Senin, 22 Desember 2014

Resensi Buku: Chocolat

Penulis             : Joanne Harris
Penerjemah      : Ibnu Setiawan
Penerbit           : Bentang Pustaka
Tahun Terbit    : Cetakan 1, Oktober 2007
Halaman          : 374


Vianne Rocher adalah seorang pengembara. Bersama ibunya, mereka berpindah-pindah dari satu kota ke kota lain. Dari satu negara ke negara lain. Setelah ibunya meninggal, ia melanjutkan pengembaraan itu bersama anak perempuannya, Anouk.

Kisah ini dimulai ketika Vianne dan Anouk berhenti di kota kecil bernama Lansquenet-sous-Tannes. Kota kecil dengan  penduduk yang dingin, tak acuh, tapi memendam rasa ingin tahu sekaligus curiga pada orang asing. Ketika sampai di kota itu, Vianne tahu ia harus menetap di sana.

Vianne menyewa sebuah rumah bekas toko roti yang sudah tua, berantakan, namun tetap bisa ditinggali. Bersama Anouk, ia membangun kembali rumah bobrok itu menjadi tempat tinggal yang nyaman dan toko cokelat yang menggoda, La Celeste Praline namanya.

Keberadaan Vianne dan toko cokelatnya sangat mengusik rasa ingin tahu penduduk Lansquenet. Bukan hanya karena ia wanita asing dengan anak dan tanpa suami, tapi karena ia membuka toko cokelat di minggu Paskah, di mana seharusnya mereka menahan diri dengan berpuasa.

Kelakuan Vianne membuat pastor setempat, Francis Reynaud mendatanginya. Sedikit berbasa-basi, sekaligus mengajaknya untuk ke gereja tiap hari Minggu. Sayangnya, Vianne bukanlah orang yang pergi ke gereja. Tanpa rasa bersalah, ia menolak ajakan pastor muda itu, malahan menawarinya coklat.

Dalam tokonya yang hangat dan indah, Vianne tidak hanya menawarkan coklat serta makanan manis lainnya. Ia juga memberikan perubahan kepada para penduduk Lansquenet. Terutama hal-hal yang dianggap Francis Reynaud menentang ajaran gereja.
Sebagai pastor di Lansquenet, Francis sangat membenci kehadiran Vianne, yang datang seolah untuk melawan kedudukannya. Francis berpikir keras, berusaha mencari cara untuk menggagalkan apa yang ditawarkan Vianne pada penduduknya, coklat yang lezat menggoda serta pandangan hidup yang terbuka.


Kisah yang diceritakan dalam novel karya Joanne Harris ini mungkin lebih dari sekedar pertentangan antara wanita muda dan toko cokelatnya dengan pastor dan ajaran gereja. Tapi, mengingat aku bukanlah penganut Nasrani dan tidak memiliki ilmu apapun tentang agama tersebut, maka aku akan mereview hal-hal yang berkenaan dengan ceritanya saja. Hal-hal yang bersifat eksplisit, seperti gaya bahasa, terjemah, alur cerita, deskripsi dan sebagainya.

Oke, yang pertama dari deskripsi. Menurutku, Chocolat merupakan salah satu novel yang kaya akan deskripsi detil. Suasana kota Lansquenet, para penduduk, bahkan coklat-coklat yang dibuat Vianne. Selama membaca, aku bisa membayangkan suasana kota yang masih agak kelabu –latar waktu cerita berlangsung selama Februari dan Maret- yang kontras dengan La Praline yang hangat dan ceria. Baca buku ini, jadi pengen banget masuk ke toko coklatnya Vianne dan nyobain coklat-coklat buatannya.

Kedua, gaya bahasa dan terjemahan. Menurutku mengalir dan nyaman dibaca. Hanya saja, kadang ada kalimat yang sepertinya butuh koma, tapi nggak ada. Jadi aku harus baca dua kali untuk benar-benar memahami maksudnya. Sayangnya, footnote yang disediakan hanya untuk istilah-istilah Nasrani,  sedangkan untuk coklat dan masakan lainnya nggak ada. Iya sih, pastinya bakal jadi banyak banget footnote, tapi kan, untuk orang yang awam dengan per-coklat-an sepertiku, aku jadi cuma bisa nebak-nebak sendiri aja, itu coklat bentuknya kayak apa yaa… hehehe…

Ketiga, alur cerita dan penokohan. Novel Chocolat diceritakan bergantian dari sisi Vianne dan Francis. Hanya saja, tidak ada penanda ini bagiannya Vianne atau Francis. Setiap bab baru diberi judul dengan tanggal kejadian. Awalnya, aku pikir, seluruhnya diceritakan oleh Vianne. Apalagi, tidak setiap ganti bab berpindah POV. Kadang dua atau tiga bab, masih diceritakan oleh Vianne, baru oleh Francis. Jadi bacanya meski agak jeli.

Mengenai tokoh-tokohnya, karena aku belum familiar dengan nama-nama Prancis, jadi, di awal, aku belum hafal dengan setiap tokoh dan masalah mereka. Apalagi, kebanyakan penduduk yang jadi tokoh di cerita ini, muncul hampir bersamaan. Paling-paling, aku hanya mengingat tokoh utamanya saja, seperti Francis, Vianne, dan Anouk. Namun, seiring berjalannya cerita, mulai kenal deh dengan karakter tiap tokoh.

Keempat, dari segi perwajahan. Covernya menarik dengan nuansa merah, dan cangkir yang di dalamnya terlihat foto samar seorang wanita dengan anak kecil. Di bagian atas, terdapat penghargaan yang didapat dari film Chocolat, yang diadaptasi dari novel ini. Aku bersyukur sih, covernya tidak menggunakan cover filmnya, karena aku nggak suka Johnny Depp, wkwkwk… (Oh ya, novel Chocolat aslinya diterbitkan tahun 1999, dan diangkat menjadi film tahun 2000, diperankan oleh Johnny Depp dan Juliet Binoche).

After all, merasa beruntung banget nemuin novel ini di jajaran rak buku-buku murah di basement Gramedia Depok. Waktu pertama kali lihat, aku langsung yakin harus beli buku itu, sampai rela ngubek-ngubek ke tumpukan paling bawah, demi mendapat buku yang kondisinya bagus, (karena buku yang ditaruh di paling atas, halaman sampulnya udah jelek).

Pesanku, kalau kamu baca buku ini, siapkanlah setidaknya sebatang coklat, atau segelas coklat hangat, atau cemilan apapun yang berasa coklat, karena percayalah, kamu pasti nggak tahan dengan coklat-coklat buatan Vianne :)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar