Rabu, 22 Januari 2014

Resensi Buku: Breakfast at Tiffany's



Penulis            : Truman Capote
Penerjemah    : Berliani M. Nugrahani
Penerbit           : Serambi
Tahun Terbit    : 2009
Halaman         : 149


Diceritakan dari sudut pandang tokoh ‘Aku’ yang berkunjung kembali ke tempat tinggal lamanya. Sebuah apartemen bertembok bata cokelat di East Seventies, New York. Tokoh ‘Aku’ kembali ke sana karena ditelepon sahabat lamanya, Joe Bell, yang juga memiliki sebuah bar tempat dulu ia biasa berkunjung.

Joe Bell memintanya datang untuk memperlihatkan sebuah patung yang dikirim oleh Mr. Yunioshi, orang Jepang yang juga tinggal di apartemen yang sama dengan ‘Aku’. Patung kayu itu berasal dari Afrika, dengan ukiran wajah yang mirip sekali dengan sahabat lama mereka, Holly Golightly.

Holly Golightly, wanita muda, cantik, yang mencari uang dari pria-pria kaya di New York. Ia terlihat ceria, santai, modis, suka berbicara panjang lebar, namun ada keluguan dan kepolosan yang tersimpan dalam dirinya. Apartemen Holly tepat di bawah apartemen ‘Aku’. Dan itu mau tidak mau membuat mereka saling mengenal dan bersahabat. Meski persahabatan itu baru dimulai cukup lama setelah ‘Aku’ tinggal di apartemen yang sama.

Persahabatan itu dimulai saat Holly dikejar-kejar oleh seorang pria kenalannya, dan dia sangat ketakutan. Hingga akhirnya memanjat ke atas, ke kamar ‘Aku’. Holly memanggil tokoh ‘Aku’ dengan nama Fred, karena menurutnya, ia mirip sekali dengan Fred, abangnya. Holly juga bercerita tentang kebiasaannya mengunjungi Sally Tomato, seorang lelaki tua yang ditahan di penjara Sing Sing karena mengedarkan narkoba. Ia mendapatkan bayaran dari kunjungannya yang dilakukan tiap hari Kamis .

Persahabatan itu terus berlanjut, hingga tokoh ‘Aku’ makin mengenal kepribadian dan sejarah hidup Holly. Termasuk kebiasaannya mengunjungi toko perhiasan Tiffany’s ketika ia merasa gelisah. Menurut Holly, di sana adalah tempat terbaik untuk menenangkan diri, karena tidak mungkin ada hal-hal buruk terjadi di tempat seindah Tiffany’s.

Cerita Breakfast at Tiffany’s di novel dan filmnya memang sedikit berbeda. Dan tentu saja, lebih menyenangkan di filmnya, karena jalan ceritanya mengikuti selera Hollywood. Cerita di novelnya, terutama akhirnya, agak lebih pahit, karena penulis membuatnya menggantung. Berbeda dengan di film, yang ditutup dengan adegan happy ending. Tapi, walau bagaimanapun, menurutku, baik film ataupun novelnya tetap bagus. Mungkin, karena aku nonton filmnya dulu, baru baca bukunya kali ya? Jadi, bukan mempertanyakan kenapa tokoh ini nggak ada atau kenapa adegan ini nggak ada, malah, oh jadi ini alur cerita aslinya, oh, jadi mereka begini kenalannya. Yah, seperti itulah, hehehe…

Satu hal yang baru aku sadari saat aku selesai membaca buku ini adalah, di novel, tokoh ‘Aku’ sampai akhir cerita nggak menyebutkan namanya sama sekali. Sedangkan di film, dia diberi nama Paul Varjak.

Oya, di film, entah kenapa, aku ngeliat tokoh ‘Aku’ alias Paul, sepertinya sayang banget sama Holly. Sedangkan di buku, memang diceritakan dia punya perasaan khusus pada Holly. Tokoh ‘Aku’ mencintai Holly. Tapi nggak terasa se’dalam’ yang di film. Mungkin juga, karena akting George Peppard (yang memerankan Paul) bagus kali ya?

Satu lagi, walaupun di film berakhir happy ending, tapi ada kalimat dari Paul Varjak yang bagus banget, dan tentu nggak ada di bukunya, karena endingnya berbeda.

“People do fall in love, people do belong to each other, because that's the only chance anybody's got for real happiness.”

Audrey Hepburn singing Moon River on Breakfast at Tiffany's movie.



[Review ini diikutsertakan pada Lucky No.14 Reading Challenge kategori Book vs Movie.]



2 komentar:

  1. ahhh pengen baca, buku ini ada di timbunanku udah lamaaa...tapi aku penasaran pengen nonton filmnya juga. nice review!

    BalasHapus
  2. Huaa... Makasih mbak... Filmnya juga seru kok ;)

    BalasHapus