Jumat, 28 Maret 2014

Resensi Buku: Delirium



Penulis             : Lauren Oliver
Penerjemah      : Vici Alfanani Purnomo
Penerbit           : Mizan Fantasi
Tahun Terbit    : 2011
Halaman          : 515


Bersiaplah memasuki masa di mana cinta dianggap sebagai sebuah penyakit mematikan. Di mana setiap orang harus melakukan sebuah prosedur untuk melenyapkan penyakit itu dari tubuh mereka dan akan hidup tenang selamanya. Dan Lena Haloway tak sabar menanti waktu prosedurnya tiba.

Selama 17 tahun hidupnya, Lena merasa sedikit takut akan kenyataan kalau selama ini ia masih dialiri penyakit yang disebut amor deliria nervosa. Tapi ia hanya akan bisa melakukan prosedurnya setelah usianya 18. Setelah itu, ia akan kuliah, menikah dengan pasangan yang telah dipasangkan untuknya, dan hidup normal. Tapi kekacauan terjadi saat hari Evaluasi-nya.

Evaluasi adalah semacam ujian lisan, bagi murid-murid yang akan lulus sekolah mereka. Di sana mereka akan ditanya macam-macam, mulai dari hobi hingga warna kesukaan. Hasil Evaluasi itu akan dianalisis dan digunakan untuk mencari pasangan yang cocok dan jurusan kuliah yang akan diikuti.

Sayangnya, tepat saat Lena sedang diuji, segerombolan sapi merangsek masuk ke dalam ruangan dan mengacaukan segalanya. Itulah kali pertama Lena bertemu laki-laki yang menjangkitinya amor deliria nervosa. Laki-laki dengan rambut keemasan seperti daun musim gugur. Laki-laki bernama Alex.

Dengan caranya sendiri, Alex menunjukkan pada Lena, kalau cinta bukan sebuah penyakit yang menjijikan. Kalau cinta bukanlah sesuatu yang buruk untuk dimiliki. Kalau cinta adalah sesuatu yang layak diperjuangkan. Dan untuk pertama kali dalam hidupnya, Lena berharap ia tidak perlu menjalani prosedur penyembuhan itu,

My Review

Ini pertama kalinya aku membaca novel bergenre Young Adult dengan tema Dystopia. Awalnya nggak terlalu tertarik sih untuk beli buku ini. Hanya karena harganya murah aja, jadi beli. Selain itu, pernah juga baca beberapa review tentang Delirium, dan komentarnya bagus-bagus.

Yang aku kagumin dari penulisnya adalah ide tentang cinta yang dianggap sebagai penyakit. Menurutku itu keren. Dan masuk akal. Walaupun aku nggak berharap itu benar-benar terjadi.

Aku juga kisah persahabatan Lena dengan Hana. Teman satu kelasnya. Juga kisah cintanya dengan Alex. Bikin meleleh, hehehe. Dan nggak tahu kenapa, saat membaca novel ini, aku ngebayangin yang jadi Alex itu si Alex Pettyfier.

Gara-gara baca Delirium, aku jadi nggak sabar untuk menemukan Pandemonium.

Oya, satu hal, aku nggak terlalu suka dengan sampulnya. Bukan karena nggak cocok, mengingat memang ada adegan seperti itu di ceritanya. Tapi entah kenapa, di mataku, itu nggak menarik. Huehehe….

Baca juga:

2. Pandemonium
3. Requiem

[Review ini diikutsertakan dalam Lucky No.14 Reading Challenge kategori Chunky Brick]

Rabu, 26 Maret 2014

Resensi Buku: Tetap Saja Kusebut (Dia) Cinta



Penulis             : Tasaro GK
Penerbit           : Qanita
Tahun Terbit    : Mei 2013
Halaman          : 264


Tetap Saja Kusebut (Dia) Cinta adalah sebuah kumpulan cerita. Ada Sembilan cerita tepatnya. Mengangkat tema kehidupan sehari-hari, kalau buku ini permen, maka rasanya seperti nano-nano. Manis asam asin (ramai rasanya!) :P

Ada cerita yang bikin aku merinding seperti di kisah Roman Psikopat. Ada yang bikin aku termehek-mehek seperti di cerita berjudul sama dengan judul bukunya. Ada cerita yang bikin aku ketawa tapi juga kesindir di Bukan Malaikat Rehab dan Tuhan Nggak Pernah Iseng. Ada juga cerita yang bahasanya terlalu tinggi dan aku nggak terlalu ngerti seperti di kisah Galeri. Dan ditutup dengan kisah terakhir yang bikin terenyuh, Kagem Ibuk.

