Rabu, 23 April 2014

Resensi Buku: Dear Enemy



Penulis             : Jean Webster
Penerjemah      : Ferry Halim
Penerbit           : Atria
Tahun terbit     : Juli 2010
Halaman          : 380


Setelah cerita tentang Judy Abbot dan misteri Daddy-Long-Legs-nya, giliran sahabat Judy, Sallie McBride yang berurusan dengan Panti Asuhan John Grier. Sallie adalah teman sekamar Judy saat kuliah dulu. Setelah lulus, Sallie menghabiskan hidupnya dengan bersantai dan berpacaran dengan pria muda anggota Dewan Perwakilan Rakyat bernama Gordon Hallock.

Di saat yang sama, Judy telah menikah dengan Jervis Pendleton dan hidup bahagia bersama suaminya. Judy memiliki sebuah tugas khusus untuk Sallie, yaitu mengurus panti asuhan yang dulu ditinggalinya, daripada menghabiskan waktu dengan berhura-hura.

Pada awalnya Sallie menolah mentah-mentah ide tersebut. Hanya karena itu permintaan dari sahabatnya sajalah yang akhirnya membuat dia tetap melangkahkan kaki ke Panti Asuhan John Grier. Tapi itu pun dengan tekad bahwa ia tidak akan berada lama di sana, dan Judy harus segera menemukan seorang yang lebih layak untuk menjadi pengurus panti.

Namun, apa yang dilihat Sallie di Panti Asuhan John Grier sedikit banyak mengusik dirinya. Ia yang sejak kecil tinggal di keluarga yang lengkap dan berkecukupan, tidak tahan melihat betapa buruknya tempat tinggal 113 anak yatim piatu di panti itu. Maka Sallie pun mengubah rencananya. Ia berniat untuk melakukan perubahan pada Panti Asuhan John Grier, baru kemudian pergi meninggalkannya.

Sayangnya, rencana tersebut tidaklah semudah yang ia pikirkan. Banyak hal yang harus Sallie hadapi di Panti Asuhan John Grier. Mulai dari fasilitas panti yang buruk, anak-anak nakal yang haus perhatian, pengasuh panti yang menyebalkan, serta dokter Skotlandia yang kaku dan pemarah.

Sama seperti pendahulunya, novel Dear Enemy adalah cerita yang terdiri dari kumpulan surat-surat Sallie selama ia tinggal di Panti Asuhan John Grier. Surat paling banyak, tentu saja, ditulis untuk sahabatnya, Judy Abbot. Beberapa surat ditulis untuk kekasihnya, Gordon, dan musuhnya, Dr Robin McRae yang ia juluki “Enemy”.

Tokoh Sallie kali ini, sedikit berbeda dengan Judy. Aku pernah bilang kalau tokoh Judy seru, maka tokoh Sallie jauh lebih seru. Di surat-surat pertamanya, ia menumpahkan semua pikirannya, seolah sedang bicara dengan begitu cepat. Tulisannya melompat-lompat, dari satu tema ke tema lainnya. Dan kadang, lebih tidak bisa menahan emosi dibanding Judy. Orang seperti Sallie adalah sosok yang butuh sesuatu yang mengusik hati nuraninya dan menyibukkan pikirannya untuk berpikir maju dan melakukan hal berguna.

Selain karakter kuat Sallie, peritstiwa-peristiwa yang terjadi di Panti Asuhan John Grier membuat novel Dear Enemy ini menjadi semakin menarik. Beberapa bagian, bahkan membuatku terharu dan meneteskan air mata.
Aku tahu, novel ini memang bercerita dari sudut pandang Sallie. Tapi karena begitu banyaknya surat dari Sallie untuk Judy, dan juga karena sebelumnya aku membaca cerita dari sudut pandang Judy, maka aku berharap ada satu saja surat balasan dari Judy yang ditampilkan di buku itu. 

[Review ini diikutsertakan dalam Lucky No.14 Reading Challenge kategori Once Upon a Time]

Selasa, 15 April 2014

Resensi Buku: Daddy-Long-Legs



Penulis             : Jean Webster
Penerjemah      : Ferry Halim
Penerbit           : Atria
Tahun Terbit    : Februari 2010
Halaman          : 235


Jerusha Abbot, atau lebih suka dipanggil Judy, tidak pernah mengira akan meninggalkan Panti Asuhan John Grier dan berkuliah di kampus. Di usianya yang sudah menginjak 17 tahun, ia sudah terlalu tua untuk terus tinggal di panti asuhan. Dan tanpa disangka-sangka, salah satu Dewan Pengawas panti asuhan memberikan beasiswa kepada Judy agar ia bisa bersekolah.

