Sabtu, 15 Oktober 2016

The Girl on Paper (Review and Giveaway)

Penulis: Guillaume Musso
Penerjemah: Yudith Listiandri
Penyunting: Selsa Chyntia
Penerbit: Spring
Tahun Terbit: Cetakan pertama, September 2016
Halaman: 448


Masih ingat dengan kisah penulis sukses Tom Boyd yang didatangi tokoh rekaannya, Billie Donelly, dalam novel The Girl On Paper? Nah, setelah kemarin mereview ARC (review bisa dibaca di sini), akhirnya saya berkesempatan untuk membaca The Girl On Paper hingga tamat.

Billie Donelly, si gadis fiksi datang menemui Tom. Billie mengaku kalau ia terjatuh dari kalimat terakhir yang ditulis Tom pada novelnya dan ia meminta agar Tom melanjutkan kisahnya. Namun, itu bukanlah permintaan yang mudah bagi Tom. Kondisi hatinya yang hancur lebur karena ditinggalkan Aurore, pianis cantik mantan pacarnya, membuat ia merasa tak mungkin menulis lagi.

Billie tidak mau menyerah begitu saja. Kehidupannya di dunia fiksi berada di jari Tom. Ia punya mimpi sendiri, ingin hidup bahagia dengan pria yang dicintainya. Tapi, bagaimana mungkin itu terjadi jika kisahnya saja menggantung. Sayangnya, meskipun telah dipaksa sedemikian rupa, Tom tetap tak mau menulis. Hingga akhirnya Billie membuat perjanjian dengan Tom. Billie akan berusaha menyambungkan kembali hubungan Tom dan Aurore, dengan syarat, jika itu terpenuhi maka Tom harus melanjutkan kisah Billie.

Dengan terpaksa, Tom setuju. Maka dimulailah petualangan Tom dan Billie mengejar Aurore yang saat itu tengah berlibur di Meksiko bersama pacar barunya. Tidak sampai di situ, petualangan mereka juga terus berlanjut hingga ke Paris, saat Billie tiba-tiba memuntahkan cairan tinta dari mulutnya. Pertanda apakah itu? 

Lalu bagaimana dengan dua sahabat karib Tom, Milo dan Carole, yang menganggap teman penulis mereka itu gila? Akankah mereka percaya kalau Billie benar-benar gadis fiksi yang terjatuh ke dunia nyata? Berhasilkan Billie menyatukan kembali Aurore dan Tom agar Tom mau menulis lagi?


Sejak selesai membaca ARC The Girl on Paper, saya benar-benar dibuat penasaran dengan kelanjutan kisah Tom Boyd dan Billie. Ketika bukunya sampai di tangan saya, saya langsung membaca bagian lanjutannya. Membaca satu halaman berarti menanggung risiko membaca keseluruhan isi buku, dan itulah yang terjadi pada saya. Petualangan Tom dan Billie terlalu sayang untuk ditinggalkan. Apalagi ada kisah-kisah tambahan yang masih berhubungan dengan novel Trilogie des Anges, yang sepertinya benar-benar mempengaruhi kehidupan orang-orang yang membacanya atau bersentuhan langsung dengannya.

Pesan kuat yang saya tangkap dari The Girl on Paper selain kasus writer’s block, adalah tentang kekuatan persahabatan. Persahabatan yang terjalin antara Tom, Milo, dan Carole begitu kuat. Milo dan Carole tidak mau melihat sahabat mereka terpuruk, dan rela melakukan apa saja untuk membuat Tom bangkit lagi.

Selain itu, ada beberapa hal menyenangkan ketika membaca novel ini.

Pertama, kutipan di tiap awal bab. Kutipan-kutipan yang dicantumkan Musso di dalam bukunya masih memiliki benang merah dengan apa yang terjadi di bab tersebut. Salah satu kutipan yang saya suka di antara 39 bab yang ada di buku ini adalah kutipan di bab 23.

“Kesendirian adalah fakta terdalam dari kondisi manusia. Manusia adalah satu-satunya makhluk yang menyadari dirinya sendirian dan mencari orang lain.” (Octavio Paz)

Kedua, membaca buku ini terasa seperti diajak berjalan-jalan. Setelah bertualang di Meksiko, Musso mengajak pembaca menikmati indahnya kota Paris dan Roma. Perpindahan latar tempat dalam novel The Girl on Paper membuat ceritanya semakin menarik dan tidak membosankan.

