3 Aplikasi Penghibur sebagai Ganti Jalan-Jalan ke Toko Buku

 


Kapan terakhir kali kamu pergi ke toko buku fisik? Kalau saya bulan Februari lalu, yang mana terasa lamaaa sekali.

Yah, bisa dibilang bulan Februari tahun ini merupakan sesuatu yang jauh, sesuatu yang seolah berasal dari masa lampau, dan saya masih bertanya-tanya mungkinkah segalanya bisa kembali seperti Februari tahun ini dan bulan-bulan sebelumnya?

Cukup sudah meratapi nasib.

Kali ini saya ingin cerita tentang tiga aplikasi android yang terpasang di ponsel saya sebagai pelipur lara karena belum bisa jalan-jalan ke toko buku lagi. Tiga aplikasi ini pasti sudah familiar banget buat kamu, bahkan mungkin kamu sudah memasangnya jauh sebelum pandemi melanda.

1.       Goodreads

Saya kenal Goodreads dari tahun 2011. Lupa awalnya bagaimana. Pokoknya, begitulah. 

Pertama kali pakai Goodreads hanya buat cari info buku-buku incaran sekaligus komentar dari yang sudah baca. Mulai tahun 2015 berani ikutan reading challenge sampai sekarang.

Nah, karena pertama kali kenal Goodreads lewat websitenya, sampai beberapa bulan terakhir, saya terbiasa membuka Goodreads lewat laptop atau PC. Sekitar setahun atau dua tahun lalu pernah coba pasang aplikasi androidnya, tetapi entah kenapa, saya merasa lebih nyaman buka lewat laptop. Jadi saya copot lagi aplikasi itu di ponsel. Berhubung sekarang agak mager buka laptop, saya pasang aplikasi Goodreads lagi di ponsel.

Perasaan saya setelah membuka Goodreads rasanya hampir sama seperti habis jalan-jalan dari toko buku. Biasanya Goodreads punya list buku baru atau list-list lain berdasarkan tema. Saya paling suka baca list-list itu dan lihat buku-buku di sana. Selalu ada buku baru yang ingin dibaca setiap berselancar di Goodreads.

Sering juga, misal saya penasaran dengan satu buku tertentu. Atau habis baca satu buku tertentu dan suka banget dengan buku itu, Goodreads kasih rekomendasi buku-buku sejenis. Wah, bisa dipastikan saya tenggelam dalam rekomendasi itu dan bisa berlama-lama berselancar di sana.

Kalau untuk daftar teman, teman saya di Goodreads termasuk sedikit, sih, hahaha. Karena niat saya pakai Goodreads memang bukan untuk menambah teman, tetapi untuk merekap buku bacaan dan mendapat info tentang buku. Jadi, saya agak pilih-pilih siapa teman yang saya add. Biasanya sih yang selera bukunya sama dengan saya atau tipe bacaannya sedang saya minati.

Goodreads versi aplikasi dengan versi website nggak terlalu jauh berbeda menurut saya. yang versi aplikasi user friendly dan selama ini saya oke-oke saja memakainya. Cuma ya itu, saya memang lebih memilih versi website ketimbang aplikasi. Terasa lebih lega aja. Versi aplikasi hanya untuk saat-saat mager. Hehehe.

2.       Google Play Book

Saya baru pasang aplikasi Google Play Book tahun ini. Gara-gara seorang penulis (bekerja sama dengan penerbitnya) membagikan ebook novelnya secara gratis lewat aplikasi ini. Yah, apa pun yang gratisan, apalagi buku, jangan sampai terlewatkan, dong. Jadi, saya buru-buru pasang Google Play Book.

Dan ternyata… ini aplikasi yang sangat menyenangkan!

Telat banget kayaknya, ya?

Salah satu hal yang paling menyenangkan dari Google Play Book adalah adanya sampel gratis. Rasanya seperti saat kita ke toko buku, terus lihat-lihat isi buku yang kita minati. Lihat-lihat depannya, daftar isinya, bab satunya. Kalau tertarik, beli dan bawa pulang. Kalau nggak tertarik, taruh lagi di rak.

Sampel gratis ini bermanfaat banget buat saya yang sekarang makin selektif memilih bacaan. Kalau dari daftar isi dan bab satunya menarik, bisa dipastikan buku tersebut masuk daftar wishlist. Kalau misalnya saya nggak terlalu tertarik, meskipun sebelumnya buku itu ada di daftar wishlist, langsung coret.

Jumlah halaman sampel gratis bervariasi. Saya nggak tahu apa ada ketentuan khusus dari Google Play Book atau penerbit yang menentukan jumlah halaman yang menjadi sampel gratis. Beberapa buku, sampel gratisnya lumayan banyak. Bisa satu bab pertama utuh. Ada juga yang cuma daftar isi dan 1-2 halaman bab pertama. Bahkan, ada yang hanya 2-3 halaman pertama dan belum sampai daftar isi!

Buku-buku yang ada di Google Play Book lumayan banyak, termasuk buku-buku indie atau dari penerbit minor. Ada juga buku-buku gratis, baik yang disebarkan secara personal maupun dari pihak penerbit.

Sampai saat ini, meskipun banyak sampel buku yang saya baca secara gratis, belum ada satu pun buku yang saya beli di Google Play Book! Kenapa?

Lanjut ke nomor 3.

3.       Ipusnas

Saya tahu aplikasi ini sekitar dua tahun lalu (atau lebih). Pernah pasang dan baca dua buku. Tetapi habis itu saya copot lagi, karena waktu itu menurut saya ukuran font buku-buku di Ipusnas kecil banget dan pada saat itu saya lebih memilih membaca buku fisik.

Sekarang, saat bujet membeli buku fisik semakin sedikit dan harus benar-benar selektif membeli buku, saya kembali melirik aplikasi Ipusnas.

Koleksi Ipusnas lumayan banyak dan bervariasi. Pengguna bisa langsung search judul buku atau nama penulis di kolom pencari atau melihat di kategori buku. 

Untuk ukuran font, yah, masih kecil sih. Tetapi, karena gratis, jadi ya okelah, kekurangan tersebut diterima.

Cara pinjam buku sangat gampang. Tinggal klik buku yang kamu pilih, terus di bawahnya ada tulisan 'pinjam'. Klik pinjam, lalu tunggu sebentar sampai berubah jadi tulisan ‘baca’.

Saya nggak tahu berapa lama masa pinjam dan jumlah maksimal buku yang dipinjam di Ipusnas, karena selama ini saya nggak terlalu memerhatikan. Kadang-kadang, kalau saya lupa, tahu-tahu buku itu sudah ‘hilang’ di daftar dan saya harus klik ‘pinjam’ lagi. Dan selama ini saya belum kena limit jumlah pinjam buku. Mungkin yang sudah berpengalaman pinjam dan baca buku di Ipusnas bisa berbagi di kolom komentar.

Selain font yang lumayan kecil, satu lagi kekurangan Ipusnas adalah buku yang dipinjam tidak bisa dibaca ketika data internet dimatikan. Berbeda dengan Google Play Book, selama buku tersebut sudah kamu download (buku utuh atau sample gratis) dan nggak kamu hapus dari aplikasimu, buku itu bisa kamu baca, baik saat data internet menyala maupun tidak.

Memang, sih, kuota yang dibutuhkan untuk baca di Ipusnas nggak gede-gede amat. Tetapi, saya merasa lebih fokus dan nggak mudah diganggu kalau data internet di ponsel dimatikan. Soalnya, kalau nggak dimatikan, godaannya banyak banget. Tiba-tiba ingin buka aplikasi yang lain, ujung-ujungnya lupa untuk melanjutkan baca.

Selain dua kekurangan itu, sejauh ini aplikasi Ipusnas bermanfaat dan membantu banget. Apalagi untuk pembaca buku berbujet minim seperti saya. Hehehe.

Jadi, urutannya. Setelah lihat-lihat buku di Goodreads, saya ke Google Play Book untuk lihat apakah buku tersebut tersedia di sana. Kalau ada, saya unduh sampel gratisnya. Kalau tertarik, saya cek keberadaannya di Ipusnas. Kalau ada, klik pinjam, terus lanjut baca.

Nggak perlu keluar uang, nggak perlu keluar rumah.

Kalau nggak ada di Google Play Book, langsung cek di Ipusnas. Kalau di Ipusnas ada, ya langsung pinjam aja.

Kalau ada di Google Play Book, tetapi nggak ada di Ipusnas, ya sabar aja. Mudah-mudahan suatu hari buku itu jadi rezeki saya.

Begitulah kira-kira. Walaupun tiga aplikasi ini cukup menghibur diri dari ketidakbisaan saya jalan-jalan ke toko buku, tetap saja saya kangen jalan-jalan ke sana. Ya, karena tetap saja beda rasanya. Namun, sekarang sabar-sabar dululah.


Bagaimana denganmu? Pernah atau sedang memakai tiga aplikasi yang tadi saya ceritakan? 

Seperti apa pengalamanmu dengan tiga (atau salah satu) aplikasi tersebut? 


TAMBAHAN

Ipusnas bisa dibaca versi offline, ya, alias nggak mesti data internetnya nyala, asal sudah pinjam buku tersebut. (Saya baru tahu beberapa hari setelah posting ini, wkwk). Masa pinjam satu buku 5 hari. Waktu pengembalian buku minimal sehari pinjam, kurang dari itu belum bisa dibalikin. Kalau sudah 5 hari, otomatis buku yang kita pinjam akan menghilang di aplikasi Ipusnas kita. 



Komentar

  1. Kalau saya nggak pasang aplikasi Goodreads di ponsel. Kebutuhannya hanya untuk update buku apa saja yang udah dibaca. Jadi biasanya cukup buka di leptop aja. Aplikasi Google Play Book jadi aplikasi wajib. Sebab suka ada gratisan tanpa diduga. Pernah saya nggak sengaja buka, eh ada gratisan dari Penerbit GagasMedia. Setiap hari, penerbit itu menggratiskan satu judul buku. Entah sejak kapan, dan saya hanya kebagian tiga hari saja. Tapi alhamdulillah banget. Bukunya bagus dan terkenal juga pada masa awal penerbitannya.

    Kalau perpustakaan online, saya pernah install itu yang IJak. Lebih nyaman pakai itu ketimbang IPusnas. Nggak tau kenapa, apa karena warnanya kuning, cerah. Hahaha. Di Ijak ini bisa bebas pinjam buku. Dan masa pinjamnya dibatasi 3 hari. Lebih dari 3 hari, buku akan ditarik otomatis.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Seneng banget rasanya ya dapet buku gratisan, hehehe. saya juga penasaran sama Ijak. Nanti pengen coba juga. Oiya, kalau di Ipusnas masa pinjamnya 5 hari. lebih cepet Ijak ya :')

      Hapus
  2. Kalau tak salah ingat saya terakhir kali pergi ke toko buku kurang lebih 2 tahun yang lalu, hiks. Letaknya jauh banget di ibukota provinsi, *nasib tinggal di kota kecil*.

    Kalau saya sekarang "jalan-jalan bukunya" di marketplace sama Gramedia Digital, hihihi.

    Saya punya aplikasi Google Play Book, tapi jarang saya explore. Ternyata banyak nilai plus-nya ya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. saya kalau jalan-jalan di marketplace takut khilaf, mbak :D kecuali pas ada diskon gede-gedean baru buka, hihihi.

      Hapus
  3. Mba, tau ga, aku berencana jg mau bikin postingan tntng 3 aplikasi ini. Tp rencananya judulnya tentang 3 aplikasi yg dimiliki pencinta buku 😁 Di antara semua itu aku paling suka Ipusnas. Eh memang buku yg dipinjem ga bs dibaca pas ga ada sinyal ya? Bisa kok Mbaa, aku sering baca di pesawat pas mode airplane mode soalnya..
    Kalau Gramedia digital pake jg ga mba?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, ternyata bisa baca pas offline, cuma judulnya nggak tampil aja, hehe. (baru tau setelah posting ini). Kalau Gramedia Digital belum punya, masih berbekal aplikasi yang gratisan aja, hihihi.

      Hapus

Posting Komentar