Resensi Buku: Stormswept (Tersapu Badai)

Penulis: Helen Dunmore
Penerjemah: Rosemary Kesauly
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: 2013
ISBN: 978 97922 9956 4


Morveren tinggal di pulau bersama saudari kembarnya, Jenna, ayah, ibu, dan adik laki-lakinya, Diggory. Konon katanya, dulu Pulau tempat tinggal Morveren adalah sisa dari sebuah kota yang pernah tenggelam karena gelombang dahsyat dari laut. Sebagian penduduk di Pulau juga percaya dengan legenda kaum Mer yang tinggal di bawah laut.

Morveren tidak terlalu yakin dengan kebenarann cerita kaum Mer. Namun, ia sering merasa laut memanggilnya. Seperti ada sesuatu yang membuatnya ingin terus berada di laut. Sampai akhirnya suatu hari ia berjalan-jalan di pinggir pantai dan menemukan seorang anak laki-laki yang terdampar.

Morveren pikir ia hanya anak laki-laki biasa yang mengalami kecelakaan sampai akhirnya ia melihat separuh tubuhnya yang tertutup pasir. Bagian bawah tubuh anak laki-laki itu bukan kaki seperti orang biasa, melainkan sirip. Morveren kaget, takut, sekaligus tidak percaya. Apakah legenda kaum Mer benar ada? Bagaimana cara menyelamatkan anak laki-laki Mer -yang mengaku bernama Malin- agar  bisa kembali ke laut tanpa diketahui orang banyak? 

My Review

Setelah membaca kisah Sapphire dan Conor dalam Tetralogi Ingo, tidak lengkap rasanya jika tidak membaca buku seri Ingo yang kelima. Meskipun kisah ini bukanlah cerita bersambung dari keempat buku sebelumnya.

Tidak berbeda jauh dengan Sapphire di kisah pertama Ingo, Morveren juga merasa adanya tarikan kuat dari laut. Mereka juga sama-sama bertemu dengan anak laki-laki Mer. Hanya saja, Morveren bertemu Malin dalam keadaan terluka. Malin perlu berenang di laut hidup agar lukanya segera sembuh sedangkan ia sendiri belum cukup kuat untuk berenang di laut dengan gelombangnya yang kuat.

Inti cerita kisah ini adalah tentang bagaimana Morveren berusaha menyelamatkan Malin agar bisa kembali ke Ingo tanpa diketahui orang banyak. Karena jika Malin dilihat orang lain, bukan tidak mungkin ia akan menjadi objek penelitian dan tontonan.

Sebuah konflik yang sederhana namun tetap akan menarik jika diberi tantangan-tantangan yang menarik pula. Tantangan Morveren bisa dibilang cukup menarik. Ada beberapa hal yang cukup menghadangnya dalam upaya menyelamatkan Malin. Hanya saja… semua tantangan itu selesai dengan tanggung. Rasanya seperti, “Yah, cuma begini doang?”

Saya sendiri sebenarnya sedikit heran kenapa sih Morveren peduli banget dengan Malin. Padahal kan mereka baru bertemu. Apa karena ada kemungkinan di dalam tubuh Morveren mengalir darah Mer? Kalau iya, lebih seru kalau ada penjelasan lagi bagaimana hal itu bisa terjadi.

Kemudian, saya agak sebal dengan Malin yang sangat membenci manusia. Mungkin ini usaha penulisnya ‘menyindir’ memberi pesan ke pembaca kalau manusia itu masih kurang menjaga alam dan lain sebagainya. Tetapi tetap saja, di cerita ini tidak ada keterangan yang jelas mengapa Malin sangat membenci manusia kecuali pengetahuan umum tentang manusia yang sebenarnya tidak bisa digeneralisir. (Kali ini saya setuju dengan Morveren yang selalu mengatakan pada Malin, “Tidak semua manusia seperti itu, Malin!)

Baiklah, meski tidak terlalu favorit, seri kelima Chronicles of Ingo ini cukup menyenangkan untuk dibaca.

Btw, saya penasaran apakah gelombang besar yang menenggelamkan pulau Morveren adalah gelombang besar yang sama dengan yang terjadi di cerita Sapphire dan Conor?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Resensi Buku: Perang Eropa (Jilid I)