Jumat, 17 November 2017

Resensi Buku: Angel in The Rain



Penulis: Windry Ramadhina
Penyunting: Yulliya dan Widyawati Oktavia
Penerbit: Gagas Media
Tahun Terbit: 2016
Halaman: 460
ISBN: 978-979-780-870-9


Gilang dan Ayu. Seorang pemuda lucu dan seorang gadis gila buku. Seorang editor sastra dan seorang penulis novel romansa. Mereka pertama kali bertemu di sebuah toko buku tua di London. Masing-masing memiliki alasan sendiri mengunjungi kota tersebut. 

Gilang pergi ke London untuk mengungkapkan cinta pada sahabat masa kecilnya, Ning. Sementara Ayu ke London demi menjauh dari persiapan pernikahan kakaknya, Luh, dan orang yang pernah mengisi hatinya, Em.

Pertemuan di toko buku itu adalah pertemuan pertama mereka dan tanpa mereka duga, akan ada pertemuan-pertemuan selanjutnya. Pertemuan-pertemuan yang membuat Gilang berpikir, masihkah ia mencintai Ning sebesar dulu, sementara ia tahu Ning tidak memiliki perasaan yang sama dengannya. Pertemuan-pertemuan yang membuat Ayu bertanya-tanya, haruskah ia percaya pada keajaiban cinta setelah ia memutuskan untuk tidak memercayainya.

My Review

Angel in The Rain adalah sekuel tidak resmi dari novel Windry sebelumnya, London: Angel. Bagi yang telah membaca London dan Walking After You, tentu penasaran dengan kelanjutan kisah Gilang dan Ayu yang dibiarkan menggantung. Di novel Angel in The Rain inilah kita akan mengetahui kisah mereka selengkapnya.

Jika di London: Angel, tokoh utama kita adalah Gilang dan Ning, maka di Angel in The Rain, kita akan lebih mengenal sosok Ayu yang dimunculkan secara singkat di novel London. Latar belakang Ayu, kesehariannya, dan alasannya tidak lagi memercayai cinta.

Jujur saja, saya agak heran dengan alasan Ayu yang begitu takut memulai sebuah hubungan. Ya, mungkin dia memang patah hati, apa lagi cowok yang disukainya menikah dengan kakaknya sendiri. Tetapi dia seharusnya tahu, sebelum ia menjalin hubungan dengan Em, Em telah berpacaran dengan Luh, kakaknya. Saya merasa hal itu kurang kuat untuk menjadi alasan Ayu membenci Luh dan tidak percaya lagi pada hubungan percintaan.

Saya juga kurang suka dengan Ayu yang tampak tidak acuh dengan persiapan pernikahan kakaknya. Bahkan seolah bersikap seenaknya di depan orang tuanya. Duh, kalau saya berlagak seperti Ayu, bisa-bisa tidak dianggap anak lagi oleh orang tua saya. Intinya, sih, ada beberapa sifat Ayu yang saya kurang suka. 

Sekarang Gilang. Saya mengenal tokoh Gilang sejak membaca London: Angel. Meski sudah agak lama membacanya, saya masih ingat sedikit-sedikit dengan karakter Gilang. Dan saya merasa heran juga mengapa penulis memilih ‘pemuda lucu’ sebagai deskripsi untuk Gilang. Saya tidak merasa Gilang sebagai ‘pemuda lucu’ baik lucu dalam arti lucu melawak, lucu imut, lucu lugu, lucu apa pun, deh. Atau mungkin saya yang tidak bisa menangkap makna lucu yang dimaksud penulis? Entahlah, kalau saya melihat Gilang seperti pemuda kantoran kebanyakan. Bedanya, dia bekerja sebagai editor sastra dan suka membaca dan menulis, meski novelnya tak kunjung usai. 

Terlepas dari kekurangsukaan saya atas beberapa sifat Ayu dan kebingungan saya dengan makna pemuda lucu untuk Gilang, saya sangat menyukai Angel in The Rain. Terutama pada cara Windry menyajikan kisah ini dengan sudut pandang malaikat. Si malaikat ini menyapa pembacanya dengan panggilan ‘Sayang’. Menurut saya, Windry berhasil membuat sosok si malaikat begitu hidup dan berada di samping Gilang dan Ayu untuk menceritakan kisah mereka kepada pembaca.

