Senin, 14 September 2015

Resensi Buku: Jatuh Cinta adalah Cara Terbaik untuk Bunuh Diri

Penulis : Bernard Batubara
Editor : Ayuning dan Gita Romadhona
Penerbit : Gagas Media
Tahun Terbit : Cetakan kedua, 2015
Halaman : 293


Jatuh Cinta adalah Cara Terbaik untuk Bunuh Diri (panjang ya judulnya?) adalah karya pertama dari Bernard Batubara yang saya baca. Meskipun dia sudah menerbitkan karya lain sebelum ini, entah mengapa baru tertarik pada kumcer yang satu ini.

Yup, saya sudah lama tidak meresensi kumcer, jadi mudah-mudahan saya bisa melakukannya dengan baik ya, hehehe…

Kumpulan cerpen Bernard terdiri dari 15 kisah. Benang merahnya ada pada tema cinta dan bagian pahitnya. Iya, kisah-kisah ini bukan kisah cinta yang manis dan romantis, tapi yang malah membuat kita meringis (apa sih).

Saya tidak akan membahas satu per satu kisah di dalamnya, hanya beberapa saja yang saya suka atau menarik perhatian saya, seperti:

1. Seorang Perempuan di Loftus Road: Cerpen ini berkisah tentang perempuan yang menanti cintanya, namun cintanya tak kunjung datang, dan akhirnya dia berubah menjadi pohon. Baca ini, terasa nyess banget, seperti benar-benar curhatan seorang perempuan, dan ada sindiran untuk kaum lelaki juga. Bahkan, kalau saya baca cerpen ini tanpa tahu penulisnya, saya pasti mengira yang menulis perempuan, hehehe…

2. Langkahan: Tentang seorang kakak perempuan yang galau karena akan di’langkahi’ adiknya menikah. Ini sih nyesek ceritanya, amit-amit deh kalau punya kakak kayak gitu…

3. Nyctophilia: Tentang seseorang yang menyukai kegelapan. Nggak tahu kenapa, ini cerita yang paling membuat saya merasa miris. Saya sudah jatuh hati pada si tokoh utama, dan menebak-nebak apa yang membuatnya menyukai kegelapan. Berharap nggak kecele, eh, kecele juga ternyata, hahaha…

4. Menjelang Kematian Mustafa: Tentang seorang yang berprofesi menjadi pembunuh bayaran. Sebenernya ini nggak favorit-favorit banget, tapi kok ya, setelah membaca semua kisah di buku ini, yang masuk mimpi cuma cerita yang ini. (Saya mimpi mau ditembak sama pembunuh bayaran, euy!)

Nah, masih ada 11 cerpen lain. Menurut saya, semua cerpennya asik dan nggak bisa ditebak akhirnya. Plus, nggak ada diksi-diksi aneh yang bikin saya pusing, jadi saya menikmati banget membaca kumcer ini.

Ilustrasi di dalamnya juga bagus dan bisa mewakili inti cerita setiap cerpen. Terus, saya juga suka dengan desain sampulnya. Minimalis, dengan latar ungu dan judul yang memenuhi seluruh sampul. Sebab, sepertinya memang tak butuh ilustrasi untuk judul kumcer ini. Judulnya saja sudah menggambarkan segalanya, bahwa Jatuh Cinta adalah Cara Terbaik untuk Bunuh Diri.

[Review ini diikutertakan dalam Lucky No.15 Reading Challenge kategori Something New]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar