Senin, 24 Agustus 2015

Resensi Buku: Lucid Dream



Penulis             : Ziggy Z
Penerbit           : DAR! Mizan
Tahun Terbit    : Cetakan kedua, November 2013
Halaman         


Bagaimana rasanya jika tiba-tiba kau bisa melihat hantu-hantu? Setiap hari kau melihat hantu-hantu bergentayangan di sekolah, di rumah, dan tidak ada yang menyadari itu semua kecuali dirimu sendiri. Mungkin seperti itulah yang dirasakan Nadine, seorang gadis 13 tahun yang dapat melihat hantu.

Keanehan itu bermula setelah kecelakaan yang dialaminya pada usia lima tahun. Saat itu musim panas, Nadine dan kedua orangtuanya hendak berlibur. Namun di perjalanan, mobil mereka tertabrak oleh sebuah truk. Nadine kehilangan penglihatan akibat kecelakaan tersebut. Namun, itu tidak berlangsung begitu lama. Nadine mendapat donor mata dari gadis yang baru saja meninggal.

Menggunakan mata baru bukanlah hal yang menyenangkan bagi Nadine. Setiap hari ia harus rajin menggunakan obat tetes mata. Belum lagi, sejak mendapat mata baru, Nadine bisa melihat hantu. Hal ini membuat Nadine selalu ketakutan. Ia pernah bercerita tentang hantu-hantu itu kepada teman-temannya. Sayangnya, teman-teman Nadine malah mengganggap ia aneh dan mulai menjauhi Nadine.

Syukurlah, ayah Nadine mendapat pekerjaan di lain kota, sehingga mereka sekeluarga pindah. Di tempat baru, Nadine berusaha terlihat normal dan tidak membicarakan perihal kemampuannya melihat hantu. Di sekolah, ia berteman dengan seorang anak lelaki aneh bernama Christopher Locket. 

Chris sangat pintar, sangat suka bicara, dan sering menggunakan kutipan ketika mereka mengobrol. Namun ada hal lain yang membuat Nadine akrab dengan Chris. Ia juga bisa melihat hantu!


Well, ini pertama kalinya saya membaca lini Fantasteen dari Dar!Mizan. Jujur saja, awalnya saya tidak terlalu tertarik dengan buku-buku seri Fantasteen. Kenapa?

  1. Bukunya terlalu tipis, dan saya sempat underestimated dengan para penulisnya yang kebanyakan masih berusia SMP dan SMA.  
  2. Kebanyakan buku Fantateen bertema horror. Sesuatu yang amat sangat nggak saya banget.
Waktu itu saya pikir, mungkin kalau usia saya masih remaja, pasti tertarik baca Fantasteen juga. Tapi, karena adik saya suka sekali beli buku-buku tersebut, dan buku itu sering terlihat di mata saya, akhirnya pertahanan saya bobol juga. Saya pun membaca salah satu buku Fantasteen, dan yang saya ambil adalah Lucid Dream.

Sejak pertama baca, saya langsung terpikat dengan kalimat yang dirangkai penulisnya. Cerita disajikan dengan cepat tanpa bertele-tele. Namun tetap memberikan detil yang diperlukan dalam sebuah cerita. Dan yang paling saya sukai adalah, ada banyak hal menarik yang diberikan penulis selain kisah tentang gadis yang bisa melihat hantu.

Saya selalu suka dengan kisah-kisah yang memberi ‘sesuatu’ yang baru dalam tulisannya. Entah itu pengetahuan atau apapun. Lucid Dream adalah salah satu kisah yang seperti itu. Terutama ketika tokoh Chris muncul. Dia dengan kegemarannya menggunakan kutipan dan kata-kata asing untuk mendeskripsikan sesuatu benar-benar memikat hati. Saya baru tahu, selain kata serendipity, ada zemblanity untuk menggambarkan suatu kebetulan yang tidak menyenangkan.

Inti kisah dari Lucid Dream ini adalah tentang Nadine dan Chris yang membongkar rahasia bagaimana mereka bisa melihat hantu. Kenapa mereka saja yang bisa melihat hantu? Apakah hantu-hantu itu selamanya ada di sana atau mereka bisa mengusir hantu-hantu itu pergi?

Twist-nya cukup oke. Saya benar-benar tidak menyangka kalau akhirnya seperti itu. Saya salut dengan penulisnya, Ziggy, yang masih muda namun mampu membuat cerita sekeren itu. Karena Lucid Dream, saya tidak lagi memandang rendah seri Fantasteen. Walaupun, untuk membaca seri Fantasteen berikutnya, saya masih mempertimbangkan lagi. Seperti yang saya bilang, saya nggak suka cerita horror, hehehe…

[Review ini diikutsertakan dalam Lucky No. 15 Reading Challenge kategori Something Borrowed]

3 komentar:

  1. mbk kalau boleh saya mau minta saran novel fantasi untuk dibaca....:)

    BalasHapus
    Balasan
    1. novel fantasi yang bagus ya, kalau yg pernah saya baca selain The 13 Trilogy, saya juga suka The Emerald Atlas. mungkin bisa juga cek label fantasy di blog ini :)

      Hapus
  2. kak, saya mau nanya nih, buku yang kakak beli kertasnya warna apa ya? warna putih seperti kertas HVS atau kecoklatan? saya nanya ini soalnya kemarin saya beli buku ini dan kertasnya warna putih seperti kertas HVS, bukan kecoklatan seperti novel pada umumnya. takutnya saya malah beli yang kw. sebelumnya terimakasih kak :)

    BalasHapus