Senin, 11 November 2013

Resensi Buku: Gadis Jeruk


Penulis            : Jostein Gaarder
Penerjemah    : Yuliani Liputo
Penerbit          : Mizan
Tahun terbit     :Cetakan I, Edisi Gold, Juli 2011
Halaman         : 252


Georg Røed, anak lelaki Norwegia, berumur 15 tahun yang tiba-tiba mendapat surat dari ayahnya yang sudah meninggal 11 tahun yang lalu. Surat itu ditemukan neneknya, di pelapis kereta dorong milik Georg yang telah lama disimpan.

Surat itu ditulis ketika George masih berusia tiga tahun. Melalui surat itu, ayah Georg menceritakan dan menanyakan banyak hal. Tapi yang paling utama adalah kisah cintanya dengan seorang gadis misterius yang dia juluki Gadis Jeruk. Ayah juga menceritakan beberapa hal yang dilakukan Georg ketika masih kecil. Sesuatu yang sulit sekali diingat Georg meskipun dia telah berusaha keras.

Ayah juga menulis tentang Teleskop Hubble, galaksi, bintang, alam semesta, serta kecepatan terbang seekor tawon kumbang. Membaca surat ayah, membuat perasaan Georg berkecamuk. Banyak hal yang baru disadarinya setelah membaca surat itu.

Secara keseluruhan, kisah Gadis Jeruk ini terasa menyenangkan untuk dibaca. Kalimatnya tidak terlalu rumit. Dari segi penerjemahan juga bagus. Dan jika buku ini, seperti yang dikatakan, membahas hal yang berbau filsafat, maka mungkin ini bukanlah filsafat yang memusingkan. Tapi, karena aku bukan orang yang mengerti dan mendalami filsafat, maka kelebihan itu bukan hal terlalu menarik bagiku.

Bagiku, yang benar-benar menarik memang kisah si Gadis Jeruk itu. Ayah Georg seolah menghinoptisku juga dengan membuatku ikut membayangkan yang aneh-aneh tentang siapa sebenarnya si Gadis Jeruk. Sekaligus penasaran, dari sekian banyak sangkaan ayah Georg tentang Gadis Jeruk, yang manakah yang tepat. Atau setidaknya, yang hampir tepat.

Kisah Gadis Jeruk itu juga membuatku berpikir. Kalau kita menemukan orang yang kita sukai, sekecil apapun hal yang kita putuskan, memiliki pengaruh yang besar untuk jalan hidup kita selanjutnya. Mungkin jalan hidup kita akan berbeda seratus persen, jika kita memilih pilihan yang satunya. Who knows?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar