Minggu, 04 Mei 2014

Resensi Buku: Treasure Island



Penulis             : Robert Louis Stevenson
Penerjemah      : Mutia dharma
Penerbit           : Atria
Halaman          : 352


Ini adalah kisah tentang petualangan Jim Hawkins ke Pulau Harta Karun. Awalnya, ia hanyalah seorang anak laki-laki yang mengurus penginapa milik orangtuanya yang berada di tepi laut. Penginapan itu bernama Admiral Benbow. Para pelaut, kelasi, petugas kapal sering dating ke Admiral Benbow.

Pada suatu hari, Admiral Benbow kedatangan seorang laki-laki tua dengan wajah yang galak. Suaranya parau dan ia tak pernah berhenti minum rum. Lelaki itu ditakuti oleh hampir seluruh pengunjung Admiral Benbow, termasuk orangtua Jim sendiri. Mereka tidak berani meminta uang bayaran penginapa meskipun lelaki itu tinggal lama sekali di sana.

Laki-laki tua itu ternyata bernama Billy Bones dan dia menyimpan kekayaan di peti kayunya serta secarik peta harta karun yang ia simpan di saku bajunya. Peta harta karun itu berisi petunjuk di mana ia, sebagai bajak laut, menyimpan harta rampasannya. Banyak orang yang menginginkan peta harta karun itu. Salah satunya adalah Pew si buta. Ia mengancam Billy Bones untuk memberikan petanya.

Sayangnya, Billy Bones keburu meninggal karena kebanyakan minum rum. Jim dan ibunya, yang merasa berhak atas sebagian harta Bones, membuka peti kayunya. Jim juga mengambil peta harta karun yang sangat diinginkan Pew.

Setelah mendapatkan peta harta karun, Jim bersama teman-temannya, yang tentu saja lebih tua, merencanakan pelayaran menuju Pulau Harta Karun. Bersama Dr. Livesey, Hakim Trewlaney, Kapten Smollet, Long John Silver berkaki satu, dan beberapa awak kapal lainnya, Jim Hawkins, seorang anak laki-laki memulai petualangan pertamanya.

Well, meskipun banyak yang mengagumi cerita karya Mr Stevenson ini, aku sendiri sebetulnya tidak terlalu suka. Alasannya sederhana, aku tidak terlalu suka pada petualangan yang berisi pembunuhan dan penuh darah.

Diceritakan di sini, dalam satu kapal, terdapat golongan pemberontak yang menginginkan harta karun itu untuk mereka sendiri. Dan itu sangat bias dipahami. Hanya saja, aku memang bukan tipikal pembaca yang suka dengan kisah pertarungan berdarah-darah.

Mungkin, Treasure Island bisa sangat menarik bagi orang-orang yang merindukan petualangan yang menantang.
[Review ini diikutsertakan dalam Lucky No.14 Reading Challeng katogeri Once Upon a Time]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar