Resensi Buku: A Wrinkle in Time (Kerutan dalam Waktu)



Penulis             : Madeleine L’Engle
Penerjemah      : Maria M. Lubis
Penerbit           : Atria
Tahun terbit     : Agustus 2010
Halaman          : 267


Meg dianggap anak aneh dan bodoh di sekolahnya. Dia memakai kacamata tebal, kawat gigi, dan rambutnya ikal berantakan, para guru dan teman di sekolah, menilainya nakal dan malas belajar. Meg memiliki dua adik kembar, yang bersikap dan berpenampilan sangat normal, Sandy dan Dennys, serta adik bungsu yang juga dianggap berbeda oleh banyak orang, Charles Wallace.

Ayah dan ibu Meg adalah ilmuwan. Namun sayangnya, Mr. Murry, ayah Meg, hilang entah ke mana saat melakukan penelitian. Tidak ada yang tahu ke mana ia pergi. Gossip yang beredar mengatakan kalau ayah Meg pergi demi mengejar wanita lain. Tapi Mrs. Murry tidak percaya hal itu dan yakin kalau suaminya akan kembali.

Keanehan dirinya dan ayahnya yang menghilang, membuat Meg mudah marah dan kesal. Satu-satunya orang yang sangat mengerti Meg adalah Charles. Charles, anak berumur lima tahun itu, memahami banyak hal yang tidak dipahami oleh anak seusianya.

Di suatu malam badai, rumah mereka kedatangan perempuan aneh bernama Mrs. Whatsit. Dia beserta kedua temannya, Mrs. Who dan Mrs. Which, tinggal di rumah berhantu, dan yang lebih mengejutkan, ternyata Charles sering mengunjungi mereka.

Pada lain malam, Charles mengajak Meg berjalan-jalan keluar, dan mereka bertemu Calvin, anak lelaki kakak kelas Meg di sekolah. Mereka bertiga kembali bertemu tiga perempuan aneh itu. Mrs. Who, Mrs. Which, dan Mrs. Whatsit membawa Meg, Calvin, dan Charles, melintasi dimensi waktu untuk menemukan kembali Mr. Murry yang telah lama hilang. Di sana, Meg tidak hanya harus menyelamatkan sang ayah, tapi juga Charles yang tubuhnya dirasuki sesuatu yang jahat bernama ITU. Sanggupkah Meg melakukannya?

Sepertinya, ini cerita anak teraneh yang pernah aku baca. Genre-nya mungkin antara fantasi dan sains-fiksi. Karena selain menceritakan tentang perpindahan manusia melewati dimensi kelima, juga mengisahkan tentang kehidupan makhluk-makhluk lain, di planet lain, di galaksi lain.

Inti ceritanya adalah bagaimana anak-anak tadi melawan kekuatan jahat yang disebut ITU, yang sudah menguasai planet lain, agar jangan sampai berhasil menguasai bumi. Tapi yang melawan ITU, tidak hanya mereka. Para makhluk-makhluk lain juga melawan dengan apa yang manusia sebut sebagai cinta, kasih sayang, seni, dan sebagainya.

Well, mungkin karena aku kurang suka genre tersebut, maka aku pun juga kurang suka cerita A Wrinkle in Time. Sampai bingung mau mereview-nya kayak gimana.

Satu-satunya hal yang aku suka adalah sikap Calvin kepada Meg, yang so sweet sekali, dan bagian terakhir saat Meg menyelamatkan Charles. Aku juga suka dengan kalimat pertama, dari bagian Apresiasi untuk A Wrinkle in Time dari Anna Quindlen. Bunyinya,

“Buku-buku yang paling melekat dalam kenangan masa kecil kita adalah buku-buku yang membuat kita tidak merasa kesepian, yang meyakinkan kita bahwa kelemahan dan keanehan kita sama individualnya dengan sidik jari dan sama universalnya dengan tangan yang terbuka.”




Komentar

Posting Komentar