7 Cara agar Berhasil Puasa Beli Buku (a.k.a. Book Buying Ban)




Assalamualaikum, apa kabar?

Sudah lama tidak posting, kali ini saya mau sharing tentang Puasa Beli Buku atau istilah kerennya Book Buying Ban. Bagi para pecinta (dan penimbun) buku, istilah ini pasti familiar. Book Buying Ban atau Puasa Beli Buku adalah momen di mana para pecinta buku menahan diri dari godaan diskon buku besar-besaran, buku obralan yang berserakan, dan buku baru terbit yang wara-wiri di instagram.

Kenapa? Biasanya sih karena timbunan buku yang belum dibaca sudah setinggi gunung. Yang jadi pertanyaan, apakah itu akan berhasil? Apakah para pecinta (dan penimbun buku) itu mampu menahan diri dari berbagai godaan yang selalu menghadang?

Well, kalau melihat-lihat dari curhatan para pecinta buku di Instagram atau di blog sih, ada yang gagal dan ada yang berhasil. Alasannya macam-macam. Saya juga sering meniatkan diri untuk puasa beli buku, tetapi gagal terus. Lagi-lagi, kenapa? 

Godaan pertama adalah buku murah dan diskon besar. Meskipun sebesar-besarnya diskon buku paling sekitar 20-25% sih. Godaan paling berat buat saya adalah buku murah alias obralan. Dulu saya sering menyambangi basement Gramedia Depok yang sering menjual buku obral. Tempat paling nggak aman buat yang mau puasa beli buku. Tetapi saya tetap ke sana dan paling tidak membawa satu dua buku pulang ke rumah. Sekarang, lantai basement itu dipakai sebagai lahan parkir dan toko. Walaupun sedih karena nggak ada buku murah lagi, saya bersyukur juga dompet saya aman, hehehe.

Godaan lain selain buku murah dan diskon besar adalah window shopping di situs-situs penjualan buku. Atau situs penulis yang jualan buku dengan iming-iming merchandise, tanda tangan, edisi terbatas, harga yang lebih murah, dan sebagainya. Saya pun pernah kalah di bagian ini. Yang tadinya nggak mau beli buku, jadi tergoda, dan yah begitulah. Akhirnya beli buku juga.

Bulan Oktober kemarin, saya dengan bangga mengumumkan kalau saya berhasil puasa beli buku. Alhamdulillah, senangnya. Saya juga nggak nyangka, sih. Awalnya malah nggak kepikiran untuk puasa beli buku. Sudah ada niatan untuk main ke toko buku yang selalu ngasih diskon, tetapi nggak sempet-sempet. Tahu-tahu sudah bulan November. Dan sampai saat saya menulis ini, saya belum juga mengunjungi toko buku yang dimaksud. Hehehe….

Karena itu, saya jadi berpikir, apa saya melanjutkan puasa beli buku sampai Desember nanti, ya? Mungkin antara akhir tahun 2017 atau awal tahun 2018, baru beli buku lagi. Atau sekalian tunggu sampai bulan April nanti pas Islamic Book Fair? Hmm… kalau itu sepertinya terlalu lama. Saya mau melihat dulu apakah puasa beli buku bulan November ini berhasil.

Alasan saya puasa beli buku sebenarnya sederhana saja. Saya belum punya rak buku yang layak untuk menyimpan buku-buku saya. Saya hanya punya satu rak susun plastik yang sangat tidak cocok untuk menyimpan buku. Sebagian besar buku-buku saya ada di rumah orang tua. Buku-buku yang ada di rumah saya adalah buku-buku yang saya baru beli setelah menikah. Itu pun jumlahnya jauh lebih sedikit ketimbang buku-buku yang saya beli sejak kuliah. 

Selain tidak punya rak, cukup banyak buku yang belum saya baca. Kalau dihitung-hitung, dengan asumsi satu bulan membaca 4 buku, mungkin buku-buku di timbunan saya bisa sampai bulan Februari atau Maret 2018. Walaupun sepertinya sulit, saya tertantang untuk mencoba cara Marie Kondo mengenai timbunan buku.  

Buku yang kau punya adalah buku yang kau yakin akan membacanya langsung setelah membelinya. Jika tidak, sebaiknya lupakan saja. 

Nah, kali ini saya ingin berbagi tips agar berhasil puasa beli buku alias book buying ban

1. Tidak pergi ke toko buku atau tempat mana pun yang menjual buku. (terutama yang menjual buku murah).

2. Tidak membuka situs toko buku online, baik yang berbasis website, Instagram, Facebook, pokoknya semua, deh. Jangan pernah sekali pun.

3. Mengabaikan cuitan, update-an, postingan, atau apa pun yang berkenaan dengan promosi buku. Terutama dari akun-akun yang sifatnya personal. (misalnya dari sales buku, editor, promotor, atau penulis buku tsb.) Mengapa? Karena yang personal biasanya lebih mudah meruntuhkan niat kita puasa beli buku. Dia bisa dengan sangat halus merayu kita hingga akhirnya kita tergoda dan mengatakan, “Iya, saya beli bukunya.”

4. Ingat selalu timbunan yang kamu miliki. Kalau bisa foto timbunan tersebut dan lihat kembali foto itu setiap kali godaan ingin membeli buku baru muncul. Saya belum mencoba langkah ini, (belum sampai tahap melihat foto), saya hanya membayangkan buku-buku yang menumpuk di rumah dan itu sudah cukup membuat saya sadar kembali dari keinsafan.

5. Buat jadwal membaca dari buku-buku yang sudah ada. Jika jumlah buku yang kamu miliki bisa kamu baca hingga dua tahun ke depan, itu sudah lebih dari cukup menjadi alasan untuk puasa beli buku.

6. Untuk menghibur diri, buatlah daftar buku yang ingin kamu beli. Saya suka mengumpulkan foto-foto buku yang ingin saya beli, berikut nominal harganya. Jika godaan ingin membeli buku itu kumat, saya menghibur diri dengan melihat foto-foto wishlist saya dan menyemangati diri sendiri bahwa akan tiba waktunya saya memiliki buku-buku tersebut. Seperti pepatah bilang, semua akan indah pada waktunya. Hehehe...

7. Puasa beli buku bukan puasa menerima buku. Jadi, sama sekali nggak haram meminta dibeliin buku ke orang terdekat, (pasangan, sahabat, adik-kakak, dll) asal jangan keseringan. Boleh juga aktif ikutan giveaway dan kuis-kuis berhadiah buku yang bertebaran di media sosial. Siapa tahu di sana ada buku yang berjodoh denganmu, ya kan?


Nah, itulah sedikit tips puasa beli buku dari saya. Mudah-mudahan bermanfaat dan berhasil dilakukan.

Bagaimana denganmu? Pernah mencoba puasa beli buku juga? Mengapa? Ceritain dong caranya…

Komentar