Sebagai salah seorang yang menyukai karya Tasaro, aku merasa ada yang sedikit berbeda dengan beberapa tulisannya di buku ini. Seingatku, di novel-novelnya yang pernah aku baca, tulisannya puitis tapi mudah dimengerti. Namun, di buku ini, ada beberapa cerita yang terlalu puitis sampai-sampai aku nggak paham. Bukan berarti itu jelek. Aku malah merasa, itu adalah tantangan untuk pembaca seperti aku, yang sudah terlena dengan kalimat yang ringan-ringan.

Yang menarik dari buku ini adalah warna di setiap halamannya dan lukisan di setiap babnya. Setiap cerita, memiliki pinggiran warna yang berbeda, juga memiliki lukisan yang berbeda. Seolah ingin memantapkan kesan yang ingin ditimbulkan dari setiap ceritanya. Tapi berhubung aku nggak terlalu mengerti tentang lukisan, jadi ya, biasa saja, hehehe. Lagipula aku sudah terlalu tersihir dengan kata-kata Tasaro kok, huehehe…

Bagiku, buku ini istimewa. Walau membacanya hanya sekali duduk, tapi membuatku termenung-menung beberapa lama dan memikirkan banyak hal. Khususnya berkaitan dengan cerita yang benar-benar ‘menyentil’ diriku. Dan menurutku, buku yang bagus memang seharusnya begitu. Tidak hanya menyenangkan saat dibaca, tapi membuat kita berpikir setelahnya.

Tapi ada lagi yang membuat buku ini istimewa. Buku Tetap Saja Kusebut (Dia) Cinta adalah hadiah ulangtahunku yang ke 21 dari sahabatku, Aziyah Hazrina, September 2013 lalu. Bukan bermaksud menunda-nunda membacanya, hanya saja waktu kuliah, aku memprioritaskan buku perpus untuk lebih dulu dibaca, hehehe. Thanks for the gift Zi!

[Review ini diikutsertakan dalam Lucky No.14 Reading Challenge kategori Freebies Time]



Resensi Buku: Zona Aman Gorazde



Zona Aman Gorazde (Perang di Bosnia Timur 1992-1995)
Penulis             : Joe Sacco
Penerjemah      : Desti J. Basuki dan Ary Nilandari
Penerbit           : Dar! Mizan
Tahun Terbit    : 2010
Halaman          : 227


Pada tahun 1992, terdapat perang di benua Eropa, antara Bosnia dan Serbia. Dua negara yang tadinya sama-sama di bawah kekuasaan Yugoslavia. Aku sendiri, hanya sedikit mengetahui tentang Perang Bosnia-Serbia dari majalah-majalah yang kubaca tidak lama setelah perang itu selesai. Sekitar tahun 1997-1998, saat aku sudah bisa membaca (usiaku saat itu baru 5 tahunan). Namun, dari bacaan yang sekilas itu, Perang Bosnia-Serbia menjadi catatan sendiri dalam ingatanku, dan saat kuliah aku tertarik untuk mengetahuinya lebih dalam.

Buku Zona Aman Gorazde adalah buku pertama tentang Bosnia yang kubaca sampai selesai. Sebelumnya, aku sempat membaca buku Bosnia, A Short History oleh Noel Malcolm, yang kata Joe Sacco, salah satu karya agung ilmu pengetahuan, yang sayangnya belum selesai kubaca.

Aku pertama kali melihat buku ini di book fair Senayan. Waktu melihat judulnya, aku langsung tertarik. Ditambah, lihat bentuk bukunya yang panjang. Dalam hati, wah pasti hurufnya besar-besar nih. Nggak seperti buku sejarah lain yang biasanya hurufnya kecil dan rapat. Apalagi pas lihat harganya. Cuma tujuh ribu! Saking nggak percaya, aku sampai nanya ke pegawai di stand Mizan, untuk memastikan aku nggak salah baca angka. Karena, biasanya buku-buku yang dijual di bawah 10 ribu adalah buku tipis yang berisi tips-tips atau buku bergambar anak-anak.

Sayangnya aku nggak memperhatikan tanda kecil di pojok kanan atas, yang bertuliskan Graphic Novel alias novel bergambar, alias komik. Waktu buka bukunya, sempet agak kecewa juga sih. Soalnya aku nggak terlalu suka dengan bacaan berbentuk komik. Kurang seru aja gitu.

Tapi setelah dipikir-pikir, mungkin ini saatnya aku mencoba bacaan dengan model lain. Bukan hanya baris-baris kalimat seperti biasa. Dan ternyata, bukunya nggak mengecewakan kok.

Buku Zona Aman Gorazde menceritakan kisah penulisnya, Joe Sacco, seorang jurnalis dan kartunis, yang mengunjungi daerah Gorazde pada akhir 1995 dan awal 1996. Bukunya sendiri dibagi menjadi beberapa bagian. Ada yang berdasarkan kejadian atau tokoh yang sengaja diangkat oleh Joe Sacco.
Oya, sebelumnya, Gorazde itu adalah salah satu daerah di Bosnia Timur, yang ditetapkan menjadi zona aman. Sebelum perang pecah, penduduk Gorazde terbagi menjadi dua mayoritas besar, yaitu Muslim Bosnia dan Kristen Serbia, dan mereka hidup berdampingan dengan aman.
Pada malam-malam sebelum serangan Serbia di Bosnia, termasuk juga di Gorazde, penduduk Serbia sudah banyak yang meninggalkan Gorazde dengan bus-bus. Yang tersisa hanya penduduk muslim Bosnia yang tidak lama kemudian dibantai oleh tentara Serbia.

Perang Bosnia-Serbia sendiri, berdasarkan apa yang aku tangkap dari buku ini, berawal dari ketakutan Serbia kalau Muslim Bosnia akan menyingkirkan mereka dan membangun negara Islam di tanah Bosnia. Mereka tidak lagi percaya kalau kedua jenis penduduk itu bisa hidup berdampingan dengan aman seperti dulu. Karena itulah, Serbia merasa harus memusnahkan muslim Bosnia.

Di dalam buku ini, Joe Sacco tidak hanya menceritakan pengalamannya selama berada di Gorazde. Tapi juga menuturkan cerita-cerita dari penduduk setempat yang selamat dari serangan Serbia. Seperti kisah Edin, penerjemah para jurnalis di Gorazde yang juga merangkap sebagai guru matematika, Dokter Alija Begovic dan Nurse Sadija Demir di Rumah Sakit Gorazde, gadis-gadis muda yang bertahan di Gorazde, serta para lelaki yang selamat dari pembantaian Serbia.

Kekejaman perang diceritakan dengan gamblang oleh Joe Sacco di buku ini. Yang membuat aku bener-bener bergidik ngeri dan merasa bersyukur. Bersyukur karena perang itu telah selesai, beryukur karena aku tidak berada di sana, dan bersyukur karena komiknya hitam-putih. Kalau saja komik itu berwarna, mungkin aku tidak akan selesai membacanya.

Mungkin, dari segi pengetahuan sejarah dan politik tentang Bosnia-Serbia, khususnya pada era 90an, buku Zona Aman Gorazde tidak terlalu lengkap. Karena hanya dituliskan sedikit-sedikit saja. Tapi kalau untuk mengetahui sisi kemanusiaan, termasuk perasaan dan harapan rakyat Bosnia, terutama penduduk Gorazde, pada saat perang dan sesaat setelah perdamaian diumumkan, buku ini bisa menjadi referensi yang bagus.

Well, mungkin review ini agak berbeda dengan review-review bukuku yang lain. Karena aku memang bingung bagaimana menulisnya selain dengan cara seperti ini.

[Review ini diikutsertakan dalam Lucky No.14 Reading Challenge kategori Bargain All The Way]


Minggu, 23 Maret 2014

Resensi Buku: The Death to Come



Penulis             : Tyas Palar
Penerbit           : Imania
Tahun Terbit    : 2009
Halaman          : 352


Edward Twickenham, penyihir asal Glamorgan, mendapat undangan dari penyihir lain, Ivar Eidjford yang tinggal di Tanah Hijau, Denmark. Akhir-akhir ini, Ivar sering mendapat Kilasan Masa Depan, dan itu kilassan yang buruk. Ia melihat ‘kematian’ dan kehancuran di mana-mana. Ivar merasa harus menyelidiki apa makna dari kilasan yang dilihatnya, dan ia mendapat informasi kalau Edward adalah salah satu penyihir hebat, yang mungkin bisa membantunya.

Namun, setelah Ivar bercerita tentang Kilasan Masa Depan yang menghantuinya, Edward mengusulkan untuk mencari Merlin saja. Merlin, penyihir besar yang diyakini Edward memiliki kemampuan untuk membaca Kilasan Masa Depan. Masalahnya, tidak ada yang tahu di mana Merlin berada. Bahkan, banyak gossip yang mengabarkan kalau dia sudah mati.

Satu-satunya penyihir yang dianggap bisa mengetahui di mana keberadaan Merlin adalah Junda, si Lithuania Gila. Junda memiliki Cermin yang dapat memberi tahu keberadaan seseorang yang sedang dicari. Sayangnya, Ivar dan Edward tidak tahu dengan pasti di mana tempat tinggal Junda, sehingga tidak memungkinkan bagi mereka untuk menggunakan Jalan Bayang. Sebuah cara pintas bagi penyihir untuk mencapai sebuah tempat yang mereka tuju.

Oleh karena itu, mereka pun melalui perjalanan panjang dari Denmark ke Lithuania untuk menemui Junda. Bertemu dengan Biarawan, Manusia Mungil, Ksatria Teuton, adalah sebagian dari kisah petualangan mereka. Dan saat mereka sampai di tempat Junda, cermin itu ternyata retak. Junda tidak tahu siapa yang melakukannya, mungkin ayam-ayam yang ia pelihara di rumah. Mau tidak mau, mereka harus mencari seseorang yang sanggup memperbaiki Cermin itu.

Dialah Tariq, sang Alkemis dari Persia yang memiliki keahlian memperbaiki barang-barang sihir. Maka, Edward dan Ivar pun kembali melakukan perjalanan. Kali ini mereka bersama Junda dan Cerminnya, menuju Lyon, untuk menemui Tariq. Ternyata, mencari Merlin untuk membaca Kilasan Masa Depan, tidak semudah yang Ivar bayangkan.

Seperti kategori untuk review ini, Blame it on Bloggers, aku mengetahui buku Tyas Palar dari beberapa blog buku. Aku lupa blognya siapa, tapi seingatku salah satunya adalah Blog Fiksi Fantasi Indonesia. Tentu saja, buku ini adalah novel fantasi karya penulis Indonesia.

Berdasarkan beberapa review yang aku baca, komentar untuk buku ini bagus-bagus. Sehingga aku tertarik untuk membeli meskipun keberadaannya agak susah dicari. Dan, apa yang dituliskan di review-review itu memang benar. Buku Tyas Palar ini memang keren!

Aku bukan pencinta berat cerita fantasi dengan tema sihir, tapi aku sangat suka dengan masa lalu (salah satu faktor penyebab susah move on L). Dan buku ini banyak memberi informasi tentang masa lalu, khususnya sejarah sihir dan Abad Pertengahan, lewat catatan kakinya, dan juga dialog tokoh-tokohnya.

Selain itu, aku juga suka dengan karakter tokoh-tokohnya, yang terkadang terasa sangat kocak, hingga membuatku tertawa sendiri. Terutama dua tokoh yang muncul paling awal. Edward yang sangat mencintai kerapian dan kebersihan serta Ivar yang suka masak dan agak ceroboh. Keduanya terasa seperti sepasang sahabat yang saling melengkapi.

Bahasa yang digunakan Tyas Palar pun ringan dan mengalir, sehingga cerita tidak terasa membosankan atau memusingkan. Kehadiran catatan kaki di beberapa bab membantu pembaca memahami istilah atau ungkapan yang diucapkan tokoh dalam cerita.

Satu hal yang aku sayangkan, adalah ilustrasi sampul dan halaman awal di tiap bab. Kok, rasanya kurang seru aja kalau sampulnya kayak gitu. Kalau hanya melihat sampulnya, aku membayangkan cerita tentang penyihir tua yang misterius. Padahal tokoh utamanya, adalah dua penyihir (yang terlihat) muda dan berpenampilan sangat manusiawi. Sedangkan di halaman tiap awal bab, malah dihiasi gambar kartun penyihir tua linglung yang berkacamata dengan jenggot putih panjang dan tongkat sihirnya. Menurut pendapatku sih, kedua hal itu agak mengganggu, dan bisa digantikan dengan ilustrasi yang mungkin lebih tepat dengan ceritanya.

Yah, tapi mengingat aku juga tidak pandai dalam hal ilustrasi, jadi ya sudahlah. Toh, ceritanya sudah sangat menarik bagiku, hingga bisa mengalihkanku dari gangguan kecil pada masalah ilustrasi.

The Death to Come sendiri adalah buku pertama dari Trilogi The Search of Merlin. Buku keduanya berjudul The Grey Labyrinth. Sedangkan buku ketiganya masih menjadi misteri bagiku, karena aku nggak tahu judulnya, dan apakah buku itu sudah diterbitkan atau belum. ^^

[Review ini diikutsertakan dalam Lucky No.14 Reading Challenge kategori Blame it on Bloggers]