Sabtu, 30 Mei 2015

Resensi Buku: Magyk (Septimus Heap #1)



Penulis             : Angie Sage
Penerbit           : Katherine Tegen Books
Tahun Terbit    : October 2007
Halaman          : 317


“The seventh son of the seventh son, aptly named Septimus Heap, is stolen the night he is born by a midwife who pronounces him dead. That same night, the baby's father, Silas Heap, comes across a bundle in the snow containing a new born girl with violet eyes. The Heaps take this helpless newborn into their home, name her Jenna, and raise her as their own. But who is this mysterious baby girl, and what really happened to their beloved son Septimus?

The first book in this enthralling new series by Angie Sage leads readers on a fantastic journey filled with quirky characters and magykal charms, potions, and spells. Magyk is an original story of lost and rediscovered identities, rich with humor and heart.” (Goodreads)

Sudah lama sebenarnya ingin membaca serial Septimus Heap karya Angie Sage ini. Kebetulan seluruh seri buku ini sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Hanya saja mencari buku pertama, Magyk, lumayan susah, hingga baru sekarang mendapat kesempatan untuk membacanya.

Meskipun mengangkat dunia sihir, serial Septimus Heap jauh berbeda dengan serial Harry Potter. Jika dunia sihir Harry Potter berdampingan dengan dunia manusia biasa, maka dunia Magyk-nya Sage rasanya seperti dunia antah berantah, di mana terdapat manusia biasa dan manusia yang memiliki kemampuan sihir.

Untuk Magyk sendiri, ceritanya berpusat pada petualangan keluarga Silas Heap menyelamatkan anak angkat mereka Jenna, yang ternyata adalah seorang Putri. Pihak yang dulu membunuh Ratu, alias ibu Jenna, menginginkan Jenna untuk dibunuh juga. Namun, seorang penyihir luar biasa bernama Marcia Overstrand datang memperingati Silas dan membawa Jenna ke tempat yang aman.

Selama perjalanan, Jenna ditemani Nicko, anak keenam Silas, Marcia, dan Silas sendiri. Mereka hendak bersembunyi di rumah Bibi Zelda, seorang Penyihir Putih yang masih ada hubungan keluarga dengan Silas. Di perjalanan, mereka bertemu dengan seorang anak laki-laki, Boy 412, yang tadinya adalah anggota Young Army di kerajaan.

Ceritanya sendiri sebenarnya seru, dan dunia Magyk yang diperkenalkan oleh Sage benar-benar menarik. Namun, kadang ada beberapa bagian yang membosankan atau terlalu panjang hingga membuat saya malas membaca. Tapi tetap saja buku ini membuat saya penasaran dan akhirnya saya tetap meneruskan membaca.
Salah satu yang menarik dari serial Septimus Heap adalah penggunaan huruf tebal pada kata-kata yang mengandung Magyk. Contohnya: 

"We'll keep the old ones though," said Marcia. "Clean," she told them.
"Fold." The socks did what they were told; they shook off the dirt, which
landed in a sticky pile on the hearth, then they neatly folded themselves
up and lay down by the fire next to Jenna.

Kata yang ditebalkan berarti saat itu si pengucap sedang melafalkan mantra sihir. Rapalan mantra lainnya ada juga yang berbentuk seperti syair. Biasanya itu digunakan untuk sihir yang lebih rumit.

Beberapa makhluk aneh bin ajaib pun ada di cerita ini seperti Boggart, Magog, Water Nixie, dan masih banyak lagi. Oh ya, kalau di dunia Harry Potter kita mengenal burung hantu sebagai pengirim surat, maka di dunia Magyk, penyampai pesannya adalah tikus, yang biasa disebut Message Rat.

Mungkin, banyak orang yang mau tidak mau membandingkan  serial Harry Potter dengan Septimus Heap. Saya sendiri pun melakukannya. Dan menurut saya, kedua-duanya memiliki cerita yang menarik dan layak dibaca bagi siapapun yang menyukai dunia fantasi dan petualangan.


Senin, 25 Mei 2015

Personal Journal: Bookish Wish List



Sabtu lalu, saya jalan-jalan ke Gramedia Depok dan menemukan satu rak yang bikin saya ingin menjerit-jerit kesenangan *lebay.

