Resensi Buku: Midnight for Charlie Bone


Penulis               : Jenny Nimmo
Penerjemah        : Iryani Syahrir
Penerbit             : Ufuk
Halaman            : 407

Buku ini sebenernya udah lama banget saya beli. Waktu Indonesia Book Fair bulan Desember 2011 lalu. Tapi, karena pas baca bagian awal cerita ini, nggak menarik hati saya untuk melanjutkannya, maka saya pun tidak lagi menyentuh buku itu, sampai liburan semester 4 tiba. Dan menamatkan membacanya menjadi sebuah tantangan tersendiri untuk saya.
Midnight for Charlie Bone berkisah tentang Charlie, sang tokoh utama, anak lelaki berumur sepuluh tahun, yang tidak tahu kalau dirinya memiliki kekuatan yang tidak biasa. Oh ya, genre novel ini adalah fantasi anak-anak. Sekilas, agak sedikit mirip dengan Harry Potter. Tokoh utama seorang anak laki-laki, memiliki kekuatan tidak biasa, dan dikirim ke sekolah asrama khusus, serta menjadi jagoan untuk melalui serangkaian masalah.
Dalam kehidupan sehari-harinya, Charlie tinggal bersama ibunya, nenek dari pihak ibu, yang ia panggil Maisie, dan nenek dari pihak ayah yang dipanggil Nenek Bone. Ayah Charlie dikabarkan telah meninggal ketika ia masih kecil. Charlie memiliki sahabat karib, Benjamin, yang tinggal di dekat rumahnya, dan anjing peliharaan Benjamin bernama Runner Bean.
Ternyata, Charlie itu memiliki kekuatan yang diturunkan secara turun temurun oleh keturunan Raja Merah. Ia bisa mendengar suara dari sebuah foto. Menyadari hal itu, nenek Bone, mengharuskan Charlie untuk sekolah di Bloor’s Academy, sekolah asrama di mana anak-anak yang memiliki kekuatan tidak biasa tinggal.
Saya agak lupa cerita awalnya gimana, karena bacanya udah lama, dan saya nggak mau ulang baca lagi. Yang jelas, Charlie ini mendapat sebuah kotak misterius dari Miss Julia Ingledew. Kotak itu milik kakak Miss Julia, Dr Tolly, yang rela menukar anaknya sendiri untuk mendapatkan kotak itu. Nah, intinya, tugas Charlie adalah menemukan anak Dr Tolly, yang ternyata adalah anak perempuan seusia dirinya, yang dikabarkan berada dalam pengaruh hipnotis seseorang.
Menurut saya, cerita Charlie ini, pada awalnya sangat membosankan. That’s why, saya pernah meninggalkannya. Tapi, karena beberapa blogger buku pernah mereview buku ini, dan komentarnya cukup bagus, maka saya pun berniat menamatkannya dan berhasil! Yeay!
Baru kerasa seru, pas Charlie udah masuk di Bloor’s Academy, dan bertemu dengan teman-teman yang juga memiliki kekuatan aneh. Tapi tidak semua murid Bloor’s Academy punya kekuatan aneh sih, hanya beberapa. Di sinilah, Charlie, bersama teman-temannya, berusaha mengungkap misteri kotak Dr Tolly, berusaha menemukan anak perempuannya, dan menyadarkannya.
Saya sendiri menyukai beberapa teman Charlie yang menyenangkan, seperti Fidelio dan Olivia. Kalau Benjamin, entah kenapa, yang ada di kepala saya, adalah anak lelaki gendut berwajah melas, yang lemot. (aduh, kasian amat ya?) 
Saya juga suka sama kekuatan-kekuatan yang dimiliki keturunan Raja Merah. (Ohya, legenda Raja Merah sendiri ditulis di halaman pertama, sebagai prolog, sekaligus clue.) Misalnya, ada Paman Paton yang bisa menyalakan lampu dengan tubuhnya. Ada Gabriel, yang bisa mengetahui ‘rasa’ barang-barang yang dipakainya. Ia tahu mengenai sejarah suatu barang, siapa yang memakainya, dengan hanya menggunakan barang itu. Ada juga Billy yang bisa berkomunikasi dengan binatang. Buat saya, yang paling seru itu kekuatan Charlie dan Gabriel.
Kalau ditanya, ingin jadi siapa di cerita Charlie Bone ini, saya ingin menjadi Miss Julia Ingledew. Dia bekerja di toko buku miliknya sendiri, yang dipenuhi dengan tumpukan buku-buku tua nan usang. Seru banget rasanya, menghabiskan waktu bersama buku-buku yang menceritakan kisah masa lalu.
Cerita Charlie Bone ini berseri, hingga buku ke enam. Dan saya baru lihat buku keduanya di Indonesia. Di negara asalnya, sudah ada enam bukunya. Oh ya, saya cukup tertarik dengan penulisnya, Jenny Nimmo, karena tinggal di Wales dan menjadikan daerah itu sebagai inspirasinya. Dari dulu, saya memang tertarik sekali dengan daratan Britania Raya.
Selamat puasa!

Komentar