Senin, 02 Februari 2015

Forbidden Game #1: The Hunter



Penulis             : L.J. Smith
Penerbit           : Simon & Schuster
Tahun terbit      : 1994
Halaman          : 240
Format            : E-book

Jenny tidak pernah menyangka kalau papan permainan yang dibelinya di Montevideo berujung malapetaka. Awalnya ia hanya ingin menyemarakkan pesta ulang tahun pacarnya, Tom, dengan sebuah permainan. Sesuatu yang bisa mereka lakukan di dalam rumah, karena udara dingin menggagalkan rencana pool party mereka.

Papan permainan itu berupa rumah kertas, di mana di dalamnya terdapat boneka-boneka kertas yang harus digambar sesuai wajah pemainnya.  Ada tujuh orang pemain, Jenny, Tom, Audrey, Dee, Zach, Michael, dan Summer. Para pemain juga diharuskan menggambar mimpi buruk mereka dan meletakkannya di dalam rumah kertas. Para pemain akan menghadapi mimpi buruk masing-masing dan berjuang untuk sampai di bagian atap rumah kertas untuk memenangkan permainan. Terdengar menarik sampai permainan itu berubah jadi nyata, dan mereka benar-benar jadi pemainnya.

Jenny, sebagai orang yang membeli permainan itu, merasa sangat bersalah karena telah membawa teman-temannya pada marabahaya. Lebih buruk lagi, rumah kertas itu buatan seorang Shadow Man yang datang dari Shadow World. Sebuah dunia kegelapan yang bersebelahan dengan dunia nyata.

Shadow Man itu jatuh cinta pada Jenny dan ingin memilikinya. Jika Jenny dan teman-temannya tidak berhasil memenangi permainan itu, maka mereka semua tidak dapat kembali ke dunia nyata dan Jenny akan menjadi milik Shadow Man.



Terdengar seperti Jumanji atau Zathura pada awalnya. Papan permainan yang berubah menjadi benar-benar nyata, penuh bahaya, dan tidak akan berhenti sebelum kau menyelesaikannya. Bedanya, si pembuat permainan ini jatuh cinta pada tokoh utama dan menginginkan gadis itu jadi miliknya.

Dari awal baca, ketegangan sudah terasa. Walaupun sama sekali belum berhubungan dengan permainan itu. Ketika permainan mulai, makin deg-degan karena menebak-nebak apa mimpi-mimpi buruk yang telah digambar para pemain. Dan sama seperti permainannya, sekali kau baca kalimat dari novel ini, maka kau tidak akan bisa berhenti.

Saya benar-benar tenggelam dalam petualangan Jenny dan kawan-kawan. Bagaimana mereka berjuang dengan mimpi buruk agar bisa keluar dari rumah kertas tepat waktu. Saya juga suka dengan setiap tokohnya, yang punya karakteristik masing-masing. Dee yang pemberani dan jago bela diri, Michael yang humoris, Zach yang pendiam, Audrey yang cantik dan apik, Summer yang paling muda dan polos, Tom yang keren dan terkenal, Jenny yang sederhana, cantik, dan baik hati. Tapi yang paling saya suka adalah Julian, si Shadow Man yang jatuh cinta pada Jenny dan menjebaknya dengan permainan rumah kertas. 

Bagaimana penulis mendeskripsikan Julian benar-benar keren:

“Eyes. Blue eyes. Except that they weren’t just blue, they were a shade Jenny couldn’t describe. The only place she’d seen a blue like that was once when she’d happened to wake up at the precise instant of dawn. Then, between the window curtains, she’d glimpsed an unbelievable, luminous color, which had lasted only a second before fading to the ordinary blue of the sky. No boy should have eyes blue as that, and especially not surrounded by lashes so heavy they seemed to weigh his eyelids down. This boy had the most startling coloring she’d ever seen. His eyelashes were black, but his hair was white, true white, the color of frost or tendrils of mist. He was, well, beautiful. But in the most exotic, uncanny way imaginable, as if he’d just stepped in from another world.”

Benar-benar membuat saya membayangkan sosok ganteng yang nggak bisa diwakili sama artis manapun untuk memerankannya!

Walaupun di novel ini, diceritakan bahwa Jenny sangat menyayangi Tom, tapi entah kenapa, saya nggak dapet feelnya sama sekali. Saya malah merasa, Jenny mencintai Julian dengan cara yang tidak ia sadari.
Lisa Jane Smith (L.J. Smith) mungkin lebih dikenal dengan serial Vampire Diaries-nya yang sudah di angkat ke layar kaca (dan belum saya baca sama sekali). Namun, Trilogi Forbidden Game ini menurut saya layak dibaca untuk para pecinta novel Young Adult dengan nuansa fantasi, misteri, dan romance.




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar