Resensi Buku: Above the Stars


Penulis: D. Wijaya
Penyunting: Anida Nurrahmi
Penerbit: Ice Cube
Tahun Terbit: 2015
Halaman: 248
ISBN: 978-979-91-0884-5



Menurut Danny Jameson, hidupnya tidak pernah mudah. Ia punya orang tua yang protektif, mesin tik Braille yang tidak dimiliki teman-temannya, dan semacam magnet yang menarik John Schueller untuk terus mengganggunya. Namun, yang paling buruk adalah ia punya sepasang mata biru yang tidak bisa melihat. 

Ketika Danny berpikir Mia Berry akan menjadi satu-satunya teman yang dia punya, Will Anderson datang dan mengubah hidupnya. Will memperlihatkan kepadanya dunia yang ingin ia lihat. Will juga membuat Danny mempertanyakaan sesuatu tentang dirinya. Akan tetapi, sebelum Danny sempat menemukan jawabannya, Will menghilang.

My Review

Penasaran membaca buku ini karena dulu pernah baca resensinya di beberapa blogger buku. Saya lupa, dari penulis atau penerbit pernah mengadakan giveaway untuk novel Above the Stars dan saya mengikutinya. Waktu itu saya penasaran karena katanya novel ini mengangkat, ehm, tema menyukai sesama jenis.

Untuk novel remaja lokal, mengangkat tema menyukai sesama jenis bisa dibilang sebuah langkah yang berani. Oleh karena itu, saya penasaran sejauh apa penulis mengangkat tema ini. Setelah membacanya, saya menganggap penulis masih bermain ‘aman’ dengan tidak mengangkatnya secara ‘besar-besaran’. Bukan berarti saya setuju dengan tema tersebut, hanya menyampaikan fakta bahwa novel ini memang tidak membahas lebih jauh tema tersebut. Porsinya memang sedikit, tetapi jelas menunjukkan kalau novel ini menyetujui tema menyukai sesama jenis.

Kembali lagi ke novel Above the Stars, buku ini mengangkat kisah persahabatan Danny, Mia, dan Will. Alurnya mirip-mirip dengan film-film coming of age atau novel-novel Young Adult ala Barat. Ada Danny yang tuna netra, berhati baik, tetapi rindu dengan petualangan. Ada Mia yang galak tetapi penuh perhatian kepada Danny dan hampir sama protektifnya seperti orang tua Danny. Dan ada Will yang mengganggap setiap waktu yang berlalu harus digunakan untuk melakukan hal-hal yang ingin kita lakukan.

Jujur saja, saat membaca novel ini, saya merasa konfliknya datar. Seperti tidak ada sesuatu yang wow banget. Atau mungkin saya yang bisa menebak akan ke mana arah cerita ini karena melihat tanda-tanda yang tersirat di bagian-bagian sebelumnya. Jadi, yah… malah terasa agak membosankan.
Saya sendiri kurang suka dengan tokoh Will. Saya tidak terlalu suka dengan pemikirannya yang ingin melakukan apa saja selagi ada waktu. 

Ya, memang, kita nggak tahu kapan kita meninggal, tetapi itu bukan alasan untuk melakukan sesuatu yang tidak bertanggung jawab meskipun niatnya baik, seperti mengajak Danny keluar malam-malam ke klub. Dan yang lebih aneh lagi, setelah berhasil mengelabui penjaga klub dan masuk ke dalam klub, Will malah marah-marah karena di dekatnya ada perempuan yang merokok. Itu agak aneh, sih. Meskipun saya nggak pernah ke klub, tetapi kebanyakan orang tahu deh kalau ke klub itu buat joget-joget, merokok, minum-minum. Jadi, yah, aneh saja marahin orang merokok, kecuali di transportasi umum atau tempat-tempat lainnya yang dilarang meokok. Walaupun memang sikap Will itu adalah petunjuk untuk bagian selanjutnya.

Saya sendiri malah tidak terlalu berempati dengan Danny, karena saya merasa si karakter utama ini malah terkesan tidak berkarakter. Sepertinya selow aja begitu. Memang sih, ada bagian Danny marah dan memberontak karena merasa selalu dikungkung, tetapi kurang terasa gereget. 

Saya malah cukup menyukai Mia Berry yang galak. Kesan galaknya dapet banget, protektifnya juga. Walaupun ada bagian-bagian Mia Berry yang terkesan nanggung, yaitu saat dia menyukai salah satu di antara dua cowok ini (sengaja saya rahasiakan biar ga spoiler).

Hmm… untuk sebuah novel debut, lumayan okelah.

Komentar