Senin, 22 Mei 2017

Resensi Buku: Berlabuh di LindØya




Penulis: K. Fischer
Editor: Irna Permanasari
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: Cetakan 1, 2015
Halaman: 280

Sam dipindahkan tempat kerjanya dari Halstad ke Oslo. Sebenarnya ia tidak mau, karena Oslo merupakan ibu kota, dan ibu kota tentu saja ramai. Sementara Sam, jauh-jauh pergi ke Norwegia bukan untuk mencari keramaian. Namun, karena perpindahan itu tidak bisa ditolaknya, Sam pun pindah ke Oslo, dan tinggal di sebuah pulau kecil bernama LindØya.

Di LindØya, Sam bertetangga dengan seorang pemuda misterius bernama Rasmus. Dari rumahnya, sering terdengar suara musik dan keramaian yang mengganggu Sam. Entah apa yang dilakukan Rasmus, yang jelas ulahnya amat mengganggu Sam sekaligus membuatnya penasaran. Namun, Sam berusaha menjaga jarak dengan pemuda itu. Sam menjaga jarak dengan laki-laki mana pun. Pengalaman pahit masa lalunya selalu menghantui bahkan meski ia telah jauh pergi dari negara asalnya, Indonesia.

My Review

Untuk awalan, Sam adalah perempuan. Di awal cerita memang dijelaskan kalau ia seorang perempuan, meskipun tidak diberi tahu nama lengkapnya sehingga ia bisa dipanggil Sam. Sam sangat hati-hati terhadap laki-laki apalagi jika itu laki-laki asing. Sam perempuan yang menutup diri dan tidak terlalu suka bersosialisasi. Semua itu karena pengalaman buruknya di masa lalu yang tak bisa ia lupakan.

Berlabuh di LindØya mengangkat tiga sudut pandang, Sam, Rasmus, dan Putri. Siapakah Putri? Nanti juga tahu setelah membaca beberapa halaman dari buku ini. Sam dengan kecemasannya, Rasmus dengan hidupnya yang ramai, dan Putri yang terjebak dengan pacar keren yang tidak begitu dicintainya, Deri.
Sebenarnya saya sudah bisa menebak cerita ini setelah membaca beberapa bagian. Seperti apa masa lalu Sam yang membuatnya ketakutan dan bagaimana akhir hubungannya dengan Rasmus. Hampir saja saya tidak ingin menyelesaikan buku ini, tetapi karena latar Oslo yang cukup menghibur, saya pun membacanya hingga tamat.

Tidak ada yang terlalu istimewa dengan Sam. Ia gadis yang penuh kecemasan yang bagi saya terasa berlebihan. Tetapi saya berusaha mengerti  bahwa semua itu karena pengalaman buruknya di masa lalu. Rasmus juga tidak terlalu istimewa. Cukup baik, benar-benar seperti cowok tetangga sebelah, tapi tidak terlalu istimewa sehingga karakternya terngiang-ngiang di kepala. Dan saya sukses sebel setengah mati dengan Deri alias Mas Ei-nya Putri yang menyebalkan. Aargh, kenapa bisa ada cowok seperti itu sih di dunia ini?

Baiklah, mungkin itu saja review dari saya. Berlabuh di LindØya cukup menarik di bagian latar. Baik latar tempat maupun kultur Oslo, disajikan dengan piawai oleh penulisnya. Namun, dari segi konflik dan jalan cerita, cenderung biasa saja.

Review ini untuk
kategori Contemporary Romance


Tidak ada komentar:

Posting Komentar