Kamis, 29 Desember 2016

Resensi Buku: Si Bandel



Penulis: Edith Unnerstad

Penerjemah: Priscilla Tan Sioe Lan

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Tahun terbit: Cetakan Kedua, Maret 1990

Halaman: 200

ISBN: 979-403-463-0





“Si Bandel berusia lima tahun dan keras kemauannya. Ketika dia ingin sekali punya anak ayam dan Mama tidak mengizinkannya, dia berkeras mengerami sendiri sebutir telur ayam. Pernah juga dia membuat orang serumah kalang kabut. Waktu dia naik bis sendiri ke luar kota, lalu menyebrang ke danau beku, hanya untuk mengambil bebeknya yang ketinggalan di kapal Rudolfina. 


Masih banyak lagi petualangan di Bandel, semuanya lucu, mengasyikkan, dan sekaligus menegangkan.”



Awal mula saya bisa membaca buku jadoel ini karena Fina, teman sekantor,  bercerita tentang buku-buku lengseran kakaknya. Saya langsung tanya, ada Enid Blyton, nggak? Ada, ada buku Edith Unnerstad juga. Edith Unnerstad, siapa tuh? pikir saya. Ternyata Fina langsung membawakan bukunya untuk saya. Katanya ceritanya lucu. Awal dipinjamkan, saya nggak langsung baca. Saya biarkan di meja kantor, sampai suatu hari saya merasa sedih, karena nggak libur-libur, hiks, akhirnya saya ambil, deh si Bandel.


(Cukup sampai di sini curhatnya)


Cerita si Bandel memang lucuuuuu. Lucu, lugu, polos, khas anak-anak banget. Buku ini menceritakan kisah sehari-hari si Bandel bersama keluarganya. Ada O Mungil, adik perempuannya, Mama, Papa, dan kakak-kakaknya, Lars, Knut, Dessi, Mirre, dan Rosalind. Kalau di cerita si Bandel, anggota keluarga yang paling sering muncul itu O Mungil, Mama, dan Knut. 


Ada 10 cerita di buku si Bandel. 



Saya paling suka cerita Si Bandel Bikin Pesta. Jadi, ceritanya si Bandel ini ‘naksir’ dengan seorang teman ceweknya, namanya Margareta. Ia ingin Mama membuatkan pesta untuk si Bandel dan Margareta. Pesta khusus untuk berdua, dengan kue cantik berwarna putih dan merah jambu, dan minuman yang memakai gelas bagus. Pokoknya pesta mewah, deh, bagi si Bandel. 


Mama setuju membuat pesta itu. Bahkan si Bandel curhat ke Mamanya kalau ia mau menikah dengan Margareta, karena dia anak yang manis. Bahkan sampai membicarakan mau tinggal di mana setelah menikah, apakah di rumah Margareta atau di rumah si Bandel.


Hihihi, lucu nggak sih, denger anak sekecil itu ngomongin nikah? Saya ngikik-ngikik pas bacanya. Tapi, jawaban Mama itulah yang bikin saya terkagum-kagum. Mama sama sekali nggak menertawakan apalagi memarahi si Bandel karena sudah ngomongin nikah di umur sedini itu. Malah Mama menanggapi dengan jawaban yang logis tapi mudah dimengerti oleh anak-anak. Salut, deh sama Mama.


Pada akhirnya, ketika si Margareta datang, anak gadis itu malah terpikat dengan boneka-boneka O Mungil. O Mungil yang senang karena ada yang tertarik dengan permainannya, langsung mengajak Margareta bermain Mamah-Mamahan. Margareta melupakan si Bandel, dan si Bandel pun kesal. Ia akhirnya bermain dengan sobatnya, Pelle-Goran, dan terakhir bilang ke Mama kalau ia tidak mau menikah dengan Margareta.


Terhibur sekali membaca si Bandel. Selain lucu, buku ini secara tidak langsung mengajarkan saya banyak hal. Pertama, tentang bagaimana menjadi orang tua, terutama ibu, yang setiap hari mengurus anaknya. Di cerita ini, saya menangkap sosok Mama yang sangat pengertian terhadap anaknya. Pengertian di sini maksudnya, dia tidak langsung melarang, mengomeli, apa pun kelakuan anak. Tapi, bertanya dulu hingga mendapatkan cerita yang lengkap, baru menasihati.


Misalnya waktu si Bandel nekat pergi mengambil bebek. Tentu saja, apa yang dilakukan Bandel berbahaya, tapi, ia hanya ingin mengambil bebeknya, kan? Tidak ada niatan lain selain itu, maka Mama hanya menasihati agar tidak mengulanginya lagi karena itu berbahaya.


Selain itu, Mama ‘mengikuti’ apa saja khayalan anak-anaknya. Misalnya saat si Bandel dan O Mungil ‘berlayar’ mengarungi Blueviken. Padahal hanya bermain-main di dalam baskom, di atas karpet. Mama sama sekali nggak menganggap mereka hanya ‘ngesot-ngesot’ di atas karpet, tapi benar-benar menganggap mereka sedang berlayar di lautan.



Kedua, saya juga belajar tentang bagaimana menulis cerita anak yang disukai anak. Saya yakin, cerita seperti inilah yang pasti disukai anak. Diceritakan dari sudut pandang anak, tidak ada kutipan hikmah, pesan moral, atau apa pun yang kesannya menggurui, kamu harus begini, kamu harus begitu. Cerita ini juga realistis, nggak bercerita tentang anak baik-baik yang penurut dan manut.


Di buku ini, terasa sekali penulis menuangkan pesan bahwa yang namanya anak-anak, nggak ada niat sedikit pun untuk berbuat nakal. Biasanya mereka hanya ingin tahu, ingin menuruti keinginannya, dan ingin menghibur orang terdekat mereka dengan cara yang mereka tahu.


Dari segi gaya bahasa, hmmm… saya baru pertama kali membaca buku anak yang begitu slang, alias banyak sekali kata-kata ‘tuh’, ‘dong’, ‘deh’, dan kosakata khas Indonesia lainnya. Namun, entah kenapa, itu malah menambah kelucuan cerita ini. Saya sempat mengira-ngira, apakah tulisan asli bahasa Swedia-nya juga begitu atau enggak.


Yang jelas, kisah-kisah si Bandel ini sangat menghibur dan bisa menjadi pelipur lara di kala bosan melanda, hehehe….

1 komentar:

  1. ada buku lain seri si bandel selain ini ga kak? susah cari buku ini, buku si bandel punya saya hilang pula ):

    BalasHapus