Jumat, 09 Juni 2017

Resensi Buku: Orange



Penulis: Windry Ramadhina

Penyunting: Christian Simamora dan Ayuning

Penerbit: Gagas Media

Tahun Terbit: Cetakan Pertama, 2015

Halaman: 305

ISBN: 978-602-291-139-5




Faye Muid, fotografer muda dengan hasil foto yang selalu menakjubkan. Diyan Adnan, pemimpin perusahaan Adnan, muda, tampan, dan terkenal. Tanpa rasa cinta sedikit pun, keduanya setuju dijodohkan oleh orang tua masing-masing.


Faye karena sudah berjanji kepada papanya, Ahmad Muid, untuk mengikuti apa pun kemauan Papa agar permintaannya berkuliah di jurusan fotografi disetujui. Sedangkan Diyan, sebagai anak pertama dan tumpuan harapan keluarga Adnan, tidak pernah bisa menolak permintaan papanya, Tyo Adnan.


Sebenarnya tidak sulit menyukai Diyan. Ia lelaki yang dipuja banyak perempuan karena ketampanan, kekayaan, dan kemampuannya menjalankan perusahaan. Faye juga bukan perempuan biasa-biasa saja. Namun, keduanya terjebak dalam perjodohan tanpa rasa yang semakin lama mendorong mereka mempertanyakan perasaan mereka sendiri. Benarkah keputusan mereka menerima perjodohan tersebut? Bagaimana dengan hati dan cita-cita mereka masing-masing? 

My Review



Orange adalah novel pertama karya Windry Ramadhina yang konon katanya cukup laris di pasaran sehingga diputuskan untuk dicetak ulang dengan berbagai tambahan. Saya sendiri, setelah membaca beberapa karya Windry, merasa penasaran dengan Orange dan punya ekspektasi cukup tinggi dengan novel ini.


It turns out, tidak terlalu mengecewakan tetapi juga tidak terlalu menakjubkan. Bisa dibilang, perjodohan karena bisnis bukanlah barang baru. Profesi fotografer juga bukan profesi langka. Dan tipe cowok seperti Diyan Adnan juga cukup sering muncul di novel-novel romance. Intinya, yah, ceritanya biasa saja.


Saya sendiri malah jatuh kasihan pada Faye. Sebenarnya, diam-diam ia menyukai Diyan Adnan. Tetapi Diyan masih memendam cintanya pada Rera, mantan kekasihnya yang kini tinggal di Paris. Di sisi lain, Zaki Adnan, adik Diyan, diam-diam menyukai Faye. Agak seperti sinetron, ya? Begitulah…


Di dalam novel Orange, saya malah bersimpati dengan Rei. Asisten sekaligus sepupu Diyan yang selama ini bekerja keras menjaga reputasi Diyan. Namun, dihancurkan sendiri oleh Diyan. Dan Diyan juga tampak tidak terlalu peduli dengan Rei. Iya sih, Diyan digambarkan sebagai lelaki yang dingin dan workaholic. Tetapi tetap saja, seharusnya nggak sebegitu cuek dengan asistennya sendiri, dong.


Kemudian, saya sedikit aneh dengan status jeruk di novel ini. Katanya Faye suka sekali dengan buah jeruk, dan hampir ke mana-mana membawa seplastik jeruk. Tetapi sepanjang cerita, hanya beberapa adegan yang menggambarkan hubungan Faye dengan jeruknya. Awalnya, saya membayangkan, banyak filosofi buah jeruk keluar dari sudut pandang Faye. Sayangnya, saya hanya menemukan bahwa jeruk itu berasa asam manis seperti kehidupan, yang sebenarnya juga sudah banyak orang tahu, ya?


Intinya, novel Orange lumayanlah, cukup menghibur. Edisi yang baru dilengkapi dengan ilustrasi-ilustrasi cantik karya penulisnya sendiri. Keren ya, sudah pandai menulis, pandai menggambar pula. Saya jadi iri, hehehe….


Review ini untuk 
kategori Contemporary Romance

Tidak ada komentar:

Posting Komentar