Senin, 31 Oktober 2016

Resensi Buku: The Crossing of Ingo (Penyebrangan Ingo)

Penulis: Helen Dunmore
Penerjemah: Rosemary Kesauly
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: Cetakan Pertama, Agustus 2010
Halaman: 376

 
Setelah berhasil menidurkan Krakken, Ervys masih belum puas terhadap usaha Sapphire dan Conor. Ervys menganggap keberadaan Sapphire dan Conor yang manusia itu akan mengganggu dan merusak Ingo. Ervys juga membenci kaum Mer yang memiliki keturunan manusia. Ervys menginginkan Ingo bersih dari darah manusia, karena ia menganggap selama ini manusia hanya bisa merusak Ingo. Selain itu, Ervys juga menginginkan Ingo memiliki seorang pemimpin. Selama ini kaum Mer tidak memiliki pemimpin, hanya penjaga, yaitu Saldowr. Penjaga Simpul Ombak sekaligus guru bagi Faro, juga Sapphire serta Conor.

Sebentar lagi akan diadakan Penyebrangan Ingo. Penyebrangan Ingo merupakan semacam perjalanan panjang mengitari seluruh sisi Ingo di bumi yang dilakukan oleh pemuda-pemudi kaum Mer terpilih. Sebelum Penyebrangan, Saldowr akan membunyikan terompetnya, melakukan Pemanggilan. Setiap pemuda-pemudi Mer akan merasakan panggilan itu dan menghadiri Rapat Besar. Rapat penentuan untuk memilih siapakah yang layak melakukan Penyebrangan.

Meskipun bukan sepenuhnya kaum Mer, Sapphire dan Conor juga ikut merasakan Panggilan itu. Ada darah Mer dalam tubuh manusia mereka. dan mereka ingin ikut juga dalam rapat penentuan tersebut. Saldowr bilang, keikutsertaan manusia dalam Penyebrangan Ingo akan dapat menyeimbangkan Ingo dan Udara.

Hanya saja keinginan itu tidak disetujui Ervys. Ia tidak ingin Sapphire dan Conor ada di Ingo, apalagi melakukan Penyebrangan. Ervys dan pasukannya pun melakukan berbagai cara untuk menghalangi Sapphire, Conor, Faro, dan Elvira agar gagal melakukan Penyebrangan.

Ini adalah seri terakhir dari Tetralogi Ingo. Kalau dibandingkan seri sebelumnya, menurut saya masih lebih seru The Deep. The Crossing of Ingo ceritanya lumayan panjang, dan mereka berempat mengalami berbagai macam hal selama melakukan Penyebrangan.

Kesan saya setelah membaca keempat seri Ingo, ini adalah novel berseri yang cukup menarik, tapi tidak sampai amazing atau benar-benar mengesankan. Salah satu nilai terkuat yang saya tangkap dari keempat bukunya adalah pesan menjaga lingkungan, terutama laut.

Selama membaca serial Ingo, saya seolah mendengar curhatan dari para makhluk laut tentang apa yang manusia lakukan kepada mereka. Apa efek buruk yang para makhluk laut itu rasakan dari berbagai kegiatan manusia yang selama ini hanya berpikir tentang keuntungan pribadi, tanpa melihat dampaknya kepada alam.

Serial yang cukup bagus untuk mengingatkan kita tentang mencintai lingkungan.

Pesan lain yang saya dapatkan adalah tentang pencarian jati diri dan menemukan tempat yang sesungguhnya untuk diri kita. Kegalauan Sapphire akan darah campurannya, Mer dan manusia, keinginannya untuk tinggal di Ingo tapi tidak mungkin meninggalkan tanah. Semua itu adalah pilihan yang sulit bagi Sapphire, apalagi di usianya yang masih remaja. Namun, dari berbagai petualangannya di Ingo, akhirnya Sapphire mengetahui di mana seharusnya ia berada.

Sebenarnya ada satu buku lagi dari Helen Dunmore yang masih bercerita tentang Ingo. Namun, tokohnya berbeda, bukan Sapphire, Connor, Faro, dan Elvira. Bukunya berjudul Stormswept, dan saat ini tengah menunggu untuk say abaca. Mudah-mudahan sih lebih seru dari Tetralogi Ingo ini.

Resensi Buku: The Deep (Dasar Laut)


Penulis: Helen Dunmore
Penerjemah: Rosemary Kesauly
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: Cetakan Kedua, Desember 2013
Halaman: 304


Sapphire diundang dalam Rapat Besar kaum Mer. Mereka ingin tahu tentang manusia yang berhasil selamat dari Dasar Laut. Karena sebelumnya, tak pernah ada yang selamat jika sudah tenggelam hingga ke Dasar Laut, bahkan kaum Mer.

Di Rapat Besar itu ternyata Sapphire mendapat tantangan dari kaum Mer, khususnya Ervys, untuk kembali menidurkan Krakken. Krakken adalah makhluk penghuni Dasar Laut yang dianggap monster oleh kaum Mer. Sudah ratusan tahun Krakken tertidur. Jika ia bangun, ia akan melakukan kerusakan di Ingo dan menghabiskan kaum Mer.

Selama ini, cara untuk kembali menidurkan Krakken adalah memberi persembahan anak laki-laki dan perempuan kaum Mer. Namun, apakah itu harus terjadi lagi sekarang? Siapakah yang rela memberikan anaknya kepada monster laut. Sementara itu, jika Krakken tidak segera ditidurkan, mungkin seluruh kaum Mer akan binasa.

Untuk itulah Sapphire dipanggil. Kaum Mer mendengar Sapphire berhasil selamat dari Dasar Laut. Salah satunya berkat si paus, sahabatnya. Kali ini, untuk menunjukkan kalau Sapphire memang layak di Ingo, Ervys meminta Sapphire segera turun ke Dasar Laut dan menidurkan Krakken.

Sapphire memang tidak ingin kaum Mer binasa dan Ingo rusak karena monster dasar laut. Tetapi ia juga tidak yakin, apakah mungkin ia mampu melawan monster yang bahkan ia tak tahu seperti apa bentuknya dan apa kekuatannya. Semua tentang Krakken seperti legenda yang diceritakan turun-temurun tanpa bisa dibedakan mana yang benar dan bukan. Berhasilkah Sapphire melakukan misinya?


Kali ini petualangan Sapphire dan Conor di Ingo adalah tentang menidurkan kembali monster laut yang tak jelas bentuknya. Dari dua seri Ingo yang sudah kubaca, The Deep lumayan lebih seru ceritanya. Mungkin karena aku sangat penasaran, siapa sih Krakken itu, seperti apa bentuknya dan apakah Sapphire sempat menidurkannya sebelum Krakken mengguncang Ingo.

Yang masih menjadi pertanyaanku sampai sekarang, jika Krakken begitu berbahaya, mengapa hanya ditidurkan? Mengapa tidak dimatikan saja supaya lebih aman? Masalah tentang Mum, Dad, dan Roger masih ada. Sapphire dan Conor bahkan membuat perjanjian dengan kaum Mer, jika mereka berhasil menidurkan Krakken, mereka ingin ayah mereka mendapat kesempatan untuk memilih. Apakah ingin tetap menjadi kaum Mer atau kembali lagi menjadi manusia.

Untuk sebuah seri petualangan bawah laut, The Deep lumayan menarik. Seperti biasa, favoritku Conor. Aku masih tidak terlalu suka dengan Faro atau bahkan Sapphire. Meskipun keberanian Sapphire sangat patut diacungi jempol.

Jumat, 21 Oktober 2016

Resensi Buku: Magical Fantasy (Children's Coloring & Inspirational Quotes)

Ilustrasi Sampul & Isi: Dini Marlina
Penyunting: Nurhadiansyah
Penyunting Ilustrasi: Dedy Supanto
Penerbit: Noura Books
Tahun Terbit: Cetakan 1, September 2016
Halaman: 72


Trend buku-buku mewarnai sepertinya masih cukup diminati di kalangan penerbit buku, ya? Agak berbeda dari buku mewarnai lainnya, yang dikhususkan untuk dewasa dengan pola dan gambar yang rumit, Penerbit Noura Books malah menerbitkan buku mewarnai untuk anak.

Memang sih, buku mewarnai anak sudah sangat banyak. Tapi, kalau yang saya lihat, buku ini sepertinya untuk anak-anak usia 9 tahun ke atas, deh. Karena tipe gambarnya yang sudah lebih rumit dibanding gambar-gambar untuk anak TK yang biasanya lebih sederhana dan lebih besar. Atau, bisa juga ini buku mewarnai untuk dewasa yang masih berjiwa anak-anak seperti saya, hehehehe...

