Selasa, 27 Oktober 2015

Resensi Buku: The Perks of Being Wallflower




Penulis             : Stephen Chbosky
Penerbit           : Pocket Books, Simon and Schuster Inc.
Tahun Terbit    : 1999

Saya baru membaca novel The Perks of Being Wallflower, dan rasa-rasanya, saya akan menulis resensinya dengan gaya yang berbeda dari resensi-resensi saya sebelumnya.

Cerita dibuka dengan surat pertama dari Charlie di bulan Agustus tahun 1991 untuk seorang teman. Charlie tidak menjelaskan siapa teman tersebut. Yang Charlie inginkan hanyalah seseorang yang dapat mengerti dirinya dan mau mendengarkan kisah hidupnya, dan ia pikir menulis surat dapat membantu Charlie mengatasi masalah tersebut.

Surat pertama berkisah tentang kematian sahabat Charlie, Michael Dobson, karena bunuh diri. Mendengar kabar tersebut, Charlie terus menangis. Setelah kejadian itu, Charlie memiliki kunjungan tetap dengan seorang konselor. 

Surat-surat selanjutnya berisi keseharian hidup Charlie di rumah dan di sekolah. Di rumah, ia adalah anak bungsu dari tiga bersaudara. Charlie memiliki kakak laki-laki dan kakak perempuan. Di sekolah, Charlie baru saja memulai tahun barunya di SMA dan begitu khawatir, apakah dia akan memiliki teman atau tidak. 

Charlie adalah tipikal anak yang pendiam, introvert, dan kikuk. Beberapa temannya memandang dia aneh. Namun sebenarnya dia adalah anak yang cerdas dan suka memperhatikan segala sesuatu dengan lebih dalam. 

Dulu, Charlie sangat dekat dengan saudara ibunya, yang ia panggil Aunt Helen. Aunt Helen meninggal karena kecelakaan saat ia hendak pergi membeli kado untuk Charlie. Karena kejadian itu, Charlie selalu dihantui perasaan bersalah dan juga kerinduan terhadap bibinya.

Di sekolah, Charlie akhirnya mendapat teman saat menonton pertandingan bola. Mereka adalah Patrick dan Sam, sepasang saudara tiri yang juga senior Charlie di sekolah. Merekalah yang mengenalkan Charlie pada beberapa senior lainnya, juga pada pesta dan kegiatan ala remaja SMA.

Agak sulit menulis resensi The Perks of Being Wallflower. Rasanya banyak yang ingin saya ceritakan. Tapi di sisi lain, saya tidak tahu bagaimana harus menceritakannya. Yang jelas, pada awal saya membaca novel ini, saya merasa cukup bosan. Entahlah, mungkin karena saya belum terlalu mengenal sosok Charlie. Lama-kelamaan, saya mulai terbawa masuk ke dalam kehidupan Charlie. Mengetahui apa yang dia lihat, apa yang dia lakukan, apa yang dia rasa. 

Charlie mengalami masalah kejiwaan. Terbukti dengan ceritanya yang memiliki pertemuan dengan konselor dan psikatris, serta harus mengonsumsi obat-obatan tertentu. Kadang-kadang, dia juga mengalami serangan panik atau kesedihan yang terus menerus. Orang tua Charlie cukup perhatian dengan kondisi anak bungsu mereka. Kalau dari surat-suratnya, Charlie memiliki keluarga yang baik dan hangat.

Membaca surat-surat Charlie, entah kenapa, lama-lama ikut membuat saya depresi juga. Rasanya seperti mulai berpikir dengan cara yang sama seperti Charlie. Yang saya sukai dari cerita ini adalah keluarga dan teman-teman dekat Charlie yang suportif. Bahkan guru bahasa Inggris-nya, Bill, menganggapnya istimewa dan selalu meminjaminya berbagai buku.

Entah kenapa saya tidak terlalu suka hubungan Charlie dengan Sam. Bagi saya Sam kelihatannya jahat dan egois, hehehe. Saya lebih suka hubungan Charlie dengan kedua kakaknya, terutama kakak perempuannya. Kakak perempuannya ini tidak terlalu akrab dengan Charlie, tapi pada suatu kejadian, hanya Charlie-lah yang dia percaya untuk membantunya. Kejadiannya apa, silakan baca sendiri ya…

The Perks of Being Wallflower sudah pernah difilmkan di tahun 2012. Tokoh Charlie diperankan oleh Logan Lerman, Sam diperankan oleh Emma Watson, dan Patrick diperankan oleh Ezra Miller. Saya menonton film itu tidak lama setelah filmnya rilis, dan sudah lupa dengan detil cerita di dalamnya. Yang jelas, pasti ada yang berbeda antara di buku dan di film, meskipun yang menulis novel dan script filmnya sama-sama Stephen Chbosky.


Ketika membaca bukunya, saya merasa Logan Lerman kurang terlihat depresi untuk menjadi Charlie. Atau mungkin di novel, pembaca benar-benar diajak masuk ke dalam pikirannya Charlie tanpa terlalu tahu seperti apa Charlie di permukaan. Sehingga akting Logan Lerman tidak sepenuhnya salah juga. 

Ketika saya selesai membaca seluruh surat Charlie, barulah saya mengerti mengapa banyak orang memuji novel The Perks of Being Wallflower ini. Cerita tentang Charlie sangat rumit dan complicated, tapi realistis. Bagaimana Chbosky menggambarkan sosok Charlie lewat surat-suratnya benar-benar apik dan mendalam. Seperti yang sejak tadi saya bilang, pembaca jadi ikut terbawa pada perasaan, pemikiran, dan kehidupan Charlie. 

Sejak saya mengenal Charlie, saya jadi ingin mencoba melihat sesuatu tidak hanya dari permukaannya saja, tapi juga dari di dalamnya. Dan kalau Charlie benar-benar ada, saya ingin bilang padanya, kalau segalanya akan baik-baik saja.

Jumat, 16 Oktober 2015

Resensi Buku: The Marvelous Land of Oz



Penulis             : L. Frank Baum
Penerjemah      : Justine Tedjakusuma
Penyunting       : Ida Wajdi
Penerbit           : Atria
Tahun terbit      : Januari 2012
Halaman          : 234





Tip adalah anak lelaki yang tinggal di negeri Oz. selama ini ia diasuh oleh Mombi, penyihir tua yang jahat dan licik. Suatu hari, Tip membuat orang-orangan dari buah labu untuk menakuti Mombi. Namun ternyata, Mombi malah menaburkan bubuk ajaib pada manusia labu sehingga dia bisa hidup. Karena takut dihukum Mombi karena ketahuan ingin menjailinya, Tip memutuskan untuk kabur dari rumah bersama manusia labu buatannya yang diberi nama Jack.

Tip dan Jack berjalan hingga sampai ke Kota Zamrud yang dipimpin oleh Yang Mulia Boneka Jerami. Sayangnya, saat mereka berdua di sana, tahta kerajaan Boneka Jerami ingin digulingkan oleh para gadis yang dipimpin oleh Jenderal Jinjur. Mereka bertiga pun kabur dari Kota Zamrud untuk meminta pertolongan dari sahabatnya, Tin Woodman yang memimpin kota Winkies.

Petualangan Tip terus berlanjut. Setelah bertemu Tin Woodman, mereka berjalan lagi untuk meminta bantuan Glinda, si penyihir hebat dan bijaksana. Mereka berharap bisa menyingkirkan Jenderal Jinjur dan para gadis yang telah menguasai istana, dan mengembalikan tahta kerajaan kota Zamrud ke pihak yang seharusnya. Bersama teman-teman uniknya, Tip berusaha mengalahkan Jenderal Jinjur dan Mombi serta menemukan pemilik asli tahta kerjaan Kota Zamrud.

The Marvelous Land of Oz adalah serial lanjutan dari The Wonderful Wizard of Oz. hanya saja, kali ini petualangannya milik Tip, bukan Dorothy dari Kansas. Tokoh-tokoh yang muncul lagi adalah Boneka Jerami dan Tin Woodman. 

Saya belum pernah membaca The Wonderful Wizard of Oz, tapi saya pernah menonton filmnya waktu masih kecil. Saya masih cukup ingat ceritanya dan itu cukup membantu saya memahami kisah di The Marvelous Land of Oz. meskipun, bagi yang sama sekali belum mengetahui cerita The Wonderful Wizard of Oz, masih bisa mengikuti kisah di buku ini.

Cerita petualangannya seru. Terutama karena Tip dikelilingi makhluk-makhluk aneh, yang kebanyakan benda mati dan dengan keajaiban bisa hidup seperti manusia. Setiap tokoh memiliki karakternya sendiri. Seperti Jack si Manusia Labu yang selalu berpikir tentang keutuhan kepala labunya namun tetap menurut pada Tip yang dianggapnya seperti ayah. Boneka Jerami yang bijak, Kuda Kayu yang merasa dirinya tak memiliki apa-apa untuk disombongkan, Woogle-Bug yang amat bangga dengan pendidikannya, dan Tin Woodman, yang meskipun manusia kaleng, namun memiliki hati yang peka dan peduli.

Saya menemukan banyak sentilan-sentilan di kisah ini, yang mungkin kalau dibaca oleh anak-anak, nggak akan terasa seperti sentilan. Tapi kalau dibaca oleh orang dewasa, pasti terasa. Di kisah ini, Frank Baum menyindir berbagai sifat manusia dengan gaya yang polos dan lucu.

Rasanya menyenangkan bertualang bersama Tip dan kawan-kawan di negeri Oz. dan akhir kisahnya ternyata di luar perkiraan saya. 

Diterjemahkan dengan baik oleh penerbit Atria dan dihiasi dengan ilustrasi yang menarik, saya rasa buku ini layak menjadi koleksi literature klasik anak. :)

Ini dia, bagian yang paling saya suka dari The Marvelous Land of Oz




“Ya, aku memang kaya,” kata Boneka Jerami. “Namun aku tidak kaya karena tubuhku dipenuhi uang. Aku rasa otakku lebih berharga daripada uang. Sebab bila seseorang punya banyak uang, namun berotak dungu, dia tak akan bisa menggunakan apa yang dia miliki untuk mendapat keuntungan lebih. Namun jika kita punya otak yang cerdas, meski tak punya uang, kita bisa menemukan cara untuk hidup dengan sejahtera selamanya.”

“Tapi kau juga harus mengakui bahwa hati yang mulia adalah sesuatu yang tak bisa diciptakan meski kau berotak cerdas. Bahkan uang pun tak mampu membelinya,” kata Tin Woodman. “Karena itu, mungkin aku justru adalah orang terkaya di dunia.”

“Kita semua ini kaya, Teman,” lata Ozma dengan lembut. “Kita kaya sebab kita mensyukuri kelebihan yang kita miliki. Dan itulah yang terpenting di dunia ini!”