Judy tidak boleh tahu siapa laki-laki baik hati itu. Mrs. Lippet, pengurus panti asuhan tidak mengizinkan Judy bertanya siapa nama aslinya, dia hanya memberi tahu kalau laki-laki itu bisa dipanggil Mr. Smith.

Karena telah diberi beasiswa oleh Mr. Smith, Judy mendapat sebuah tugas sebagai bayaran dari bantuan yang ia terima. Judy harus mengirim surat kepada Mr. Smith mengenai kegiatannya di kampus. Demi menjaga kerahasiaan jati dirinya, surat-surat harus dialamatkan kepada sekretaris Mr. Smith dan jangan harap pria itu akan membalasnya.

Meskipun merasa sangat senang, Judy juga penasaran dengan pria baik hati yang menolongnya. Apalagi ia hanya sempat melihat sekilas punggung Mr. Smith dari ruangan Mrs. Lippet. Karena dalam penglihatannya Mr. Smith terlihat memiliki tungkai kaki yang sangat panjang, akhirnya Judy memutuskan untuk menjuluki pria itu Daddy-Long-Legs, seperti nama laba-laba berkaki panjang. Dan akhirnya, Judy lebih suka memanggil dengan sebutan Daddy-Long-Legs dalam surat-suratnya.

Menurutku, cerita Daddy Long Legs ini seru, walaupun sedikit di luar ekspektasi. Tanpa membaca blurb di sampul belakang buku, aku berpikir kalau cerita ini tentang anak-anak. Ternyata bukan, meskipun cerita ini tetap cocok dibaca untuk anak. Dan dari cerita inilah aku paham bedanya ‘buku anak-anak’ dan ‘buku untuk anak-anak’.

Buku ini bisa dibilang curhatannya Judy mengenai kehidupannya sebagai mahasiswa di kampus. Bikin aku kangen sama serunya masa-masa kuliah, hehehe. Judy sendiri memiliki karakter yang apa yah, aku bilangnya sih seru. Dia anaknya berani berbeda pendapat, berani menentang, apa adanya, suka mencoba hal baru, mudah panas juga, tapi berani mengakui kesalahan. Sifat-sifat itulah yang bikin buku ini jadi seru dan menarik.

Sedangkan untuk kemisteriusan si Daddy Long Legs ini, sebenernya udah bisa ketebak siapa orangnya, di pertengahan cerita. Dan makin meyakinkan aja seiring dengan berjalannya cerita. Dan di akhir, tebakan aku bener. Jadi, nggak ada kejutan ataupun twist yang bikin shock.

Baca buku ini bikin aku ngebayangin kayak apa ya serunya menulis surat untuk seseorang yang isinya menceritakan kehidupan kita. Pasti seru banget! Seperti kata Judy, walaupun dia hidup sebatang kara, tapi dia merasa memiliki seseorang karena surat-surat yang ia tulis.

[Review ini diikutsertakan dalam Lucky No.14 Reading Challenge kategori Once Upon a Time]

Resensi Buku: The Grey Labyrinth



Penulis             : Tyas Palar
Penerbit           : Imania
Tahun Terbit    : 2011
Halaman          : 265

Kembali lagi pada kisah penyihir Glamorgan, Edward Twickenham, setelah 400 tahun sejak kisah pertama, The Death to Come. Diawali dengan kisah Edward dan muridnya, William Gray. William datang untuk memberitahu kalau Gaspar Deacroix ingin bertemu dengan Edward di Pegunungan Pyrennes tempat para penyihir Basque tinggal. William juga memberi tahu tentang buku yang dicuri Gaspar dan kini berada di tangan William.

Di tempat lain, Lisabon, 5 tahun sebelumnya, sekolompok penyihir mengendap-ngendap untuk mencuri beberapa benda dari gedung penyimpanan senjata Kerajaan Portugal. Kelompok itu dipimpin oleh penyihir dari Genoa, Vespaccio, beranggotakan Natasha Smolensk yang memiliki keahlian memindahkan benda-benda dan Nuno Riberio yang mampu memperbaiki benda-benda.

Selain dua potong kisah tersebut, ada potongan-potongan cerita lain, yang jika intinya adalah menceritakan usaha sekelompok penyihir untuk mencegah terjadinya peperangan dan wabah di dunia. Sedangkan di sisi lain, Dewan Penyihir, yang dianggap sebagai pemimpin para penyihir di dunia, telah melarang para penyihir ikut campur urusan manusia, dan membiarkan manusia menyelesaikan sendiri masalah mereka. Namun, sebagian penyihir itu merasa tidak tahan dengan peraturan itu karena kasihan dengan manusia yang terkena wabah atau dijajah bangsa lain.

Untuk novel kedua ini, bagian Edward memang tidak sebanyak buku pertama. Begitu juga dengan persahabatannya dengan penyihir dari Denmark, Ivar Eidfjord. Padahal itu salah satu faktor yang bikin aku suka sama karya Tyas Palar yang satu ini.

Di buku kedua, cerita dijalin dengan potongan-potongan kejadian yang berpindah tempat bahkan berganti tahun. Ini menjadi tantangan sendiri buat aku, karena aku orangnya suka lost track sama tahun kejadian, dan akhirnya bikin aku butuh waktu lama untuk bener-bener paham sama cerita ini.

Kalau dibandingin dengan buku pertama, jujur saja, aku lebih suka yang pertama. Selain karena dialog antara Edward dan Ivar yang jauh lebih banyak dan bikin ketawa, juga adanya catatan kaki yang membahas tentang sejarah sihir dan sebagainya. Sedangkan di buku kedua, tidak ada lagi catatan kaki. Tokoh Ivar masih muncul, tapi kekocakannya hanya muncul sedikit.

Sedangkan untuk ilustrasi, baik sampul maupun isi, lebih bagus buku yang kedua. Gambar penyihir tua berjanggut dengan tongkat bintang yang muncul di tiap awal bab menghilang dan digantikan dengan semacam ukiran yang mirip sayap burung. Sampul depannya juga kelihatan lebih oke dibanding buku pertama. Selain itu, warna kertasnya, lebih terang, sehingga lebih nyaman untuk mata aku.

Mengenai judul buku ketiga yang kemarin masih jadi misteri untuk aku, ternyata ada di halaman terakhir buku kedua. Judulnya “The Age of Misrule”. Yah, kita tunggu saja. Mudah-mudahan segera terbit.

[Review ini diikutsertakan dalam Lucky No.14 Reading Challenge kategori Blame it on Bloggers]

Selasa, 01 April 2014

Resensi Buku: Sapta Siaga, Rahasia Jejak Bundar


Penulis             : Enid Blyton
Penerjemah      : Agus Setiadi
Penerbit           : Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit     : Cetakan Keempat, September 1982
Halaman          : 95
 

Mulanya, Sapta Siaga hanya bermain orang Indian di Hutan Semak. Semua anak berpura-pura menjadi orang Indian dengan muka dicoreng, kecuali Colin. Colin harus bersembunyi agar jangan sampai ditangkap oleh teman-temannya.

Tidak disangka, ketika sedang mengendap-ngendap mencari Colin, Peter berpapasan dengan seorang pria yang terengah-engah. Peter hanya melihatnya sebentar, karena pria itu langsung pergi menghilang. Ia sendiri agak heran mengapa ada pria di Hutan Semak.

Selain Peter, Colin pun melihat pria itu. Colin yang bersembunyi di atas pohon, melihat pria itu memanjat tembok tinggi Milton Manor, sebuah rumah besar di dekat Hutan Semak. Setelah berpapasan dengan Peter, pria itu bersembunyi di pohon yang sama dengan Colin. Untunglah, ia tidak naik terlalu tinggi, kalau tidak, keberadaan Colin pasti sudah diketahuinya.
Permainan Indian berlangsung cukup lama. Namun Colin belum juga ditemukan oleh teman-temannya. 

Bahkan meskipun mereka berteriak-teriak dan mengatakan kalau permainan sudah usai. Colin tentu saja tidak berani turun atau menyahut, jika pria itu masih ada di bawahnya. Pria itu baru pergi ketika Sapta Siaga meninggalkan Hutan Semak. Setelah dia pergi, barulah Colin turun dan menyusul teman-temannya.

Di gudang Sapta Siaga, Colin menceritakan pengalamannya kepada yang lain. Peter merasa kehadiran lelaki itu sangat ganjil, dan bisa menjadi petualangan yang menarik jika mereka selidiki. Sayangnya, mereka tidak memiliki informasi lain mengenai pria itu.

Sampai ketika malam, radio menyiarkan berita hilangnya kalung mutiara milik Lady Lucy, pemiliki Milton Manor. Peter dan anggota Sapta Siaga lainnya yakin sekali kalau lelaki itu pasti pencurinya. Tapi bagaimana mereka menemukannya? Peter hanya melihat wajahnya sekilas dan Colin hanya melihat kepala serta ubun-ubunnya. Sedangkan jejak-jejak yang ditinggalkan si pencuri di Milton Manor cukup sulit untuk diungkap.

Dibanding yang pertama, petualangan Sapta Siaga kali ini cukup rumit. Berkali-kali mereka menemukan jejak yang mengacu ke si pencuri, namun berkali-kali juga mereka salah menyimpulkan. Meski terkadang kesal dan putus asa, ketujuh anak itu tetap berusaha mencari tahu siapa pencuri kalung mutiara tersebut.

[Review ini diikuterstakan dalam Lucky No.14 Reading Challenge kategori Favorite Author]