Selasa, 02 Februari 2016

Resensi Buku: Looking for Alaska



Penulis              : John Green
Penerjemah       : Barokah Ruziati dan Sekar Wulandari
Penerbit            : Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit       : Cetakan ketiga, September 2014


Miles Halter. Seorang cowok remaja biasa-biasa saja, hafal banyak kata-kata terakhir tokoh terkenal dan  tak punya teman dekat. Berniat meninggalkan rumahnya di Florida untuk sekolah asrama di Culver Creek, Alabama karena ingin mencari ‘Kemungkinan Besar’nya.

Di Culver Creek, Miles tinggal sekamar dengan Chip Martin yang lebih sering dipanggil Kolonel. Miles sendiri mendapat nama panggilan, Pudge, dan akhirnya lebih sering dipanggil dengan nama itu ketimbang nama aslinya. Lewat Kolonel, Miles berkenalan dengan Takumi, seorang cowok Jepang, dan Alaska, cewek cantik yang terlihat serampangan namun seksi dan pintar.

Hari-hari mereka di Culver Creek diisi dengan (tentu saja) belajar, merokok diam-diam, minum alkohol diam-diam, melakukan kejailan, dijaili, dan membalas kejailan. Perlahan tapi pasti, Miles makin mengenal sahabat-sahabatnya, dan diam-diam mencintai Alaska, yang sikapnya impulsif dan tak bisa ditebak.

Pada suatu hari, Alaska menghilang begitu saja dalam kehidupan mereka, tanpa meninggalkan pesan apa-apa. Apa yang sebenarnya terjadi pada Alaska?

Ini kali ketiga aku membaca karya John Green, setelah The Fault in Our Stars dan Will Grayson,Will Grayson. Entahlah, walaupun sebenarnya aku tidak terlalu memfavoritkan John Green, tapi ada rasa penasaran untuk membaca karya-karyanya yang lain.

Looking for Alaska, jika melihat copyright-nya, diterbitkan tahun 2005. Berarti lebih dulu dibanding The Fault in Our Stars. Dalam kisahnya kali ini, John Green menceritakan kehidupan anak SMA yang bersekolah di asrama. (Hmmmm… jadi kangen hk, hehehe)

Ceritanya dibagi menjadi dua bagian. Sebelum dan Sesudah Alaska pergi. Sepanjang membaca bagian Sebelum, aku terus bertanya-tanya, ‘Apa sih yang akan dilakukan Alaska?’ Dan ketika sampai di bagian Sesudah, aku cuma bergumam, ‘Oh ini’.

Kalau dari segi cerita, menurutku Looking for Alaska tergolong biasa-biasa saja. Nggak ada sesuatu yang membuatku merasa terguncang, sedih, kaget, atau apa. Memang sih, kalau dari segi penceritaan, gaya John Green ini enak, mengalir, dan tidak membosankan. 

Aku sendiri tidak terlalu simpati pada Miles maupun Alaska, yang menjadi tokoh sentral di cerita ini. Entah mengapa aku nggak terlalu suka pada Alaska, yang aneh dan nggak jelas itu. Miles kadang-kadang lucu, tapi aku nggak terlalu suka karena dia mudah ikut-ikutan. Aku lebih suka dengan Chip/Kolonel. Dia galak, tapi punya pendirian, setia kawan, berani, dan memiliki mimpi-mimpinya sendiri. Sedangkan Takumi, dia yang paling pendiam di antara mereka berempat, dan hanya mengikuti rencana-rencana Kolonel dan Alaska tanpa banyak suara.

Salah satu hal yang menjadi pertanyaan besar di dalam novel ini adalah kata-kata terakhir Simon Bolivar, “Bagaimana caraku keluar dari labirin ini!” Miles dan Alaska berusaha mencari tahu apa yang dimaksud labirin oleh Bolivar. Apakah itu kehidupan? Kematian? Penderitaan? atau yang lain?

Sedangkan niat Miles pergi mencari Kemungkinan Besar terinspirasi dari kata-kata terakhir Francois Rabelais, “Aku pergi mencari Kemungkinan Besar.”

Ini yang dikatakan Miles,

“Jadi pria ini,” kataku berdiri di ambang pintu ruang tamu, “Francois Rabelais. Dia penyair. Dan kata-kata terakhirnya adalah ‘Aku pergi untuk mencari Kemungkinan Besar’. Itulah alasanku pergi. Agar aku tak harus menunggu sampai mati untuk mulai mencari Kemungkinan Besar.”


Aku juga suka kata-kata Alaska di bagian ini

“Ya Tuhan, aku tak ingin jadi orang yang hanya duduk-duduk sambil mengoceh tentang apa yang ingin dia lakukan. Aku akan langsung melakukannya. Membayangkan masa depan sama saja seperti bernostalgia. Kau menghabiskan seumur hidupmu terperangkap dalam labirin, berpikir tentang bagaimana suatu hari nanti kau akan keluar dari sana, dan betapa hebatnya saat itu terjadi. Membayangkan masa depan membuatmu bertahan hidup, tapi kau tak pernah melakukannya. Kau hanya menggunakan masa depan untuk menghindari masa sekarang.”
 

Terakhir, kutipan favoritku dari Miles.


“Menurutku, manusia menginginkan jaminan. Mereka tak sanggup membayangkan bahwa kematian hanya berwujud kehampaan besar dan gelap, tak sanggup membayangkan orang-orang terkasih tiada, dan bahkan tak sanggup membayangkan diri mereka sendiri tiada. Aku akhirnya memutuskan manusia memercayai kehidupan setelah kematian karena tak sanggup berbuat sebaliknya.”





Tidak ada komentar:

Posting Komentar