Halo, apa kabar?
Sudah lama banget ya nggak buka blog ini. Hampir setengah tahun lebih. Padahal niatnya akhir tahun aku mau bikin post buku bacaan terbaik tahun 2025 dan reading list dan wishlist tahun 2026. Tiba-tiba sudah Juni 2026 saja 🥺
Yah, walau terlambat, aku tetap akan membuat post buku yang kubaca sepanjang sisa 2025. Semata-mata untuk memudahkan melihat hasil bacaanku selama setahun.
Dan ternyata sisa akhir tahun 2025 aku baca dua buku saja dari penulis yang sama, yaitu The Lost Bookshop dan The Story Collector karya Evi Woods/Evi Gaughan.
Review singkatnya sudah aku tulis di akun Goodreads. Di sini aku akan bahas sekilas saja. Untuk premis, dua buku ini sebenarnya sangat menarik minatku banget.
Yang pertama, The Lost Bookshop, tokohnya bernama Opaline yang nantinya akan menjadi semacam 'book dealer' dan Martha serta Henry yang menemukan toko buku misterius. Yah, pokoknya premisnya tuh kayak yang menarik banget, ternyata pas dibaca... Yah, begitulah. Terasa terlalu panjang dan ada beberapa bagian (baik di cerita masa lalu maupun masa kini), yang kayaknya nggak penting-penting banget.
And by the way... Kenapa ya, penulis luar (dan aku lebih sering nemuin penulis perempuan) sering bikin dual timeline yang kadang nggak terlalu 'kuat' gitu 'keterikatan' antara tokoh masa lalu dan masa kini-nya. Maksudku, kenapa nggak fokus satu timeline aja dan menguatkan cerita di situ.
Seperti di The Lost Bookshop ini, jujur, aku lebih tertarik bagiannya Opaline. Tapi, di bagiannya Opaline juga ada beberapa bagian yang 'meh'. Nah, di bagia Martha dan Henry, menurutku juga banyak 'kurang'nya, dan lebih ke cerita romance ketimbang pencarian toko buku misterius. Dan unsur magical realism-nya tuh agak gimanaa ya.
Entahlah, apa mungkin aku yang belum terbiasa dengan gaya novel yang seperti ini. Di Goodreads banyak yang ngasih rating bagus sih, tapi ada juga yang mirip sama aku. Jadi, intinya tergantung selera.
Nah, The Story Collector ini, awalnya juga menarik nih. Tentang legenda peri gitulah, pohon yang nggak boleh ditebang, tapi tetap ditebang, dan akhirnya membawa 'kutukan'. Di Indonesia juga familiar ya sama konsep kayak gini.
Aku pikir bakal fokus ke legenda peri tersebut dan 'kutukan'nya, ternyata nggak juga. Dan lagi-lagi pakai dual timeline. Sementara menurutku, dual timeline ini nggak semakin 'menguatkan' alur cerita. Jadi, yah..., begitulah.
Selama tahun 2025, buku yang kubaca jauh menurun dibanding tahun-tahun sebelumnya. Dan tahun 2026 lebih terjun bebas lagi. Tapi mudah-mudahan, setelah menulis post ini, aku bisa posting review-review buku yang sudah kubaca dari beberapa tahun yang lalu, yang belum sempat kutulis reviewnya.


Komentar
Posting Komentar