Selasa, 11 Agustus 2015

Resensi Buku: The Postmistress



Penulis             : Sarah Blake
Penerjemah      : Meggy Soejatmiko
Penerbit           : Elex Media Computindo
Tahun Terbit     : 2012
Halaman          : 588


Letters of love, telegrams of loss - the postmistress awaits them all. The wireless crackles with news of blitzed-out London and of the war that courses through Europe, leaving destruction in its wake. Listening intently on the other side of the Atlantic, newly-wed Emma considers the fragility of her peaceful married life as America edges closer to the brink of war. As the reporter's distant voice fills the room, she sits convincing herself that the sleepy town of Franklin must be far beyond the war's reach. But the life of American journalist Frankie, whose voice seems so remote, will soon be deeply entangled with her own. With the delivery of a letter into the hands of postmistress Iris, the fates of these three women become irrevocably linked. But while it remains unopened, can Iris keep its truth at bay?

The Postmistress bercerita tentang kehidupan tiga wanita Amerika di tahun 1940an. Frankie Bard, Iris James, dan Emma Fitch. Bisa dikatakan, ketiganya terhubung oleh berita dan perang.

Frankie, seorang reporter sekaligus penyiar radio CBS. Iris, seorang kepala kantor pos wanita yang tetap melajang di usianya yang sudah 40 tahun. Dan Emma, wanita muda, pengantin baru, istri seorang dokter di Franklin, Will Fitch.

Well, novelnya cukup panjang dan butuh usaha lebih untuk menyelesaikannya. Saking panjangnya, saya sampai bingung meresensinya, hahaha…

Intinya, ketiga perempuan ini memiliki masalah dan kehidupannya masing-masing. Sayangnya, penceritaan tentang kehidupan mereka terlalu panjang, detil, dan yah, mungkin beberapa ada yang tidak terlalu penting. Sampai hampir setengah buku, saya belum berada di bagian Frankie, Iris, dan Emma tersambung, kecuali lewat cerita kalau Emma suka mendengar siaran Frankie dan tergugah dengan pemberitaan mengenai perang yang dibacakannya, dan Iris yang tinggal satu kota dengan Emma, namun jarang bercakap-cakap dengannya.

Menurut saya, gaya penceritaan Blake cukup bagus. Bagaimana dia mendeskripsikan tempat, kejadian, dan perasaan tokoh-tokohnya, lengkap dan rinci. Sayangnya, selama membaca, saya merasa tidak mendapat konfliknya. Tidak ada sesuatu yang membuat saya penasaran untuk terus membalik halaman selanjutnya.

Satu-satunya hal yang membuat saya tetap membacanya sampai habis adalah karena latarnya yang mengambil masa Perang Dunia II. Hal yang sejak dulu menarik hati saya. Saya baru benar-benar tertarik setelah cerita sampai di bagian Frankie bergerak dari London ke Paris untuk mengumpulkan berita, serta Will Fitch yang memutuskan pergi ke London.

Walaupun ceritanya panjang dan kurang mendebarkan, saya cukup menikmati petualangan Frankie dalam meliput perang. Membayangkan seperti apa rasanya menjadi jurnalis radio pada zaman itu, di mana alat perekam masih sebegitu besar dan beratnya, sehingga repot dibawa-bawa. Juga membayangkan rasanya menjadi keluarga-keluarga yang tinggal pada masa perang, di mana keamanan dan kenyamanan seolah-olah lenyap begitu saja.

Dari ketiga tokoh wanita tersebut, saya memang paling menyukai Frankie. Masalah yang dia alami adalah pergulatan batin antara ingin memberitakan kondisi perang dengan sejujurnya agar menggugah perasaan pendengar, namun harus tetap subyektif dan tidak terlalu emosional.

Di halaman belakang, penulis bercerita tentang bagaimana dia mendapat ide cerita The Postmistress dan riset-riset yang dilakukannya. Saya salut dengan riset yang beliau lakukan, dan akhirnya paham kenapa tulisannya bisa sedetil dan serinci itu.

Oya, saya juga suka dengan desain sampul pilhan penerbit, yang terkesan kalem dan sederhana dalam balutan warna ungu muda dan ilustrasi sebuah kotak pos dan setangkai bunga layu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar