Resensi Buku: The Perfect World of Miwako Sumida


Judul: The Perfect World of Miwako Sumida

Penulis: Clarissa Goenawan

Penerjemah: Lulu Fitri Rahman

Penyunting: Barokah Ruziati

Penyelaras Aksara: Karina Andjani

Perancang Sampul: Sukutangan

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Tahun Terbit: Cetakan Pertama, 2020

Halaman: 368


Novel dibuka dengan bunuh diri Miwako Sumida. Ia ditemukan gantung diri di hutan terpencil, jauh dari Tokyo. Tidak ada surat wasiat. Tidak ada penjelasan. Ryusei, yang baru saja menyatakan cinta dan mulai dekat dengannya, hancur total. Bersama Chie, sahabat Miwako, ia mulai menyusuri jejak hidup Miwako untuk mencari jawaban.

Tapi bukan hanya Ryusei dan Chie yang ingin tahu. Fumi, kakak Ryusei, juga punya pertanyaan sendiri. Dan di sinilah keunikan novel ini: cerita dibagi ke dalam tiga narator berbeda, masing-masing membawa perspektif dan rahasia yang memperkaya teka-teki.

Perjalanan ini membawa mereka ke masa lalu yang tak terduga: sebuah desa terpencil, sebuah kafe buku bekas yang tersembunyi, dan seorang pemuda misterius bernama Tetsuya—kakak Miwako yang telah lama menghilang. Semakin dalam mereka menggali, semakin mereka sadar bahwa "dunia sempurna" Miwako hanyalah permukaan. Di bawahnya, ada trauma, pengasingan, dan satu rahasia besar yang diam-diam menggerogoti hidupnya.

Novel ini membongkar ilusi kesempurnaan; bahwa orang yang tampak paling tenang bisa jadi menyimpan badai paling besar.

Atmosfernya sunyi, sendu, dan misterius, dengan sedikit sentuhan realisme magis yang halus. Seperti potongan kaca bening yang perlahan dirangkai menjadi cermin utuh—dan di akhir, cermin itu menunjukkan wajah kita sendiri.


Komentar