Love the One You’re with

Penulis: Emily Giffin
Penerbit: St. Martin’s Press
Tahun Terbit: 2008
ISBN: 978-1-4299-3774-0


Ellen Graham menjalani kehidupannya yang nyaris sempurna bersama suaminya, Andy, di New York sampai sebuah panggilan telepon mengusik kehidupannya. Panggilan telepon itu dari Leo, mantannya, yang dulu pernah begitu Ellen cintai. Sampai ia menikah dengan Andy pun, Ellen tidak mengerti mengapa ia dan Leo berpisah. Bukan berarti Ellen tidak mencintai suaminya. Ia sangat mencintai Andy. Menikah dengan Andy adalah anugerah dan kebahagiaan baginya. 

Namun, panggilan telepon dari Leo seperti membuka kenangan lama bagi Ellen. Terlebih ketika Leo meminta bertemu dengannya. Ellen mulai bertanya-tanya, jika ia bisa mengulang waktu dan memperbaiki hubungannya dengan Leo, dengan siapakah dia saat ini? Dengan Andy yang begitu baik hati dan membuatnya nyaman atau dengan Leo yang membuat perasaan cintanya begitu menggebu-gebu?

My Review

Ini pertama kalinya saya membaca karya Emily Giffin. Jujur saja saya tertarik membacanya karena judul yang begitu menohok dan sesuai dengan kehidupan saya saat ini, #eh.

Love the One You’re with bercerita tentang Ellen Graham yang gagal move on dari mantannya, Leo, meskipun ia sudah menikah dengan Andy. Andy sendiri adalah kakak laki-laki dari teman sekamar sekaligus sahabat dekatnya di kampus, Margot. 

Jadi, Ellen dan Andy ini berasal dari dua dunia yang berbeda. Bisa dibilang Ellen adalah perempuan biasa-biasa saja dengan kondisi ekonomi yang biasa-biasa juga, plus sudah tidak memiliki ibu. Sementara Andy dan Margot berasal dari keluarga kaya raya dan terpandang. Meskipun mereka berasal dari keluarga mapan, Andy dan Margot bukan tipe orang kaya menyebalkan nan sombong, tetap rendah hati dan baik ke hampir setiap orang.

Meskipun Ellen sangat dekat dengan Margot sejak kuliah sampai mereka bekerja, bukan berarti sejak awal dia mengincar Andy. Sebelum menikah dengan Andy, Ellen sempat berpacaran dengan Leo, laki-laki yang membuatnya merasakan cinta yang begitu dalam dan menggebu-gebu.

Masalahnya adalah ketika Leo muncul kembali ke kehidupan Ellen setelah menghilang tanpa jejak begitu lama. Ellen mulai gamang dan berandai-andai. Ditambah lagi saat Ellen harus meninggalkan New York, meninggalkan pekerjaannya sebagai fotografer, dan tinggal di Atlanta. Di sebuah rumah besar, dekat dengan keluarga dan teman-teman Andy. Ellen merasa tidak betah dan hampa. Di saat seperti itu, Leo muncul lagi mengajaknya mengerjakan sebuah proyek bersama. 

Yah, move on memang susah. Apalagi alasan putusnya sebuah hubungan nggak jelas. Makin sulit saja move on. Pasti masih terbersit pertanyaan, bagaimana kalau nggak putus, bagaimana kalau hubungan ini masih bisa dipertahankan, apakah bakal tetap berpisah atau malah bersama selamanya.

Meskipun di Goodreads banyak yang mengatakan buku ini kurang bagus, saya cukup menyukai cerita Ellen dan kegalauannya. Lumayan terhubung-lah dengan perasaan-perasaan dia, dengan apa yang dia pikirkan. Emily Giffin dapat menyajikan cerita ini begitu dekat dengan kehidupan sehari-hari, baik dari tokoh-tokohnya maupun alur ceritanya. Namun, hal itu juga bisa menjadi celah kekurangan. Alur yang terlalu biasa bikin pembaca bosan dan nggak tertarik untuk terus membaca buku ini. 

Saya sempat merasa agak bosan dan pegal membaca beberapa bagian yang menurut saya cukup panjang. Akan tetapi, semakin mendekati akhir cerita malah semakin penasaran, kira-kira Ellen memilih siapa. Sebenarnya saya sudah menebak siapa yang akan dipilih Ellen, tetapi tetap penasaran apakah tebakan saya benar. Ternyataaa…. Benar!

Saya sendiri merasa relate banget dengan Ellen pada bagian dia pindah ke Atlanta. Dia mau pindah ke Atlanta, meninggalkan pekerjaannya dan kemungkinan bertemu dengan Leo, hidup dekat keluarga besar Andy, karena berpikir ini baik untuk pernikahannya dengan Andy. Namun, saat di sana Ellen merasa terasing, homesick dengan tempat tinggalnya yang dulu. Yah, mungkin tidak sedikit perempuan yang merasakan hal yang sama dengan Ellen. Iya, kan? Hehehe.

Pertanyaannya adalah, dengan segala hal yang membuat kita berandai-andai itu, siapakah atau apakah yang akan kita pilih? Kita sendiri yang memutuskan.

Saya sendiri memutuskan merekomendasikan buku ini untuk dibaca bagi para istri yang mungkin sedang galau teringat mantan, hahaha, atau yang masih homesick dengan tempat tinggal lama karena mesti ikut suami berpindah tempat. Meskipun beberapa bagian di novel ini terasa panjang dan agak membosankan, tetapi layak dibaca sampai akhir. 

Bagian yang paliiiing saya suka:


And that's when my cell phone rang and I heard his voice. A voice I hadn't heard in eight years and sixteen days.

"Was that really you?" he asked me. His voice was even deeper than I remembered, but otherwise it was like stepping back in time. Like finishing a conversation only hours old.

"Yes," I said.

"So," he said. "You still have the same cell number."

Then, after a considerable silence, one I stubbornly refused to fill, he added, "I guess some things don't change."

"Yes," I said again.

Because as much as I didn't want to admit it, he was sure right about that.

Yang ini juga:


Where are you now?" Leo asks.

I inhale sharply as I consider my answer. For one beat I think he means the question in a philosophical sense—Where are you in life?—and I nearly tell him about Andy. My friends and family. My career as a photographer. What a good, contented place I'm in. Answers that, until recently, I scripted in the shower and on the subway, hoping for this very opportunity. The chance to tell him that I had survived and gone on to much greater happiness. But as I start to say some of this, I realize what Leo is actually asking me. He means literally where am I sitting or standing or walking.

(Sepertinya cara berpikir saya dan Ellen mirip-mirip di dua bagian ini, hahaha)

Kutipan yang juga saya suka:
Sometimes there are no happy endings. No matter what, I'll be losing something, someone. But maybe that's what it all comes down to. Love, not as a surge of passion, but as a choice to commit to something, someone, no matter what obstacles or temptations stand in the way. And maybe making that choice, again and again, day in and day out, year after year, says more about love than never having a choice to make at all.







Komentar