Jadi, rak itu isinya buku-buku impor yang udah lama banget ada di daftar book wishlist tak tertulis saya. Kenapa nggak tertulis? Soalnya waktu itu saya masih bingung bagaimana cara mendapatkannya. Memang sih, sekarang sudah ada Amazon, Book Depository, bahkan ada beberapa toko buku online di Indonesia yang melayani pemesanan buku-buku impor. Tapi, berhubung saya ini belum punya pengalaman seputar jual beli online, jadi masih agak ragu gitu. Niatnya sih, pengennya beli langsung aja di negaranya, hehehe…

Nah, pas saya lewati rak yang satu ini, aduuuh… rasanya pengen punya uang berjut-jut yang boleh dihabisin di toko buku aja deh.. koleksinya bener-bener menggoda iman banget!

Ini beberapa penampakan buku yang bikin saya ngiler…

The 13 Trilogy by Michelle Harrison


Saya punya versi bahasa Indonesia, yang diterbitkan oleh Penerbit Dastan. Ceritanya seruuu banget, sayangnya Dastan baru menerbitkan dua buku, buku terakhir, The 13 Secrets, belum diterbitkan. Waktu googling tentang The 13 Trilogy inilah, saya menemukan cover asli dari UK, yang ternyata unyuuu banget. Saya sih nggak keberatan beli lagi demi memiliki cover yang unyu. Tapi yang berat kantongnya euy...

Harry Potter Series by JK Rowling


Ini wujud bindingnya

Salah satu impian saya adalah punya satu set buku Harry Potter terbitan Scholastic yang bindingnya kalau disatukan menjadi gambar Hogwarts. Sebelum ketemu rak ini, saya berniat untuk ke US langsung saja lah.. hahaha… Eh, sekarang udah ada di Depok!

Colorful Classic Literature


Ah, ini juga manis-manis banget covernya. Bahan covernya semacam kain gitu. Warna-warna pastelnya bikin pengen dibawa pulaaaang… 

Lang Leav’s Books

 
Lullabies dan Love and Misadventure. Karya Lang Leav ini udah wara-wiri di Tumblr dan saya penasaran banget pengen baca seluruh isinya. Sempet kepikiran untuk beli di Amazon. Eh, udah ada di Depok juga… 

Let It Snow & If I Stay

 
Buku Let It Snow sebenernya udah diterbitin oleh GPU, dan judulnya diterjemahkan menjadi Dalam Derai Salju. Tapi saya kurang suka covernya. Saya lebih suka cover yang ini…
Tapi cover yang ini juga bolehlah…

Sedangkan If I Stay juga sudah diterjemahkan oleh GPU dan saya sudah punya terbitan pertamanya. Versi movie-tie-in dengan foto Chloe Moretz ini lumayan bagus juga untuk dikoleksi.

 The Maze Runner by James Dashner


Salah satu YA Dystopia yang bikin saya penasaran karena review-review di Goodreads yang kontroversial. Banyak yang bilang nggak seru, tapi ada juga yang bilang bagus dan menarik. Karena macam-macam komentar itulah, saya jadi penasaran pengen baca. Apalagi udah dibuat filmnya juga. Tapi kalau yang ini sih, lebih pengen versi Bahasa Indonesia aja, hehehe… 

Jamie McGuire’s Books

 
Penasaran sama buku-buku Jamie McGuire yang satu ini, dan saya belum tahu apakah sudah diterbitkan di Indonesia atau belum. Sebenernya tertarik sama judulnya sih… 

Qanita's New Covers


Kalau ini sih di rak yang berbeda. Seneng banget pas tahu Qanita menerbitkan ulang literatur klasik dengan desain cover yang jauh lebih oke. Sebelumnya, cover Anne of Green Gables itu foto gitu, dan saya kurang tertarik belinya. Harapannya sih, ada lebih banyak lagi literatur klasik terbitan Qanita yang sampulnya diperbarui. Contohnya Trilogy Emily karya Lucy M. Montgomery, yang cover sebelumnya foto juga. Kalau Qanita nerbitin ulang dengan cover yang lebih bagus, kemungkinan saya beli lagi deh bukunya...


Jumat, 22 Mei 2015

Resensi Buku: The Scarecrow and His Servant (Si Boneka Jerami dan Pelayannya)



Penulis             : Philip Pullman
Penerjemah      : Dibyareswari U.P.
Penerbit           : Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit    : Desember 2009
Halaman          : 200


Pada suatu hari, Mr Pandolfo tua membuat sebuah boneka jerami untuk menakut-nakuti burung yang datang ke sawahnya. Sayangnya, boneka jerami itu sering dicuri petani-petani lain. Si boneka jerami pindah dari satu sawah ke sawah yang lain, hingga pada suatu malam, terjadi badai. Badai itu membawa kilat yang menyambar si boneka jerami dan menjadikannya hidup.

Ketika pagi, si boneka jerami melihat sekeliling dan menemukan seorang anak laki-laki. Anak itu bernama Jack, semalam ia berlindung ketakutan dari gemuruh badai. Si boneka jerami meminta tolong pada Jack untuk memasangkan satu kaki lagi untuknya, karena saat itu ia hanya punya satu kaki. Jack yang kebingungan, menurut saja pada si boneka dan memasangkan kaki baru untuknya. Si boneka jerami pun bisa bergerak dengan leluasa.

Melihat kepatuhan Jack, si boneka jerami menawari Jack untuk menjadi pelayan pribadinya. Tugasnya menemani dan melayani kebutuhan si boneka jerami selama mereka bertualang nanti. Jack setuju karena ia sebatang kara dan tidak tahu apa yang harus dia lakukan. Maka sejak itu, Jack resmi menjadi pelayan boneka jerami dan memanggilnya Tuan Boneka Jerami.

Tuan Boneka Jerami ingin pergi menuju Spring Valley. Ia memiliki keyakinan hati, bahwa Spring Valley adalah tanah miliknya yang subur dan indah. Jika ia berhasil sampai di sana, ia dan Jack akan hidup makmur dan nyaman. Namun, perjalanan menuju Spring Valley ternyata jauh dan penuh rintangan. Mereka berdua harus menghadapi berbagai petualangan untuk sampai di tanah impian.


The Scarecrow and his Servant

Cerita yang menarik untuk anak-anak, di mana si Boneka Jerami terkadang memiliki tingkah dan pemikiran ajaib, yang seringkali menyulitkan kondisinya dan Jack. Di sisi lain, meskipun hanya seorang anak kecil, Jack mampu mengimbangi si Boneka Jerami dan menyelamatkannya dari berbagai kesulitan.

Di cerita ini, Pullman tidak hanya berkisah tentang petualangan si Boneka Jerami dan Jack, tapi juga menyelipkan kritik sosial tentang keberadaan keluarga pengusaha (bernama Buffaloni) yang ingin merebut tanah Spring Valley untuk menjadi lahan tempat berdirinya pabrik-pabrik beracun dan menyingkirkan para petani yang tinggal di sana. 

Yang unik adalah bagaimana orang-orang yang menjumpai Si Boneka Jerami dan Jack bersikap. Ada yang bersikap normal, layaknya manusia yang ketakutan melihat boneka jerami dapat hidup dan berjalan, ada juga yang menganggap si boneka jerami adalah monster dan pembawa masalah, tapi ada juga yang mengistimewakan si boneka jerami.

Dengan terjemahan yang nyaman dibaca dan ilustrasi yang menarik, plus ide cerita yang brilian, sebenarnya buku ini sangat menarik untuk dibaca. Hanya saja, ukuran hurufnya terlalu kecil dan rapat jika buku ini memang dimaksudkan untuk anak-anak.

[Review ini diikutsertakan dalam Lucky No. 15 Reading Challenge kategori Randomly Picked]

Rabu, 13 Mei 2015

Resensi Buku: Sunshine Becomes You


Penulis             : Ilana Tan
Penerbit           : Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit    : Cetakan ke-8, November 2013
Halaman          : 432


Alex Hirano adalah seorang pianis terkenal di Amerika. Albumnya laris manis terjual, konsernya digelar di mana-mana. Tapi kini ia sedang buntu dan suntuk. Belum ada satu lagu pun yang ia ciptakan untuk mengisi album terbarunya. Di tengah kebosanannya, Ray, adiknya, datang menjenguk Alex.

