Jumat, 29 April 2016

Merindu Cahaya de Amstel



Penulis             : Arumi E.
Editor              : Donna Widjajanto
Penerbit           : Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit    : 2015
Halaman          : 271


 Suatu senja yang cerah, Nicolaas Van Dijk sedang berjalan-jalan untuk mencari subjek foto yang menarik. Ia memilih Museumplein, sebuah taman yang ramai yang dirasanya cocok untuk mendapat gambar yang bagus. Tanpa sengaja, kameranya menangkap sosok seorang gadis berkerudung yang asyik membaca buku. Saat Nico melihat hasil foto gadis tersebut, ia melihat semburat cahaya di sekitar  tubuh si gadis. Padahal foto itu masih asli, belum diedit sama sekali.

Nico penasaran? Tidak mungkin gadis itu jelmaan sosok malaikat. Tetapi mengapa ada cahaya di sekitarnya? Dan setelah diperhatikan dengan lebih jelas, wajah gadis itu tak seperti wajah-wajah perempuan berhijab yang sering Nico lihat, yang kebanyakan berasal dari Turki, Maroko, atau Pakistan. Wajah gadis itu seperti wajah-wajah orang Eropa, yang tentu saja, tidak banyak dari mereka yang mengenakan hijab.
Nico penasaran, siapakah gadis itu sebenarnya?

Merindu Cahaya de Amstel berkisah tentang Khadija (walaupun di atas saya memulainya dengan kisah Nico, hehehe…). Gadis asli Belanda yang masuk Islam dan memutuskan untuk mengenakan hijab. Keputusannya masuk Islam semasa kuliah ditentang oleh kedua orang tuanya, yang membuatnya memilih untuk meninggalkan rumah dan hidup sendiri di apartemen. Setelah lulus, Khadija mengajar di kampus dan menulis artikel untuk sebuah blog khusus muslimah di Belanda.

Lalu ada Nico. Seorang pemuda keturunan Belanda-Indonesia yang sehari-hari menjadi mahasiswa sekaligus fotografer. Foto-fotonya kerap menghiasi berbagai majalah di Belanda. Nico memiliki kisahnya sendiri. Ibunya pergi meninggalkan Belanda saat ia masih kecil, dan sampai sekarang ia masih tidak habis pikir mengapa ada Ibu yang tega meninggalkan anaknya. Satu-satunya alasan yang ia tahu dari ayahnya adalah, ibunya meninggalkan Nico dan ayahnya karena menyadari pernikahan beda agama tidak boleh dilanjutkan. Kini, ayahnya telah menikah lagi, tetapi sampai sekarang, Nico sama sekali tidak bisa merasa dekat dengan ibu tirinya.

Lalu ada Mala, seorang mahasiswa jurusan tari asal Indonesia. Mala tak sengaja bertemu Khadija di bus, di perjalanan pulang seusai kuliah. Setelah mengetahui bahwa Mala seorang Muslim juga seperti dirinya, Khadija menawarkan makanan untuk berbuka puasa. Ya, saat itu memang bulan puasa, di musim panas yang begitu menyiksa. Mala sendiri memutuskan untuk tidak berpuasa karena merasa tidak sanggup melakukannya. Musim panas dan kegiatannya menari sudah cukup membuatnya yakin tidak sanggup menahan haus dan lapar hingga matahari terbenam.

Meskipun terjadi tidak sengaja dan tidak bersamaan, pertemuan Khadija dengan Nico dan Mala membentuk sebuah cerita yang saling terkait. Ditambah dengan kehadiran, Pieter, sepupu Khadija yang seorang dokter gigi, membuat kisah ini menjadi semakin ‘ramai’. Tapi, memangnya ada apa sih dengan mereka berempat?
Yah, baca aja sendiri deh bukunya, huehehehe….

Sejujurnya, saya agak kecewa membaca buku ini. mungkin karena saya telah berekspektasi terlalu tinggi terhadap buku ini, yang disebabkan oleh suatu resensi yang saya baca dan menyatakan kalau buku ini bagus sekali.

Hmm… bukan berarti bukunya jelek, sih. Tapi menurut saya, ceritanya biasa saja, dan nggak terlalu menegangkan atau bikin penasaran, atau bikin terenyuh, atau menggugah hati, gimanaaa… gitu.

Ditambah lagi, karena saya berpikir cerita ini berlatar Belanda, bahasanya akan seperti bahasa terjemahan, ternyata tidak. Memang, sih, nggak mesti seperti bahasa terjemahan, tapi aneh aja rasanya baca cerita yang tokohnya orang asing tapi gaya bicaranya rasa orang Indonesia, hehehe…

Terus, di cerita ini saya nggak menemukan jawaban yang memuaskan mengapa ada cahaya di sekitar Khadija saat dipotret oleh Nico. Jadi, ya agak bête juga, atau sayanya yang kurang nangkep, ya?

Intinya, novel ini tidak se ‘menggugah’ seperti yang saya bayangkan. Latar Belanda-nya sih sudah cukup oke, tapi alur ceritanya masih biasa saja. Sekalinya ada plot twist di ujung cerita (iya, ada plot twist-nya, jadi siap-siap aja, hehehe), buat saya kurang gimanaaa gitu… Aduh, bingung menjelaskannya..  Ya, yah sudahlah…  kita hentikan saja review ini sampai di sini daripada saya ngeluh terus, hehehehe….

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar