herbert “you are the miracle for her.”

Di novel, karena penuturan Landon adalah penuturan flashback, dia menutup kenangannya dengan mengucapkan kalau kenangan remajanya bersama Jamie adalah kenangan terindah yang pernah dia miliki selama hidup. 

my favorite couple!
Well, aku bukan kecewa dengan kenyataan isi film dan novel yang berbeda. Karena setelah dipikir-pikir, nggak selamanya yang tertuang di novel itu cocok dimasukkan ke dalam film secara mentah-mentah.  Toh, menurutku, keduanya tetap cerita yang indah, baik di novel maupun di film. Hanya saja, memang lebih manusiawi di novel sih. Mengingat, rasanya nggak mungkin banget ada cowok seromantis Landon Carter (versi film) di dunia nyata. Hehehe….

Semenjak saat itu, aku bertekad untuk membaca dulu bukunya, baru menonton filmnya. Yah, supaya shockingnya nggak terlalu parah. Buat aku,  lebih menyesakkan kalau apa yang di film nggak ada di buku, daripada apa yang di buku nggak ada di film. Seenggaknya, dengan membacanya lebih dulu aku sudah membuat theatre of mind pada bagian yang nggak ada itu.






Senin, 19 Mei 2014

Resensi Buku: Heidi



Penulis             : Johanna Spyri
Penerjemah      : Mutia Dharma
Penerbit           : Atria
Tahun terbit     : 2009
Halaman          : 396

Heidi adalah seorang gadis kecil yang malang. Kedua orangtuanya meninggal saat ia berumur satu tahun, lalu ia diasuh oleh bibinya selama empat tahun. Saat berumur lima tahun, bibinya Dete, mendapat pekerjaan di Frankfurt. Karena tidak mungkin membawa Heidi ke sana, Dete membawa Heidi ke pegunungan untuk tinggal bersama Paman Alm.

Banyak orang yang menentang rencana tersebut, karena menilai Paman Alm bukan orang yang baik. Paman Alm adalah kakek Heidi. Namun, ia tidak suka hidup berbaur dengan masyarakat, dan memilih tinggal sendiri di pegunungan bersama kambing-kambingnya. Banyak yang mengatakan Paman Alm marah pada Tuhan karena ia tidak pernah sekalipun menginjakkan kakinya ke gereja. Tapi Dete tidak punya cara lain, selain menitipkan Heidi pada Paman Alm.

Siapa sangka, ternyata Heidi hidup bahagia bersama Paman Alm, yang dipanggilnya Kakek. Ia juga berteman dengan anak laki-laki penggembala bernama Peter. Setiap hari, mereka berdua menggembala kambing ke pegunungan sambil menikmati keindahan bunga-bunga dan hembusan angin.

Heidi merasa begitu senang hingga tak pernah membayangkan kehidupan lain selain kehidupan di pegunungan bersama Kakek, Peter, dan kambing-kambing kesayangannya. Sampai Dete datang lagi, dan mengajak Heidi pindah ke Frankfurt. Awalnya Heidi tidak mau meninggalkan pegunungan dan Kakek. Namun Dete memaksa hingga Heidi tak bisa menolak.

Di Frankfurt, Heidi tinggal di sebuah rumah besar milik Tuan Seseman. Ia bertugas menemani anak Tuan Seseman, Clara, yang sendiri dan sakit-sakitan. Meskipun sedih, Heidi berusaha menjalani kehidupannya dengan baik di Frankfurt besama Clara dan penghuni lain di rumah Tuan Seseman. Seringkali, Heidi merasa rindu pada pegunungan, pada kakek, Peter dan kambing-kambingnya. Juga pada bebungaan, pohon-pohon, matahari dan bintang-bintang yang dulu bisa ia pandangi sesuka hati.

Well, seperti yang ditulis di bagian prolog novel ini, Heidi merupakan kisah yang indah. Sangat indah menurutku. Ceritanya memang terlihat sederhana. Tentang kehidupan gadis kecil yang periang dan baik hati bernama Heidi. Namun kebaikan hati, kepolosan, keriangan yang dia miliki, membuat hidup yang ia jalani terlihat sangat indah, bahkan meskipun ia juga mengalami saat-saat sulit atau sedih.

Selain kekuatan tokoh Heidi, deskripsi tentang keindahan alam pegunungan juga sangat detil digmbarkan oleh sang penulis. Warna bunga-bunga, pohon-pohon, lembah, dan segala macamnya yang membuat aku iri pada Heidi, dan berkhayal, seandainya aku juga bisa tinggal di pegunungan seperti Heidi.

Banyak nilai moral yang disampaikan dalam novel ini. Juga tentang keyakinan pada Tuhan yang akan selalu memberikan yang terbaik untuk kita. Beberapa bagian, juga sempat membuatku berlinang air mata karena terharu. Memang benar-benar kisah indah yang menyentuh. 

[Review ini diikutsertakan dalam Lucky No.14 Reading Challenge kateogori Bargain All The Way]

Minggu, 04 Mei 2014

Resensi Buku: Treasure Island



Penulis             : Robert Louis Stevenson
Penerjemah      : Mutia dharma
Penerbit           : Atria
Halaman          : 352


Ini adalah kisah tentang petualangan Jim Hawkins ke Pulau Harta Karun. Awalnya, ia hanyalah seorang anak laki-laki yang mengurus penginapa milik orangtuanya yang berada di tepi laut. Penginapan itu bernama Admiral Benbow. Para pelaut, kelasi, petugas kapal sering dating ke Admiral Benbow.

Pada suatu hari, Admiral Benbow kedatangan seorang laki-laki tua dengan wajah yang galak. Suaranya parau dan ia tak pernah berhenti minum rum. Lelaki itu ditakuti oleh hampir seluruh pengunjung Admiral Benbow, termasuk orangtua Jim sendiri. Mereka tidak berani meminta uang bayaran penginapa meskipun lelaki itu tinggal lama sekali di sana.

Laki-laki tua itu ternyata bernama Billy Bones dan dia menyimpan kekayaan di peti kayunya serta secarik peta harta karun yang ia simpan di saku bajunya. Peta harta karun itu berisi petunjuk di mana ia, sebagai bajak laut, menyimpan harta rampasannya. Banyak orang yang menginginkan peta harta karun itu. Salah satunya adalah Pew si buta. Ia mengancam Billy Bones untuk memberikan petanya.

Sayangnya, Billy Bones keburu meninggal karena kebanyakan minum rum. Jim dan ibunya, yang merasa berhak atas sebagian harta Bones, membuka peti kayunya. Jim juga mengambil peta harta karun yang sangat diinginkan Pew.

Setelah mendapatkan peta harta karun, Jim bersama teman-temannya, yang tentu saja lebih tua, merencanakan pelayaran menuju Pulau Harta Karun. Bersama Dr. Livesey, Hakim Trewlaney, Kapten Smollet, Long John Silver berkaki satu, dan beberapa awak kapal lainnya, Jim Hawkins, seorang anak laki-laki memulai petualangan pertamanya.

Well, meskipun banyak yang mengagumi cerita karya Mr Stevenson ini, aku sendiri sebetulnya tidak terlalu suka. Alasannya sederhana, aku tidak terlalu suka pada petualangan yang berisi pembunuhan dan penuh darah.

Diceritakan di sini, dalam satu kapal, terdapat golongan pemberontak yang menginginkan harta karun itu untuk mereka sendiri. Dan itu sangat bias dipahami. Hanya saja, aku memang bukan tipikal pembaca yang suka dengan kisah pertarungan berdarah-darah.

Mungkin, Treasure Island bisa sangat menarik bagi orang-orang yang merindukan petualangan yang menantang.
[Review ini diikutsertakan dalam Lucky No.14 Reading Challeng katogeri Once Upon a Time]

Resensi Buku: The Alchemist and The Angel


Penerjemah      : Nina Setyowati
Penulis             : Joanna Owen
Penerbit           : Ufuk
Tahun Terbit    : 2010
Halaman          : 356


Jan adalah anak laki-laki yang kehilangan kedua orangtuanya karena wabah pes. Paman Jan, Gustav Grausam, membawanya ke rumahnya di Vienna untuk diasuh. Paman Gustav adalah salah satu alkemis hebat di Vienna. Ia memiliki sebuah ruangan kerja sendiri yang berisi segala macam percobaan alkeminya.

Meskipun Jan tampak selalu bersedih karena kematian orangtuanya, Paman Gustav melihat bakat dalam diri Jan dan mengajak anak lelaki itu untuk menjadi muridnya. Paman Gustav membawa Jan ke dalam Ruang Bawah Tanah Sains-nya yang membuat Jan sangat terkesima. Paman Gustav sedang merencanakan penciptaan makhluk dari akar mandrake untuk kepentingan umat manusia.

Jan merasa sangat antusias dengan itu semua. Ia menjadi sangat bersemangat mempelajari apapun yang diminta oleh pamannya. Ia juga membuat percobaannya sendiri, yaitu ramuan eliksir yang dapat mengobati penyakit dan menghindari kematian.

Sayangnya, saat proses penciptaan akar mandrake mendekati akhir, Paman Gustav ditemukan meninggal. Istrinya, Bibi Greta memutuskan untuk meninggalkan Vienna dan pergi ke Praha agar bisa bertemu Kaisar untuk mengenalkan temuan-temuan suaminya. Jan yang saat itu sedang menggali akar mandrake, hampir saja ditinggal.

Maka Jan pun ikut Bibi Greta ke Praha, sedangkan akar mandrake yang ditanam dulu bersama Paman Gustav hilang entah ke mana. Ketika mereka sampai di Praha, dan menginap di sebuah tempat peristirahatan, Bibi Greta bertemu dengan seorang laki-laki bernama Ignaz Muller, dan menghilang bersamanya.

Jan yang ketakutan karena Bibinya pergi, malah bertemu dengan seorang gadis cantik bernama Zuzana yang setiap hari datang untuk menolong korban wabah pes. Bersama Zuzana, Jan mengunjungi korban-korban wabah pes, yang semakin membuatnya semangat untuk menyempurnakan ramuan eliksir, sambil terus mencari keberadaan Bibi Greta.

Mengambil setting tahun 1583 di Austria, kisah The Alchemist dan The Angel ini merupakan fiksi berlatar sejarah dan dongeng yang menarik. Banyak hal yang aku suka dari novel ini. Pertama, ilustrasi dalam buku yang menggambarkan hal-hal di dalam cerita. Memang tidak semua hal diilustrasikan, tapi cukup banyak untuk ukuran sebuah novel.

Kedua, di dalam cerita, diselipkan berbagai dongeng-dongeng serta kisah rakyat Austria dan sekitarnya, yang berhubungan dengan sihir dan keajaiban. Ketiga, penulis mampu mengemas ceritanya menjadi misterius dan membuat pembacanya penasaran. Terakhir, aku suka hubungan antara Jan dan Zuzana, yang mungkin bisa dibilang romantis, meskipun tidak terlalu gamblang, mengingat novel ini bukan tentang kisah cinta.

Di halaman terakhir, Joanna Owen juga menjelaskan beberapa tokoh di dalam cerita yang terinspirasi dari tokoh nyata. Begitu juga dengan ramuan dan proses-proses menciptakan makhluk yang diambilnya dari literatur-literatur kuno.

Secara bahasa, terjemahannya juga enak dibaca. Finally, it’s a worth book to read.