Di novel ini, Windry banyak menyebut karya-karya sastra klasik. Sebut saja Wuthering Heights (cetakan pertamanya sangat dicari Ayu), Burmese Days (cetakan pertamanya dicari Gilang, tetapi kemudia dia menyerah untuk mencarinya), Lolita, Breakfast at Tiffany’s, Great Gatsby, dan lain-lain. Tidak lupa pula, penulis menyisipkan sindiran-sindiran halus terkait dunia penerbitan buku. Bagi yang dekat atau familiar dengan tren buku di Indonesia berikut dunia penerbitannya, sindiran-sindiran halus ini menggelitik sekali.

Saya melihat salah satu review di Goodreads menyatakan kalau Angel in The Rain banyak mengulang adegan di novel London: Angel. Saya mengiyakan hal itu, tetapi saya juga memahami mengapa Windry melakukannya. Angel in The Rain bukanlah sekuel resmi London: Angel. Pembaca bisa membaca novel ini sebagai sebuah novel utuh, bukan sebuah novel lanjutan dari novel sebelumnya. Oleh karena itu, penulis menaruh kembali adegan-adegan Gilang dan Ayu di novel London: Angel di sini agar tidak ada bagian cerita yang berlubang.

Adegan Ayu di kedai Afternoon Tea juga merupakan pengulangan dari cuplikan di novel Walking After You. Di novel Walking After You, sosok Ayu diceritakan dari sudut pandang Ann yang menganggapnya sebagai gadis berpayung merah misterius yang selalu membawa hujan ketika dia datang. Di novel ini, adegan Ayu di kedai Afternoon Tea tentu saja diceritakan dari sisi Ayu, dan pembaca mendapat jawaban atas keanehan-keanehan yang dilihat Ann.

Seperti judulnya, Angel in the Rain mengajak pembaca percaya pada keajaiban yang ada setiap hujan turun. Bahwa setiap rinainya turun serta malaikat yang membawa doa-doa kita kepada Yang Mahakuasa. 

“Allahumma shayyiban naafi’an”

Selasa, 07 November 2017

7 Cara agar Berhasil Puasa Beli Buku (a.k.a. Book Buying Ban)




Assalamualaikum, apa kabar?

Sudah lama tidak posting, kali ini saya mau sharing tentang Puasa Beli Buku atau istilah kerennya Book Buying Ban. Bagi para pecinta (dan penimbun) buku, istilah ini pasti familiar. Book Buying Ban atau Puasa Beli Buku adalah momen di mana para pecinta buku menahan diri dari godaan diskon buku besar-besaran, buku obralan yang berserakan, dan buku baru terbit yang wara-wiri di instagram.

Kenapa? Biasanya sih karena timbunan buku yang belum dibaca sudah setinggi gunung. Yang jadi pertanyaan, apakah itu akan berhasil? Apakah para pecinta (dan penimbun buku) itu mampu menahan diri dari berbagai godaan yang selalu menghadang?

Well, kalau melihat-lihat dari curhatan para pecinta buku di Instagram atau di blog sih, ada yang gagal dan ada yang berhasil. Alasannya macam-macam. Saya juga sering meniatkan diri untuk puasa beli buku, tetapi gagal terus. Lagi-lagi, kenapa? 

Godaan pertama adalah buku murah dan diskon besar. Meskipun sebesar-besarnya diskon buku paling sekitar 20-25% sih. Godaan paling berat buat saya adalah buku murah alias obralan. Dulu saya sering menyambangi basement Gramedia Depok yang sering menjual buku obral. Tempat paling nggak aman buat yang mau puasa beli buku. Tetapi saya tetap ke sana dan paling tidak membawa satu dua buku pulang ke rumah. Sekarang, lantai basement itu dipakai sebagai lahan parkir dan toko. Walaupun sedih karena nggak ada buku murah lagi, saya bersyukur juga dompet saya aman, hehehe.

Godaan lain selain buku murah dan diskon besar adalah window shopping di situs-situs penjualan buku. Atau situs penulis yang jualan buku dengan iming-iming merchandise, tanda tangan, edisi terbatas, harga yang lebih murah, dan sebagainya. Saya pun pernah kalah di bagian ini. Yang tadinya nggak mau beli buku, jadi tergoda, dan yah begitulah. Akhirnya beli buku juga.

Bulan Oktober kemarin, saya dengan bangga mengumumkan kalau saya berhasil puasa beli buku. Alhamdulillah, senangnya. Saya juga nggak nyangka, sih. Awalnya malah nggak kepikiran untuk puasa beli buku. Sudah ada niatan untuk main ke toko buku yang selalu ngasih diskon, tetapi nggak sempet-sempet. Tahu-tahu sudah bulan November. Dan sampai saat saya menulis ini, saya belum juga mengunjungi toko buku yang dimaksud. Hehehe….

Karena itu, saya jadi berpikir, apa saya melanjutkan puasa beli buku sampai Desember nanti, ya? Mungkin antara akhir tahun 2017 atau awal tahun 2018, baru beli buku lagi. Atau sekalian tunggu sampai bulan April nanti pas Islamic Book Fair? Hmm… kalau itu sepertinya terlalu lama. Saya mau melihat dulu apakah puasa beli buku bulan November ini berhasil.

Alasan saya puasa beli buku sebenarnya sederhana saja. Saya belum punya rak buku yang layak untuk menyimpan buku-buku saya. Saya hanya punya satu rak susun plastik yang sangat tidak cocok untuk menyimpan buku. Sebagian besar buku-buku saya ada di rumah orang tua. Buku-buku yang ada di rumah saya adalah buku-buku yang saya baru beli setelah menikah. Itu pun jumlahnya jauh lebih sedikit ketimbang buku-buku yang saya beli sejak kuliah. 

Selain tidak punya rak, cukup banyak buku yang belum saya baca. Kalau dihitung-hitung, dengan asumsi satu bulan membaca 4 buku, mungkin buku-buku di timbunan saya bisa sampai bulan Februari atau Maret 2018. Walaupun sepertinya sulit, saya tertantang untuk mencoba cara Marie Kondo mengenai timbunan buku.  

Buku yang kau punya adalah buku yang kau yakin akan membacanya langsung setelah membelinya. Jika tidak, sebaiknya lupakan saja. 

Nah, kali ini saya ingin berbagi tips agar berhasil puasa beli buku alias book buying ban

1. Tidak pergi ke toko buku atau tempat mana pun yang menjual buku. (terutama yang menjual buku murah).

2. Tidak membuka situs toko buku online, baik yang berbasis website, Instagram, Facebook, pokoknya semua, deh. Jangan pernah sekali pun.

3. Mengabaikan cuitan, update-an, postingan, atau apa pun yang berkenaan dengan promosi buku. Terutama dari akun-akun yang sifatnya personal. (misalnya dari sales buku, editor, promotor, atau penulis buku tsb.) Mengapa? Karena yang personal biasanya lebih mudah meruntuhkan niat kita puasa beli buku. Dia bisa dengan sangat halus merayu kita hingga akhirnya kita tergoda dan mengatakan, “Iya, saya beli bukunya.”

4. Ingat selalu timbunan yang kamu miliki. Kalau bisa foto timbunan tersebut dan lihat kembali foto itu setiap kali godaan ingin membeli buku baru muncul. Saya belum mencoba langkah ini, (belum sampai tahap melihat foto), saya hanya membayangkan buku-buku yang menumpuk di rumah dan itu sudah cukup membuat saya sadar kembali dari keinsafan.

5. Buat jadwal membaca dari buku-buku yang sudah ada. Jika jumlah buku yang kamu miliki bisa kamu baca hingga dua tahun ke depan, itu sudah lebih dari cukup menjadi alasan untuk puasa beli buku.

6. Untuk menghibur diri, buatlah daftar buku yang ingin kamu beli. Saya suka mengumpulkan foto-foto buku yang ingin saya beli, berikut nominal harganya. Jika godaan ingin membeli buku itu kumat, saya menghibur diri dengan melihat foto-foto wishlist saya dan menyemangati diri sendiri bahwa akan tiba waktunya saya memiliki buku-buku tersebut. Seperti pepatah bilang, semua akan indah pada waktunya. Hehehe...

7. Puasa beli buku bukan puasa menerima buku. Jadi, sama sekali nggak haram meminta dibeliin buku ke orang terdekat, (pasangan, sahabat, adik-kakak, dll) asal jangan keseringan. Boleh juga aktif ikutan giveaway dan kuis-kuis berhadiah buku yang bertebaran di media sosial. Siapa tahu di sana ada buku yang berjodoh denganmu, ya kan?


Nah, itulah sedikit tips puasa beli buku dari saya. Mudah-mudahan bermanfaat dan berhasil dilakukan.

Bagaimana denganmu? Pernah mencoba puasa beli buku juga? Mengapa? Ceritain dong caranya…

Jumat, 20 Oktober 2017

Resensi Buku: Corat-Coret di Toilet



Penulis: Eka Kurniawan
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: 2014
Halaman: 125
ISBN: 9786020303864


Ini adalah pertama kalinya saya membaca karya Eka Kurniawan, salah satu penulis yang karyanya memenangi banyak penghargaan dan diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris.

Saya tidak berekspektasi tinggi saat hendak membaca kumpulan cerpen ini, karena saya tidak terlalu terpengaruh dengan gembar-gembor pujian yang diberikan kepada sang penulis. Meskipun begitu, saya tetap penasaran, memang seperti apa, sih, tulisannya?

Ada sebelas cerita dalam kumcer ini. Saya tidak menangkap adanya benang merah dari seluruh cerita yang ditampilkan, jadi mungkin memang tidak ada tema khusus yang ingin disampaikan. Di resensi kali ini, saya akan mengulas beberapa cerpen yang menurut saya menarik.

Pertama, Corat-Coret di Toilet, yang dipilih menjadi judul utama kumcer ini. Awal membaca, rasanya biasa saja, tentang dinding kamar mandi yang tak pernah bersih dari tangan-tangan usil yang suka numpang curhat. Dari satu tulisan dibalas tulisan lainnya dan terus berbalas. Balas-membalas coretan itu sempat berhenti karena ada sebuah tragedi di toilet (you know lah ya, ‘tragedi’ semacam apa yang bikin orang males masuk toilet), tetapi berlanjut lagi karena ada seorang pahlawan yang kebelet dan harus masuk toilet tersebut. Terus-terus berbalas, hingga sampai di balasan terakhir yang menjadi penutup cerita. Pesannya dapet banget!

Kedua, Siapa Kirim Aku Bunga? Menurut saya, ini sebuah cerita yang romantis, manis, tetapi agak tragis. Tentang Meneer Belanda yang selalu mendapatkan buket bunga dan penasaran dengan si pengirim. Ceritanya sederhana, tetapi entah kenapa, bikin saya ingin menulis cerita tentang gadis penjual bunga juga. Hehehe….

Ketiga, Teman Kencan. Membaca cerita ini seperti kembali ke zaman 90an. Mungkin karena si tokoh utama menelepon dari telepon umum. Saat membacanya saya tidak berpikir keras untuk menebak akan dibawa ke mana cerita ini. Ternyata akhir ceritanya seperti yang sudah sering dialami orang-orang, baik di dunia nyata maupun di dunia fiksi. Yang unik adalah kalimat pertama di cerita ini, “Presiden yang menyebalkan itu tumbang sudah.” Cerita ini ditulis tahun 1999. :)

Ketiga cerita itulah yang paling menarik dan membekas bagi saya. Yang lainnya saya tidak mau berkomentar apa-apa, karena tidak tahu apa yang ingin dikomentari pula. Mungkin kapan-kapan saya akan membaca karya Eka Kurniawan yang lainnya, terutama novelnya. Jujur saja, saya masih penasaran.

Resensi Buku: Mayat dalam Perpustakaan



Penulis: Agatha Christie
Penerjemah: Ny. Suwarnia A.S.
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: Cetakan Ketujuh, April 2012
Halaman: 288
ISBN: 978-979-22-8285-6


Mrs. Bantry sedang bermimpi indah saat pelayannya membangunkannya dan mengabarkan ada mayat di dalam perpustakaan. Awalnya, Mrs. Bantry mengira itu masih termasuk mimpinya. Karena penemuan mayat di dalam perpustakaan persis sekali dengan cerita-cerita detektif yang suka dibacanya. Suaminya, Kolonel Bantry, sepakat bahwa Mrs. Bantry bermimpi dan mayat dalam perpustakaan itu hanya ada di kisah-kisah belaka.

Kenyataannya, Mrs. Bantry tidak bermimpi. Benar ada mayat di dalam perpustakaan. Mayat seorang gadis muda berambut pirang dengan gaun tidur. Gadis itu sepertinya bukan penduduk daerah itu. Entah bagaimana caranya ia bisa ada di dalam perpustakaan dalam kondisi mati dicekik. 

Inspektur Slack dan Polisi Palk datang untuk menyelidiki kejadian. Akan tetapi, Mrs. Bantry punya rencana lain. Ia lebih memilih meminta bantuan Miss Marple, perawan tua yang mahir dalam mengungkap misteri-misteri pembunuhan dan jeli melihat berbagai peristiwa di desa. Mrs. Bantry harus tahu siapa pembunuh gadis itu, mengapa ia dibunuh, dan bagaimana ia bisa sampai ke dalam perpustakaannya. Karena bagaimanapun, reputasinya dan suaminya bisa tercemar dengan adanya kasus ini. 

My Review

Salah satu penulis yang karyanya bikin saya penasaran adalah Agatha Christie. Apa sih yang membuat orang nge-fans banget dengan tulisan-tulisannya? Bukunya diterbitkan berseri-seri, dicetak ulang berkali-kali, bahkan diadaptasi ke dalam film juga.

Buku Agatha Christie yang pertama kali saya baca adalah And Then There Were None atau Sepuluh Anak Negro. Meskipun saya tidak ingat detil ceritanya, tetapi saya masih ingat bagaimana saya dibuat penasaran dan menebak-nebak siapakah pembunuhnya dan bagaimana caranya. Dan saya berhasil dibuat terkejut setelah tahu siapa pembunuhnya dan cara dia membunuh. 

Setelah itu, saya tidak membaca karya Agatha Christie yang mana pun sampai akhirnya sekarang membaca Mayat dalam Perpustakaan. Saya memilih buku ini hanya karena ada kata perpustakaan-nya dan berharap ceritanya cukup menarik dan menegangkan untuk dibaca. Ternyata harapan saya terlalu tinggi.

Saya sempat merasa bosan membaca buku ini. Saya tidak merasa bersimpati maupun berempati dengan gadis misterius yang dibunuh tadi. Apakah dia benar-benar dibunuh atau bunuh diri, apakah dia benar-benar orang asing atau kenalan Kolonel Bantry. Untuk yang terakhir, sejak awal saya yakin Mr. dan Mrs. Bantry tidak ada sangkut pautnya dengan kasus ini. Bahwa perpustakaan mereka hanya sedang bernasib nahas menjadi TKP pembunuhan misterius. Setelah cerita bergulir sekian lama, setelah Inspektur Slack bertanya ke sana kemari, dan setelah ditemukan satu mayat lagi, saya baru penasaran mengapa dan bagaimana gadis itu dibunuh. 

Kisah Mayat dalam Perpustakaan mungkin bukan kisah yang istimewa dari Agatha Christie. Beliau menulis cerita ini karena terinspirasi dari kisah-kisah di buku detektif yang seringkali mengangkat tentang penemuan mayat di perpustakaan. Tokoh-tokohnya terinspirasi saat beliau berada di sebuah hotel dan melihat sekumpulan orang, salah satunya adalah lelaki tua di kursi roda. 

Tokoh-tokohnya tidak ada yang berkesan, alur pemecahan misterinya juga agak membosankan. Mungkin saya harus membaca karya Agatha Christie yang lain lagi. Murder on Orient Express mungkin? Yang sebentar lagi akan tampil dalam bentuk film. Atau ada saran dari para pecinta Agatha Christie?



Review ini untuk BBI Read and Review Challenge