Ray mengajak Alex berjalan-jalan daripada suntuk sendirian di apartemennya. Mereka pun pergi ke klub tari Small Steps, tempat Ray biasa latihan. Tak disangka, niat awal yang hanya jalan-jalan berujung menjadi bencana. Seorang gadis bernama Mia Clark jatuh dari tangga dan menimpa tubuh Alex. Karena hal itu, tangan kiri Alex terkilir dan tidak bisa bergerak untuk waktu yang cukup lama.

Bagaimana jadinya jika seorang pianis terkilir tangannya? Otomatis semua jadwal konser Alex dibatalkan. Ia tidak bisa memainkan piano. Ia bahkan tak bisa membuat kopi dengan satu tangan. Karena hal itu, Alex amat membenci Mia. Bahkan ia menjuluki gadis itu Malaikat Kegelapan.
  
Mia yang merasa bersalah, dan tidak sanggup menanggung biaya pembatalan konser Alex, akhirnya menawarkan diri untuk membantu Alex melakukan apa saja yang tidak bisa dilakukannya dengan tangan satu. Alex setuju. Mia pun menjadi pesuruh sekaligus pengurus rumah tangga Alex. Namun, lama kelamaan, kehadiran Mia yang awalnya dianggap Alex sebagai bencana, malah membuat hidupnya berubah.


[Awas, sepertinya mengandung Spoiler]

Sejak awal membaca, terutama saat Ray bercerita kepada Alex tentang Mia, saya sudah bisa menebak jalan ceritanya seperti apa. Dan ketika akhirnya Alex bertemu dengan Mia lewat kejadian semacam itu, saya semakin yakin apa yang saya tebak benar. Lalu, ketika ada adegan di mana Mia harus meminum beberapa pil, saya bisa menebak akhirnya seperti apa. 

Well, jadi apakah novel ini sebegitu mudah ditebaknya? Saya bilang ya.
Tokoh-tokohnya pun tipikal karakter yang sering saya lihat di drama korea *ups, walaupun tidak bermaksud mengeneralisir sih.

Alex, tipikal cowok dingin, suka marah-marah, tapi sebenernya baik dan perhatian.

Ray, tipikal cowok yang… apa ya? Dia jelas-jelas menyukai Mia, jelas lebih ramah dibanding kakaknya, tapi tidak melakukan sesuatu yang berarti untuk mendapatkan Mia.

Dan Mia, tokoh perempuan yang telihat riang, bahagia, cerdas dan berbakat, tapi merahasiakan sebuah penyakit yang dideritanya.

Saya nggak tahu, apakah karena saya yang nggak terlalu suka romance atau gimana, tapi saya tidak merasa empati dengan tokoh-tokoh utamanya. Saya malah merasa cukup tertarik dengan tokoh Karl, manajer Alex, yang suka bercanda dan menggoda. Saya bahkan sempat berharap Mia jadinya sama Karl, supaya tebakan saya salah, hahahaha…

Satu-satunya hal yang menurut saya keren dari karya Ilana Tan yang satu ini (dan mungkin di setiap novelnya) adalah gaya bercerita yang mengalir. Sangat nyaman dibaca. Sangat bisa menggambarkan kejadian atau perasaan dengan cara yang mudah dipahami dan nggak bikin kening berkerut. Jadi, walaupun saya sudah bisa menebak akhir cerita, tetap saja saya dengan senang hati membaca buku ini sampai habis. Sekaligus untuk membuktikan tebakan saya.

Well, saya sengaja membaca buku ini untuk memperluas dan memberi kesempatan pada genre lain untuk masuk daftar buku bacaan saya. Apalagi, Sunshine Becomes You merupakan buku best seller, jadi saya punya harapan yang cukup tinggi untuk buku ini. Tapi ternyata, yah tidak bisa dibilang mengecewakan juga sih, tapi juga tidak memenuhi ekspektasi.Walau bagaimanapun, bukunya cukup bagus kok untuk jadi bacaan ringan. 

Kabarnya, novel ini akan diangkat ke layar lebar tahun ini. Saya jadi penasaran siapa yang memerankan tokoh-tokohnya...


 [Review ini diikutsertakan dalam Lucky No. 15 Reading Challenge kategori Something Borrowed]