Ketiga, makanan. Musso tak segan-segan menyebut berbagai jenis makanan di tiap kota yang menjadi latar cerita. Tidak lupa pula, Penerbit Spring memberi sedikit keterangan tentang makanan itu. Membuat saya jadi makin penasaran, seperti apa rasanya quesadilla, guacamole, polvorones, caffe lungo, blanquette du veau, piscialandrea, tartufo, dan masih banyak yang lain. Hmmmm…

Terakhir (dan mudah-mudahan ini bukan spoiler) adalah plot twist. Iya. Plot twist. Aduh, beneran deh, rasanya pengen teriak, “Apppaaaa????” di saat menjelang akhir cerita. Apakah itu, silakan baca sendiri novelnya.

The Girl on Paper adalah karya Musso pertama yang saya baca, dan novel kontemporer Prancis pertama yang saya baca. Jujur saja, saya miskin pengetahuan tentang novel-novel kontemporer Prancis. Saya hanya pernah membaca sedikit literatur klasik Prancis, seperti Mademoiselle Fifi, L’Ingenu, La Dame aux Camelias, Climate, dan kumpulan puisi Baudelaire, Les Fleurs du Mal, untuk sekadar memuaskan rasa penasaran. Jadi, setelah membaca The Girl on Paper, saya tertarik dengan karya-karya Musso yang lain dan novel-novel kontemporer Prancis yang lain. Apakah ada yang seru dan menarik seperti The Girl on Paper ini.

Saya sempat mengintip situs Musso, dan ternyata beliau sudah menerbitkan banyak novel. Karya-karyanya sudah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa. Pantas saja tulisannya bagus dan nggak bikin bosan. Saya sempat membaca excerpt (semacam kutipan atau sampel bab) beberapa novel Musso, dan ternyata membubuhkan quote di tiap awal bab memang ciri khas beliau.

Selain ceritanya yang seru, membaca The Girl on Paper membuat saya tertarik dengan novel-novel dari Prancis atau negara Eropa lainnya. Sepertinya menarik membaca novel-novel yang tidak hanya berasal dari Amerika atau Inggris. Mudah-mudahan Penerbit Spring terus menerbitkan novel-novel bagus dari berbagai belahan dunia.

Oke, sekarang saatnya giveaway. Ada satu novel The Girl on Paper bagi kamu yang beruntung.

(Psst... sebenarnya jadwal giveaway saya dimulai tanggal 16 Oktober 2016, tapi karena tidak memungkinkan memposting besok, jadi saya curi start hari ini. Nggak apa-apa yaa? hehehe.... Hari ini adalah hari terakhir giveaway di blog Ayu, tepatnya pukul 10.00)

Simak ketentuannya, ya!
1. Memiliki alamat kirim di Indonesia
2. Dianjurkan untuk mengikuti/menyukai Twitter, Facebook, dan Instagram Penerbit Spring
3. Mengikuti blog ini dengan Google Friend Connect
4. Share giveaway ini di Twitter dan mention @ratiihcahaya dan @penerbitspring
5. Tuliskan nama, alamat email, akun twitter, dan jawaban pertanyaan berikut ini kolom komentar.

“Jika kamu berada di posisi Tom Boyd (seorang penulis yang patah hati dan terkena writer’s block) maukah kamu menulis lagi? Kenapa?”

Jawaban ditunggu maksimal tanggal 19 Oktober 2016 pukul 16.00 WIB. Lebih dari itu tidak dianggap ikut serta. Oiya, setelah giveaway di blog ini, akan ada giveaway lanjutan di instagram Hana.

Selamat menjawab! Semoga beruntung!

Alhamdulillah... Pemenangnya sudah ada ya, yaitu: Sarina Rolita @faradisharara

Selamat untuk pemenang dan terima kasih banyak untuk semua yang telah berpartisipasi di giveaway kali ini...

Semoga saya makin rajin ngadain giveaway dan yang ikutan semakin banyak! :)







23 komentar:

  1. Nama: Christina
    Email: chrstnaa16@gmail.com
    Twitter: @chrstna_a
    https://twitter.com/chrstna_a/status/787227764965253122


    Jawaban:
    Jika saya menjadi Tom saya akan berusaha keluar dari keterpurukan saya itu. Saya akan berusaha melupakan 'dia' dan mencoba membuka hati kepada orang lain. Karena jika kita tetap patah hati terus menerus, kita akan jatuh dan tidak akan menjadi berhasil.

    BalasHapus
  2. Nama : vadia rahman salsabila
    email : vadiaswft89@gmail.com
    twitter : @vadiamendes98

    Jika kamu berada di posisi Tom Boyd (seorang penulis yang patah hati dan terkena writer’s block) maukah kamu menulis lagi? Kenapa?

    Bismillah, bantu aku GA kali in buat dapetin TGOP!! T.T
    Jawabannya: Ya, karena patah hati bukanlah alasan yang kuat untuk berhenti mengejar mimpi, menghentikan begitu saja pekerjaan yang menjadi bagian diri kita harusnya sama kehilangannya dengan patah hati. Patah hati itu memang sakit, perih, sesak dan hal menyakitkan lainnya akan terasa. Tapi bukankah lebih baik kita keluar dari rasa sakit itu, bukan malah terjebak dan terpuruk di dalamnya, dan mengorbankan sesuatu karena rasa sakit itu. BUkankah itu tindakan yang bodoh dan sia-sia?
    Bagi seorang penulis yang cerdik, harusnya kita ambil saja manfaatnya dari rasa sakit itu, bisa kita tuangkan dalam cerita yang akan kita tulis nantinya. Itu lebih berguna dari sekedar meratapi dia yang sudah pergi dan mempunyai orang yang baru.
    Terkadang penulis butuh merasakan beberapa rasa yang akan dia tuangkan ke dalam ceritanya, termasuk merasakan bagaimana rasanya sakit hati, agar kelak dia bisa menggambarkan bagaimana rasanya sakit itu, agar kelak perasaan yang dia tuangkan dalam ceritanya bisa sampai kepada pembacanya.

    Wassalam:'v

    BalasHapus
  3. Nama: Bety Kusumawardhani
    Email: aki.no.melody@gmail.com
    Akun twitter: @bety_19930114

    Jawaban: Aku jelas mau melanjutkan menulis meskipun harus melewati keterpurukan hidup. Seperti kata penulis Adam Aksara "Pada akhirnya menulis adalah menolong jiwa penulisnya sendiri dan menemukan apa yang terpendam dalam dirinya..." Penulis justru bisa bangkit dari keterpurukan hidup dengan menulis karena kegiatan ini dapat mengungkapkan seluruh isi hati lewat tulisan dan melalui tulisanlah, penulis mengobati sakit hatinya yang terpendam.

    Penulis profesional itu seharusnya bisa membedakan antara masalah pribadi dan pekerjaaan. Tidak boleh dicampur aduk. Masalah pribadi jangan sampai berdampak buruk ke pekerjaan karena editor dan pembaca hanya tahu hasil akhir bukan proses menulisnya. Contoh lain: seorang penyiar atau presenter yang mempunyai masalah pribadi di rumah, tidak boleh dibawa ke tempat kerja. Jangan sampai memperlihatkan suara atau wajah yg sedih di hadapan pendengar atau pemirsa.

    BalasHapus
  4. Nama : Aneira Maharani
    Email : aneiramaharani@gmail.com
    Twitter : @aneira_elf

    "Jika kamu berada di posisi Tom Boyd (seorang penulis yang patah hati dan terkena writer’s block) maukah kamu menulis lagi? Kenapa?"

    -> jika aku berada di posisi Tom Boyd, aku akan tetap menulis karena itu sudah menjadi pekerjaan rutinitasku. tapi, aku akan mengistirahatkan diri terlebih dahulu agar aku bisa memunculkan kembali ide-ide cerita yang hilang karena patah hati. walaupun hal tersebut pasti akan memakan waktu yang cukup lama, aku akan tetap menunggu sampai akhirnya aku kembali siap untuk menulis. bukan karena profesi atau profesionalitas, tapi aku melakukan hal itu karena aku tidak ingin membuat kecewa para pembaca setiaku^^

    BalasHapus
  5. Nama : Humaira
    Alamat Email : humairabalfas5@gmail.com
    Akun Twitter : @RaaChoco


    “Jika kamu berada di posisi Tom Boyd (seorang penulis yang patah hati dan terkena writer’s block) maukah kamu menulis lagi? Kenapa?”


    Mau dan harus. Meski stuck, seorang penulis harus tetap berkarya apapun keadaannya. Apalagi jika seperti sosok Tom Boyd yang karyanya laris dan best seller, tentunya karya selanjutnya akan ditunggu-tunggu oleh pembaca setianya. Semua orang tau kalo WB adalah musuh semua penulis. Mungkin aku membutuhkan sedikit refreshing untuk menyegarkan pikiran dan hati yang sedang tidak sinkron dan terkena badai. Bisa saja saat refreshing itu aku mendapat inspirasi dan ide yang baru. Jika masih bisa dilakukan, aku akan meneruskan karyaku yang belum usai. Tapi jika aku sudah menyerah dan mentok, sementok-mentoknya, aku lebih memilih untuk menulis karya baru dan menunda cerita yang terkena WB untuk diteruskan dilain kesempatan. Semangat harus tetap ada meski keinginan sama dengan nol.

    BalasHapus
  6. Nama: Diah P
    Twitter: @She_Spica
    Email: pujiawati747@gmail.com

    Saya gak akan berhenti menulis karena hal tersebut merupakan hobi saya. Jati diri saya. Dan hanya karena patah hati dan terkendala writer's block bukan berarti saya harus memutus hobi saya. Seorang penulis sejati seharusnya bisa memanfaatkan kondisi apapun mengenai hatinya untuk mematangkan tulisannya. Apalgi biasanya orang yg patah hati tulisnnya bisa lebih kuat dan menyentuh simpati juga empati pembaca.
    Jika masalahnya writer's block, saya akan berhenti menulis sejenak dan pergi keluar rumah. Kemanapun tempat yg membuat pikiran saya jernih dan cerah. Biasanya tiga hal ini bisa membuat mood menulis saya melonjak kembali. Biru, langit, dan laut.
    Begitulah. Terima kasih.

    BalasHapus
  7. Rini Cipta Rahayu
    rinspiration95@gmail.com
    @rinicipta


    Aku rasa semua penulis pasti pernah mengalami writers block. Yg membedakan adalah berapa lama hal itu terjadi dan bagaimana cara para penulis untuk mengatasinya. Saat aku memutuskan untuk fokus menulis, aku akan berusaha untuk komit dengan hal itu. Memang gak mudah menulis saat mood sedang berantakan, jadi aku akan berhenti menulis sejenak. Aku akan pergi liburan, mencoba hal baru,kenalan dengan orang baru, mencari suasana baru sambil mengumpulkan inspirasi. Siapa tau pada saat patah hati, aku bisa mencoba untuk menuliskan kisah cinta dengan lebih 'greget'. Yang terpenting adalah menemukan 'muse' yang bisa menjadi moodbooster ku yang baru untuk menulis. Aku gak mau terpuruk terlalu lama.

    BalasHapus
  8. nama: emma
    email: amrelisha@gmail.com
    twitter: @emmanoer22

    jawaban: mau dan harus. Karena seorang yang perfeksionis harusnya memang menyelesaikan apa yang sudah di mulai. Novel ini jadi mengingatkanku dengan drama W - Two World, dua dunia beda paralel yang tercipta dari imajinasi seorang penulis webtoon, kisahnya jadi nyata dan berubah menjadi tragedi. Penulis yang baik harusnya tahu bagaimana menyelesaikan mengeksekusi cerita yang sudah di buat/di tulisnya. Kesannya sudah hamil tapi gak lahiran itu kan gak mungkin, hamil juga ada prosesnya dan butuh waktu panjang, rasanya berat tapi kalau anaknya sudah lahir sehat dan sempurna yang bahagia tentu mereka yang membuatnya. Jadi writer block itu prosesnya seperti orang hamil, sulit awalnya tapi nikmati saja, ada waktunya rasa berat itu hilang.

    BalasHapus
  9. Nama : Rani Widiyansyah
    Email : ranidaiki@gmail.com
    Twitter : @raniwidiyansyah

    “Jika kamu berada di posisi Tom Boyd (seorang penulis yang patah hati dan terkena writer’s block) maukah kamu menulis lagi? Kenapa?"

    Kalau di tanya mau sih, pasti mau, itukan pekerjaanku, tanggung jawabku, bahkan mungkin sudah menjadi bagian hidupku, tapi kalau patah hati dan writter's blocknya baru terjadi dalam waktu dekat, aku lebih memilih berhenti sementara. Setidaknya butuh waktu untuk menata ulang hatiku dan juga pikiranku. Toh, Aku juga tidak ingin tenggelam terlalu lama dalam keterpurukanku, istilahnya sih, menangislah sepuasnya hari ini dan tertawa sepuasnya setelahnya.

    BalasHapus
  10. Nama : jawahirul arifah
    Email : djawakudus@gmail.com
    Akun twitter : @jawarifah

    Jika kamu berada di posisi Tom Boyd (seorang penulis yang patah hati dan terkena writer’s block) maukah kamu menulis lagi? Kenapa?"

    Jawaban : jika aku mengalamin kasus kaya Tom, maka aku akan mencoba menyelesaikan masalah terlebih dahulu jika ngga terpecahkan, tetap wajib dan harus melanjutkan meneruskan nulis novel karena itu uda kewajibanku sbg penulis jadi harus menyelesaikan apa yg ditulis sampai tamat. Namun sebelumnya aku harus keluar dr zona nyamanku selama ini karena uda ngga nyaman dengan masalah yg terjadi dan pindah ke zona yg lain. Gunanya untuk menyemangati diri sendiri dan biar segera move on dari kasus percintaan sekalian cari ide dan aku akan pindah ke kota yg berbeda dengan suasana dan lingkungan yg berbeda untuk kembali membangun mood menulis ku.
    Selain keluar dr zona nyaman, cobalah untuk keluar dan berjalan-jalan. Perubahan atmosfer dan suasana sangat bagus untuk aku. Sebuah latihan terus menerus dan banyak berjalan-jalan dapat membantu merangsang sel-sel otak ku. Bisa juga melalukan hobi yg uda sering ditinggalin pasca jadi penulis kaya fotografi dan shopping. Hihi.

    Sekian dan terima kasih

    BalasHapus
  11. Rahma Nurul Khotimah
    rahmanurul.khotimah@gmail.com
    Like and follow Penerbit Spring =
    Tw : @rahmaa_chan | Ig : @rahma_nkh | Fb : Racchan Nishimura
    Link share info : https://twitter.com/rahmaa_chan/status/788339222549782528

    Untuk menumbuhkan semangat serta ide-ide berkualitas bagi seorang penulis itu dipengaruhi banyak faktor, terutama faktor mood. Dari banyak pengalamanan saya, untuk menciptakan suasana menyenangkan itu sulit sekali bahkan ketika mood kita sedang bagus.
    Jadi, apabila saya berada di posisi Tom sebagai seorang penulis yang patah hati, tentu saja akan sangat sulit bagi saya untuk melanjutkan tulisan tersebut. Kenapa? Lukanya sakit hati itu aja sembuhnya lamaaa sekali, jadi kalo dipaksain untuk nulis, malah nanti naskah yang saya tulis jadi ajang curhat :") wkwk
    Oh, tapi bukan berarti juga saya akan benar-benar berhenti menulis. Seorang penulis yang menjadikan 'tulisan' sebagai pekerjaan, tentunya tidak akan semudah itu untuk berhenti, menyerah, putus asa dan sebagainya. Penulis juga manusia, ada saatnya seorang penulis merasa jenuh dan masuk dalam fase writer's block sehingga projek tulisan yg sedang dikerjakan menjadi terhambat.
    Jika ditanya, apakah mau menulis kembali, saya akan menjawab dengan lantang, "ya, saya mau!" Karena tulisan adalah hobi dan juga pekerjaan saya. Selama apapun nantinya saya mendapatkan kembali kepercayaan diri setelah patah hati, saya akan tetap kembali pada jalan menulis saya.

    Itu saja hehe.

    Terima kasih atas kesempatan GA-nya Kak Ratih ^o^p dan sukses terus untuk Penerbit Spring, yeay! ^0^9

    BalasHapus
  12. Nama: Feby Aulia Ayundita
    Email: feby.auliaayundita@gmail.com
    Twitter: @febyaulia316
    Bissmillah
    Menulis cerita menurutku adalah sebuah tanggungjawab, tanggung jawab karena kita yg memulai cerita tsb dan kita harus bertanggungjawab untuk mengakhiri cerita tersebut. Walau terkena writer's block aku sebisa mungkin akan melanjutkan menulis lagi, walaupun mungkin agak terlambat atau melenceng dari deadline tapi sebisa mungkin akan melanjutkan cerita tsb. Karena mengakhiri sebuah cerita adalah sebuah kepuasan tersendiri bagi para penulis. Jadi jika aku berada diposisi Tom Boyd aku akan menulis lagi karena jika kita sudah jatuh cinta dgn pekerjaan(re:menulis) kita,jika ada penghalang(re:patah hati&writer's block) pasti akan kita lawan untuk mencapai tujuan utama kita yg semisalnya adalah mengakhiri sebuah cerita. Mungkin bila terkena writer's block kita bisa mencari inspirasi dgn cara membaca novel2 yg lain,atau mendengarkan musik. Yg penting menurutku sih update aja walau lama agar tidak mengecewakan readers juga. Dan kita juga bisa bertanggungjawab dengan apa yg kita mulai dgn menulis lagi

    BalasHapus
  13. Elsita F. Mokodompit
    elsitafransiska@gmail.com
    @sitasiska95

    Kena writer's block bisa dibilang adalah masalah terbesar para penulis. Dan akan jadi bencana kalau itu separah yang dialami Tom. Apakah itu akan membuatku tetap mau menulis? Tentu saja iya. Meskipun akan sangat sulit untuk kembali 'normal' apalagi dalam keadaan sulit, aku akan berusaha. Karena menulis adalah impian, passionku dalam hidup. Aku nggak akan lengkap tanpa menulis. Akan ada yang hilang dan nggak akan aku temukan dari hal lain. Jadi tentu saja aku akan mau menulis lagi

    BalasHapus
  14. Nama: Ana Bahtera
    Email: anabahtera@yahoo.co.id
    Twitter: @anabahtera
    Jawaban:
    “Jika kamu berada di posisi Tom Boyd (seorang penulis yang patah hati dan terkena writer’s block) maukah kamu menulis lagi? Kenapa?”
    Pastinya harus menulis lagi, walaupun berat tuk memulai tapi aku harus tetap mecobanya dari awal. Kenapa??? karena aku sayang pada orang-orang yang telah membaca novelku sebelumnya dan pastinya akan menanti-nanti tulisanku selanjutnya. Lagipula pengalaman patah hati itu bisa dijadikan ide untuk sebuah novel agar aku lebih lega dan menerima patah hati yang sebenarnya obat mujarab dijadikan motivasi untuk diri sendiri.

    BalasHapus
  15. Nama: Cahya
    Twitter: @ccchhy
    Email: cahyasptm@gmail.com

    Jika aku adalah Tom Boyd yang sedang mengalami writer's block dan patah hati, lalu ditanya soal mau atau tidak melanjutkan menulis lagi, tentunya aku mau.

    Sebagai seorang penulis novel trilogi, artinya dari awal aku sudah berkomitmen untuk tetap menulis hingga dapat menyelesaikan trilogi tersebut. Sebuah komitmen dan tanggung jawab yang harus aku penuhi. Membuat trilogi atau berapa pun sekuel dari suatu buku adalah sebuah janji yang harus ditepati alias diselesaikan. Sama seperti kita masuk sekolah dan harus ditamatkan.

    Aku bisa mengerti perasaan pembaca yang digantungin alias di-PHP-in dengan cerita yang belum sepenuhnya selesai karena aku pernah ngalamin itu dan aku tahu itu rasanya tidak enak. Aku nggak mau juga jika kehilangan pembaca setiaku karena aku menghilang tanpa menyelesaikan cerita trilogi itu.

    Masalahnya, aku harus berdamai dulu dengan keadaan. Harus segera cari penyelesaian supaya tidak terus berlarut dan hilang dari peredaran. Di situlah aku harus punya atau membangun motivasi baru yang lebih besar untuk mengalahkan writer's block itu. Membangun mood yang baik agar nyaman untuk menulis kembali. Jika kita memaksakan diri untuk menulis tetapi hati dan pikiran kita tidak di sana, maka nanti hasilnya tidak akan bagus.

    Ada banyak cara yang bisa dilakukan, terga tung dengan kesukaan masing-masing, asal jangan lari ke miras atau narkoba atau apa pun itu yang negatif. Kalau seperti aku yang suka traveling, aku bisa menyicil menulis di perjalanan dengan ditemani udara segar dan suasana baru daripada cuma mendap di rumah :)

    BalasHapus
  16. Nama : Erika Putri Gistiana
    Email : erikaputrigustiana@gmail.com
    Twitter : @ErikaGustyana

    Jika aku berada di posisi Tom yang sedang mengalami patah hati dan writer block, tentu saja aku akan terus melanjutkan naskah ku yang sudah jadi setengah. Karena, menurutku 'writer block' itu hanya alasan penulis yang sedang tak mood untuk meneruskan membuat naskah. Jadi kalau sudah seperti itu, apa boleh buat. Tidak usah dipaksakan untuk terus melanjutkan. Berhenti sejenak bekerja di depan laptop. Dan aku akan mencari beberapa tontonan movie atau bacaan baru untuk mencari inspirasi atau hanya sekedar menyegarkan pikiran. Layaknya laptop yang harus di refresh, setelah itu pikiran akan kembali segar dan siap untuk melanjutkan naskah novel kembali. ;D

    BalasHapus
  17. Nama: dhilayaumil
    Email: dhilayaumil@gmail.com
    Twitter: @dhilayaumil

    "Jika kamu berada di posisi Tom Boyd (seorang penulis yang patah hati dan terkena writer’s block) maukah kamu menulis lagi? Kenapa?”

    Mau. Karena saya cinta menulis. Dan lagi, bukankah patah hati kadang membuat ide mengalir deras? Hihihi. Ada sebuah kalimat yang bunyinya kira-kira begini: kalau tidak pernah patah hati, jangan berpikiran untuk jadi penulis. So, kelemahanku (patah hati) akan kujadikan lasan untuk tidak menyerah (sebagai penulis). Patah hati akan kuobati dengan jatuh cinta lagi. Writer's block akan kuobati dengan melakukan kegiatan yang bisa menciptakan ide-ide baru di kepalaku. Yeay, karena aku penulis, jadi aku tidak akan menyerah untuk menulis. 🙅🙆🙇

    BalasHapus
  18. Nama: Sarina rolita
    Email: srolita28@gmail.com
    Twitter: @faradisharara

    "Jika kamu berada di posisi Tom Boyd (seorang penulis yang patah hati dan terkena writer's block) maukah kamu menulis lagi? kenapa?"

    Jawabannya, tentu saja mau, karena bagiku menulis adalah sebuah dunia di mana aku bisa mengekspresikan apapun yang aku rasakan. Termasuk sakitnya patah hati dan ditinggalkan.
    Mungkin tidak langsung melanjutkan cerita yang lagi dikerjakan, karena biar bagaimanapun konsentrasi dan imajinasi sudah terberai dan perlu jeda sejenak untuk membentuk semangat baru. Tetapi tetap saja aku akan terus menulis, lagi dan lagi.

    Aku percaya tidak ada sesuatu pun yang tetap di dunia ini, semuanya berubah apalagi sebuah hubungan. Hanya saja ada hal yang tetap bisa membuatku bahagia, salah satunya berinteraksi dengan karakter yang aku ciptakan dalam dunia imajiku.

    BalasHapus
  19. Nama: Nurul Astri
    Alamat Email: astristyles82@gmail.com
    Akun Twitter: @nurulastrirmdn

    Mau tidak mau, aku akan tetap melanjutkannya. Karena tulisan bukan hanya melibatkan penulis, tapi juga pembaca. Penulis mengeksplor idenya dan mengubahnya dalam bentuk tulisan, semata-mata untuk menghibur pembacanya. Walaupun ada beberapa penulis yang menulis hanya untuk kesenangan, tapi sadarlah kalau banyak pembaca yang menggantungkan harapan pada sang penulis. Maka dari itu penulis seharusnya tidak boleh semena-mena dengan hanya memikirkan kesenangan pribadinya.

    Writer's block bukan halangan untuk menulis. Para penulis besar seperti Tere Liye dan Raditya Dika malah menganggap itu bukan sebuah masalah besar. Karena writer's block sesungguhnya nggak benar-benar ada. Namun, yang nggak banyak orang ketahui, kalau lawan terbesar dari writer's block adalah semangat untuk melanjutkannya kembali. Percayalah, disetiap usaha pasti akan membuahkan hasil. Nggak masalah kalau tulisan kita malah berubah jelek, tapi itu lebih baik daripada tidak menulis sama sekali :)

    BalasHapus
  20. Nama: Rohaenah
    Email: rohainalilis@gmail.com
    Twitter: @rohaenah1
    Jawaban: kalo saya jadi Tom pastinya saya mau menulis lagi,harusnya patah hati tidak menjadi halangan tapi jadi pemacu dia untuk bangkit. Menulis untuk seorang penulis adalah jatidiri,kalau memang ada halangan semacam writer's block justru menjadi tantangan yg harus dihadapi agar dia bisa membangun kembali semangatnya hingga menghasilkan karya yg lebih baik lagi.

    BalasHapus
  21. Nama: Nurul Astri
    Alamat Email: astristyles82@gmail.com
    Akun Twitter: @nurulastrirmdn

    Mau tidak mau, aku akan tetap melanjutkannya. Karena tulisan bukan hanya melibatkan penulis, tapi juga pembaca. Penulis mengeksplor idenya dan mengubahnya dalam bentuk tulisan, semata-mata untuk menghibur pembacanya. Walaupun ada beberapa penulis yang menulis hanya untuk kesenangan, tapi sadarlah kalau banyak pembaca yang menggantungkan harapan pada sang penulis. Maka dari itu penulis seharusnya tidak boleh semena-mena dengan hanya memikirkan kesenangan pribadinya.

    Writer's block bukan halangan untuk menulis. Para penulis besar seperti Tere Liye dan Raditya Dika malah menganggap itu bukan sebuah masalah besar. Karena writer's block sesungguhnya nggak benar-benar ada. Namun, yang nggak banyak orang ketahui, kalau lawan terbesar dari writer's block adalah semangat untuk melanjutkannya kembali. Percayalah, disetiap usaha pasti akan membuahkan hasil. Nggak masalah kalau tulisan kita malah berubah jelek, tapi itu lebih baik daripada tidak menulis sama sekali :)

    BalasHapus
  22. Nama: Rinita
    Alamat email: rinivir90@gmail.com
    akun twitter: @Rinitavyy

    Pada dasarnya jika aku seorang penulis dan tiba-tiba berada di posis Tom yg sedang patah hati, yg pasti berat banget dong, mau nglakuin apa pun jadi terkendala. Mau ini-itu jadi sering hilang fokus soalnya pikiran masih 'stuck' di kenangan cinta yg kandas lalu galau terus-terusan, sampai lupa waktu makan. Padahal menulis atau membuat sebuah tulisan cerita kan pikiranku harus fresh, bening dan fokus di cerita itu dan bukannya melayang mikirin kisahku sendiri.
    Hayo, kalau begini aku harus ngapain, biar aku bisa melanjutkan tulisanku lagi yg sedang di tunggu deadline. Hmm, kalau menurutku pribadi, andai nih aku penulis populer (hehe) terus nggak fokus nglanjutin tulisanku dan memilih break. Pasti akan ada beberapa pembaca setia tulisanku yg akan memberikan semangat biar aku mau lagi nglanjutin tulisanku, mungkin aku akan pikir dua kali buat melanjutkan pekerjaan yg tertunda, soalnya ya itu tadi semangat dari pembaca setia, yg rela membuang waktu berharga hanya demi penulis favoritnya berkarya lagi, gimana aku nggak terkesan dong, ya pasti aku jadi semangat nulis lagi kan.

    Alasan yg lainnya, Menulis kan butuh tenaga dan suasana tenang, mungkin agar aku bisa fokus (akibat patah hati), aku bakal pergi ke tempat yg membuatku lupa pada masalahku. Seperti pegunungan misalnya. Menulis di tempat yg sejuk, dan yg pasti lebih mudah mendapat pencerahan akan cerita apa yg selanjutkan vakal ku ketik. Dan di tambah alunan musik klasik dan romance biar suasana makin menyegarkan mendapatkan pemikiran baru.

    BalasHapus