Iya, awalnya saya nggak kepikiran untuk beli buku ini. Memang sih, waktu lagi sedang 'panas-panas'nya buku mewarnai untuk dewasa, saya tergoda juga untuk membeli salah satunya. Tapi setelah saya lihat, kebanyakan ilustrasi dan motifnya kurang saya sukai. terlalu rumit! hehehe Selain itu, mahal pula.

Ketika melihat buku Magical Fantasy ini saya langsung naksir. Selain karena cover little riding hood yang kiyut banget dan judul Magical Fantasy yang dreamy abis, saya juga tertarik dengan inspirational quotes-nya. Jadilah saya, tanpa pikir panjang, langsung beli buku ini, tanpa perlu lihat-lihat isi dalamnya. Di samping itu, harganya juga cukup murah, hanya Rp 39.000.

Ketika lihat isinya, ternyata memang bagus dan sesuai banget sama selera saya yang suka gambar anak-anak tipe seperti ini. Kutipan-kutipan juga lumayan bagus. Beberapa sudah sering saya temukan, beberapa baru pertama kali saya baca. Dan di halaman terakhir, terdapat profil singkat orang-orang yang punya kutipan tadi. Jadi makin banyak infonya, deh...







Sabtu, 15 Oktober 2016

Resensi dan Giveaway - The Girl on Paper

Penulis: Guillaume Musso
Penerjemah: Yudith Listiandri
Penyunting: Selsa Chyntia
Penerbit: Spring
Tahun Terbit: Cetakan pertama, September 2016
Halaman: 448


Masih ingat dengan kisah penulis sukses Tom Boyd yang didatangi tokoh rekaannya, Billie Donelly, dalam novel The Girl On Paper? Nah, setelah kemarin mereview ARC (review bisa dibaca di sini), akhirnya saya berkesempatan untuk membaca The Girl On Paper hingga tamat.

Billie Donelly, si gadis fiksi datang menemui Tom. Billie mengaku kalau ia terjatuh dari kalimat terakhir yang ditulis Tom pada novelnya dan ia meminta agar Tom melanjutkan kisahnya. Namun, itu bukanlah permintaan yang mudah bagi Tom. Kondisi hatinya yang hancur lebur karena ditinggalkan Aurore, pianis cantik mantan pacarnya, membuat ia merasa tak mungkin menulis lagi.

Billie tidak mau menyerah begitu saja. Kehidupannya di dunia fiksi berada di jari Tom. Ia punya mimpi sendiri, ingin hidup bahagia dengan pria yang dicintainya. Tapi, bagaimana mungkin itu terjadi jika kisahnya saja menggantung. Sayangnya, meskipun telah dipaksa sedemikian rupa, Tom tetap tak mau menulis. Hingga akhirnya Billie membuat perjanjian dengan Tom. Billie akan berusaha menyambungkan kembali hubungan Tom dan Aurore, dengan syarat, jika itu terpenuhi maka Tom harus melanjutkan kisah Billie.

Dengan terpaksa, Tom setuju. Maka dimulailah petualangan Tom dan Billie mengejar Aurore yang saat itu tengah berlibur di Meksiko bersama pacar barunya. Tidak sampai di situ, petualangan mereka juga terus berlanjut hingga ke Paris, saat Billie tiba-tiba memuntahkan cairan tinta dari mulutnya. Pertanda apakah itu? 

Lalu bagaimana dengan dua sahabat karib Tom, Milo dan Carole, yang menganggap teman penulis mereka itu gila? Akankah mereka percaya kalau Billie benar-benar gadis fiksi yang terjatuh ke dunia nyata? Berhasilkan Billie menyatukan kembali Aurore dan Tom agar Tom mau menulis lagi?


Sejak selesai membaca ARC The Girl on Paper, saya benar-benar dibuat penasaran dengan kelanjutan kisah Tom Boyd dan Billie. Ketika bukunya sampai di tangan saya, saya langsung membaca bagian lanjutannya. Membaca satu halaman berarti menanggung risiko membaca keseluruhan isi buku, dan itulah yang terjadi pada saya. Petualangan Tom dan Billie terlalu sayang untuk ditinggalkan. Apalagi ada kisah-kisah tambahan yang masih berhubungan dengan novel Trilogie des Anges, yang sepertinya benar-benar mempengaruhi kehidupan orang-orang yang membacanya atau bersentuhan langsung dengannya.

Pesan kuat yang saya tangkap dari The Girl on Paper selain kasus writer’s block, adalah tentang kekuatan persahabatan. Persahabatan yang terjalin antara Tom, Milo, dan Carole begitu kuat. Milo dan Carole tidak mau melihat sahabat mereka terpuruk, dan rela melakukan apa saja untuk membuat Tom bangkit lagi.

Selain itu, ada beberapa hal menyenangkan ketika membaca novel ini.

Pertama, kutipan di tiap awal bab. Kutipan-kutipan yang dicantumkan Musso di dalam bukunya masih memiliki benang merah dengan apa yang terjadi di bab tersebut. Salah satu kutipan yang saya suka di antara 39 bab yang ada di buku ini adalah kutipan di bab 23.

“Kesendirian adalah fakta terdalam dari kondisi manusia. Manusia adalah satu-satunya makhluk yang menyadari dirinya sendirian dan mencari orang lain.” (Octavio Paz)

Kedua, membaca buku ini terasa seperti diajak berjalan-jalan. Setelah bertualang di Meksiko, Musso mengajak pembaca menikmati indahnya kota Paris dan Roma. Perpindahan latar tempat dalam novel The Girl on Paper membuat ceritanya semakin menarik dan tidak membosankan.

Ketiga, makanan. Musso tak segan-segan menyebut berbagai jenis makanan di tiap kota yang menjadi latar cerita. Tidak lupa pula, Penerbit Spring memberi sedikit keterangan tentang makanan itu. Membuat saya jadi makin penasaran, seperti apa rasanya quesadilla, guacamole, polvorones, caffe lungo, blanquette du veau, piscialandrea, tartufo, dan masih banyak yang lain. Hmmmm…

Terakhir (dan mudah-mudahan ini bukan spoiler) adalah plot twist. Iya. Plot twist. Aduh, beneran deh, rasanya pengen teriak, “Apppaaaa????” di saat menjelang akhir cerita. Apakah itu, silakan baca sendiri novelnya.

The Girl on Paper adalah karya Musso pertama yang saya baca, dan novel kontemporer Prancis pertama yang saya baca. Jujur saja, saya miskin pengetahuan tentang novel-novel kontemporer Prancis. Saya hanya pernah membaca sedikit literatur klasik Prancis, seperti Mademoiselle Fifi, L’Ingenu, La Dame aux Camelias, Climate, dan kumpulan puisi Baudelaire, Les Fleurs du Mal, untuk sekadar memuaskan rasa penasaran. Jadi, setelah membaca The Girl on Paper, saya tertarik dengan karya-karya Musso yang lain dan novel-novel kontemporer Prancis yang lain. Apakah ada yang seru dan menarik seperti The Girl on Paper ini.

Saya sempat mengintip situs Musso, dan ternyata beliau sudah menerbitkan banyak novel. Karya-karyanya sudah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa. Pantas saja tulisannya bagus dan nggak bikin bosan. Saya sempat membaca excerpt (semacam kutipan atau sampel bab) beberapa novel Musso, dan ternyata membubuhkan quote di tiap awal bab memang ciri khas beliau.

Selain ceritanya yang seru, membaca The Girl on Paper membuat saya tertarik dengan novel-novel dari Prancis atau negara Eropa lainnya. Sepertinya menarik membaca novel-novel yang tidak hanya berasal dari Amerika atau Inggris. Mudah-mudahan Penerbit Spring terus menerbitkan novel-novel bagus dari berbagai belahan dunia.

Oke, sekarang saatnya giveaway. Ada satu novel The Girl on Paper bagi kamu yang beruntung.

(Psst... sebenarnya jadwal giveaway saya dimulai tanggal 16 Oktober 2016, tapi karena tidak memungkinkan memposting besok, jadi saya curi start hari ini. Nggak apa-apa yaa? hehehe.... Hari ini adalah hari terakhir giveaway di blog Ayu, tepatnya pukul 10.00)

Simak ketentuannya, ya!
1. Memiliki alamat kirim di Indonesia
2. Dianjurkan untuk mengikuti/menyukai Twitter, Facebook, dan Instagram Penerbit Spring
3. Mengikuti blog ini dengan Google Friend Connect
4. Share giveaway ini di Twitter dan mention @ratiihcahaya dan @penerbitspring
5. Tuliskan nama, alamat email, akun twitter, dan jawaban pertanyaan berikut ini kolom komentar.

“Jika kamu berada di posisi Tom Boyd (seorang penulis yang patah hati dan terkena writer’s block) maukah kamu menulis lagi? Kenapa?”

Jawaban ditunggu maksimal tanggal 19 Oktober 2016 pukul 16.00 WIB. Lebih dari itu tidak dianggap ikut serta. Oiya, setelah giveaway di blog ini, akan ada giveaway lanjutan di instagram Hana.

Selamat menjawab! Semoga beruntung!

Alhamdulillah... Pemenangnya sudah ada ya, yaitu: Sarina Rolita @faradisharara

Selamat untuk pemenang dan terima kasih banyak untuk semua yang telah berpartisipasi di giveaway kali ini...

Semoga saya makin rajin ngadain giveaway dan yang ikutan semakin banyak! :)







Selasa, 11 Oktober 2016

Resensi Buku: Just One Year (Satu Tahun Saja)

Penulis: Gayle Forman
Penerjemah: Poppy D. Chusfani
Penyunting: Barokah Ruziati
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: 2016
Halaman: 328


Just One Year adalah sekuel dari Just One Day. Jika JOD diceritakan dari POV Allyson/Lulu, maka JOY diceritakan dari sudut pandangan Willem.
 
Willem terbangun di rumah sakit. Di Paris. Wajahnya penuh luka. Tak banyak yang diingatnya kecuali bahwa ia seharusnya bersama seorang gadis. Menurut dokter, ia seperti baru saja berkelahi dan memiliki kemungkinan terkena gegar otak. Ia harus menjalani CT scan, tapi Willem tidak peduli. Ia harus segera pergi dari rumah sakit dan mencari gadis itu. Yang akhirnya Willem ingat, bernama Lulu. Namun Lulu pun bukan nama sebenarnya. Itu nama pemberian Willem, kepada seorang gadis Amerika yang menghabiskan waktu sehari bersamanya di Paris. Lalu Willem kehilangan gadis itu, dan tidak tahu harus mencarinya ke mana.

Willem sama sekali tidak memiliki identitas Lulu. Ia tidak tahu nama aslinya, alamatnya, no handphone-nya, atau alamat emailnya. Willem hampir putus asa, tidak tahu harus mencari Lulu ke mana. Dan akhirnya ia memutuskan kembali pulang ke Utrecht, daerah asalnya.

Just One Year menceritakan perjalanan Willem mencari Lulu dan perasaannya kepada gadis itu. diceritakan Willem adalah sosok pemuda yang dikelilingi banyak wanita. Namun, sejak mengenal Lulu, Willem seperti tak peduli dengan wanita lain. Satu-satunya yang ia inginkan hanya menemukan kembali Lulu.

Perjalanan Willem cukup seru juga. Ia mencari Lulu hingga ke Meksiko, teringat dengan cerita Lulu tentang liburan Natal keluarganya yang selalu dihabiskan di Cancun. Willem juga terbang ke India, bertemu ibunya yang kini menetap di sana setelah kematian ayahnya. Lalu pada akhirnya kembali ke Belanda.

Di cerita ini, tidak hanya menceritakan tentang perasaan Willem kepada Lulu dan usaha pencariannya. Tapi juga menceritakan tentang hubungan Willem dengan ibunya, Willem dengan keluarganya, juga bagaimana Willem memandang hidupnya secara berbeda setelah kepergian Lulu.

Saya cukup menyukai Just One Year. Saya jadi semakin mengenal sosok Willem, dan tahu apa yang terjadi padanya selama Lulu/Allyson menjalani hidupnya di Amerika. Waktu membaca Just One Day, saya sempat berpikir Willem tidak terlalu mengingat Lulu, karena menganggapnya gadis biasa saja. Ternyata di Just One Year, saya jadi tahu seberapa istimewanya Lulu di mata Willem.

Di bagian ending, sebenarnya saya sudah tahu  seperti apa akhirnya, karena sudah diceritakan juga di Just One Day. Hanya saja tetap penasaran, bagaimana pertemuan mereka terjadi di hari-harinya Willem. Dan ternyata, memang tidak terlalu mencengangkan. Tidak ada kejadian super heboh atau semacamnya. Sampai-sampai saya sempat berpikir, hanya begini saja?

Ya, memang begitu saja. Just One Year cukup menarik, tapi tidak sampai membuat saya merasa gimanaaaa gitu. Namun saya tetap penasaran dengan cerita terakhir mereka, semacam novella yang ditulis Forman untuk menutup kisah Willem dan Lulu, judulnya Just One Night. (dari judulnya saja, sepertinya saya bisa menebak akan bercerita tentang apa )