Senin, 20 Januari 2014

Resensi Buku: Anak-Anak Kereta Api



Penulis            : Edith Nesbit
Penerjemah    : Widya Kirana
Penerbit          : Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit    : Jakarta 1991
Halaman         : 304


Tadinya Roberta, Peter, dan Phyllis hidup bahagia dan bekecukupan di rumah mereka, bersama Ayah, Ibu, para pelayan, dan segala hal yang mereka inginkan. Ibu adalah wanita menyenangkan, yang selalu menghabiskan waktu dengan ketiga anaknya. Ibu sering membuatkan puisi atau membacakan cerita buatannya sendiri kepada ketiga anaknya itu. Sedangkan Ayah adalah pria sempurna yang selalu siap diajak bermain oleh anak-anaknya. Yah, kecuali, jika ia memang benar-benar tidak ada waktu untuk bermain. Singkatnya, Roberta, Peter, dan Phyllis memiliki hidup yang menyenangkan.

Namun, semua kesenangan itu berubah dalam satu malam. Ketika itu, Ayah sedang memperbaiki lokomotif milik Peter, datang dua orang laki-laki dan berbicara pada Ayah, lalu membawa Ayah pergi. Mereka bertiga tidak tahu mengapa Ayah harus pergi, dan dibawa ke mana ia. Yang mereka tahu, Ibu mengatakan semuanya akan baik-baik saja dan mereka tidak perlu cemas. Tapi Roberta, anak perempuan tertua, menemukan Ibu menangis malam itu.

Tidak cukup dengan kenyataan Ayah yang dibawa pergi tiba-tiba, mereka juga harus meninggalkan rumah mereka yang besar dan nyaman. Mereka pindah ke sebuah pondok suram di pedesaan, dekat dengan lintasan kereta api. Tidak terbayang sebelumnya bagi Roberta, Peter, atau pun Phyllis tinggal di pedesaan, dan hidup di rumah tanpa pelayan. 

Namun, mereka adalah anak-anak yang tabah. Mereka tidak lagi bertanya-tanya kenapa Ayah mendadak pergi dan mengapa mereka harus tinggal di desa. Ketiganya menikmati kehidupan baru mereka sebagai anak-anak kereta api.

Mereka memberi nama kereta-kereta api yang lewat, melambaikan tangan pada Pak Tua Kepala Stasiun, berkenalan dengan porter stasiun bernama Pak Perks, dan masih banyak lagi yang mereka lakukan. Tidak semuanya menyenangkan memang, kadang ada yang membuat mereka bertengkar atau menangis. Selain itu, mereka pun tetap bertanya-tanya dalam hati, kemanakah Ayah. Apakah ia akan pulang?

Cerita yang sangat menyenangkan… Sepertinya, Edith Nesbit akan menjadi penulis anak-anak favoritku setelah Enid Blyton dan Astrid Lindgren.

Hmmm… kalau dibandingkan dengan tulisan Enid Blyton, cerita Edith Nesbit menurutku lebih kompleks. Maksudnya, kalau di Edith Nesbit, dalam satu cerita, kita bisa merasa sedih, senang, tegang dan juga penasaran. Sedangkan kalau di Enid Blyton, tergantung ceritanya di serial apa. Kalau di seri petualangan atau detektif, suasananya menegangkan dan bikin penasaran. Kalau di seri asrama, suasananya nyebelin-ngeselin tapi seru. Yah, itu opiniku aja sih. Dan nggak ada yang salah dengan dua model itu. Aku tetep suka. :D

Oya, di cerita Anak-Anak Kereta Api, di awal nggak disebutin umur Roberta, Peter, dan Phyllis berapa. Jadi sempet agak bingung ngebayangin mereka seperti apa. Cuma di tengah cerita, ada kisah tentang Roberta yang berulang tahun ke 12. Jadi, kalau dikira-kira dari perilaku mereka, mungkin umur mereka sekitar 9-12 tahun.

Satu hal lagi, aku seneng banget ketika nemuin buku Anak-Anak Kereta Api terbitan Gramedia, di pesta buku Senayan.  Sama senengnya seperti waktu nemuin buku Musim Ceri di Bullerbyn di perpustakaan. Berharap menemukan lebih banyak lagi novel-novel anak terbitan jaman dulu, dan juga berharap Gramedia mencetak kembali literature klasik yang dulu pernah diterbitkan. Pasti seru banget!

[Review ini diikutsertakan dalam Lucky No.14 reading Challenge kategori First Letter’s Rule. Judul aslinya The Railway Children, jadi bisa lah yaaa…]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar