Judul: Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati
Penulis: Brian Khrisna
Penerbit: Grasindo
Tahun Terbit: 2025
Halaman: 217
Ale, seorang pria bertubuh besar, berkulit hitam, yang lama hidup sendirian dan diabaikan. Merasa depresi dan nggak ingin hidup lagi. Akhirnya Ale memutuskan untuk bun*h diri. Tapi, sebelum itu, ia ingin melakukan beberapa hal. Salah satunya adalah makan mie ayam dekat apartemennya yang biasa dia makan untuk sarapan.
Sayangnya, harapan yang terbilang sederhana dan harusnya mudah terlaksana, malah tidak terwujud. Saat mendatangi gerobak mie ayam Pak Jo, ternyata tidak jualan. Akhirnya, Ale terpaksa menunda rencana bun*h dirinya, dan menunggu sampai gerobak mie ayam itu buka. Tidak mau makan mie ayam lain, karena mie ayam itulah langganannya.
Esok hari datang lagi, Ale kira mie ayam Pak Jo sudah buka. Ternyata, gerobak itu sudah dijual dan orang yang tadi membuka terpal adalah pembelinya. Belakangan, Ale baru tahu kalau Pak Jo baru saja meninggal dna gerobak mie ayamnya dijual kepada orang lain.
Jelas, Ale kecewa. Ingin makan mie ayam sebelum mati saja malah jadi susah. Dan akhirnya ia terjerumus pada petualangan yang membuatnya terpaksa menunda rencana bun*h diri itu jadi lebih lama.
My Review
Sebelum membahas buku ini, aku mau cerita dulu, kalau sebelumnya aku membaca buku Brian Khrisna yang lain, yang berjudul Sisi Tergelap Surga. Tapi aku tidak selesai membacanya. Dan buku ini, Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati, adalah buku pertamanya yang aku baca sampai selesai.
Awalnya aku agak skeptis karena pengalaman membaca Sisi Tergelap Surga yang menurutku kurang fokus mau nyeritain siapa. Dan salah satu alasan aku berhasil membaca cerita Ale sampai selesai, karena aku menemukan tokoh utama, tujuan, dan alasan.
Tokoh utama: Ale
Tujuan: Mati, tapi sebelum itu, makan mie ayam Pak Jo dulu
Alasan: Merasa nggak berharga
Bagian saat Ale terpaksa ikut proses penguburan Pak Jo sebenarnya cukup menarik, sampai dia ditangkap polisi pun lumayan. Tapi, setelah ketemu Murad dan selanjutnya.... Hmm...
Ketemu lagi dengan gaya tulisannya penulis di Sisi Tergelap Surga. Kasar, nggak sopan, (ya mungkin ingin benar-benar 'memotret' lingkungan yang ia angkat ya, kan kayaknya aneh kalau bandar narkoba ngomongnya sopan dan santun), tapi ya tetep aja... Intinya kalau baca buku ini, siap-siap nemu kata-kata kasar.
Apalagi pas ketemu Madame Louisse dan Juleha. Juleha ini tokoh yang ada di cerita Sisi Tergelap Surga, dan yang bikin aku males lanjutin baca. Dan pas ketemu lagi di sini, aku hampir nggak mau lanjut baca juga. Tapi karena tahu ini buku tentang Ale, jadi mari kita usahakan baca sampai akhir.
Nah, intinya, novel ini tuh bercerita tentang Ale yang ketemu dengan berbagai jenis orang yang akhirnya menyadarkan dia untuk menghargai hidup. Spoiler, Ale nggak jadi bunuh diri. Dia merasa tergugah saat mengobrol dengan Ipul, Jipren, Bung, dkk.
Bagian yang agak kurang, selain tentu saja, bagian yang terlalu didaktik dan kebetulannya, adalah bagian Ale 'menghilang' dari hidup Murad. Kayaknya, untuk ukuran Murad, harusnya Ale dicari sampai ketemu sih. Aku bahkan sempet nyangka, si Ipul bakal dipukulin sampai babak belur gara-gara bawa pergi Ale. Ternyata enggak.
Yaudah, itu saja review dari aku. Di Goodreads, aku juga nulis review. Dan melihat review-review orang yang terbagi menjadi dua kubu, yang menyukai dan menganggap novel ini bagus. Satu kubu lagi yang kurang suka, bahkan menganggap penulis punya 'feti*h' terhadap kemiskinan dan kaum marjinal.
Kalau aku, yah... Aku kasih bintang tiga, karena setidaknya di cerita ini, ada tiga hal penting yang dibutuhkan oleh cerita fiksi. Tokoh utama, tujuan tokoh utama, dan alasan tokoh utama kenapa dia mengingkan tujuan tersebut.

Komentar
Posting Komentar