Resensi Buku: Rainbirds

Judul: Rainbirds

Penulis: Clarissa Goenawan

Penerjemah: Lulu Fitri Rahman

Penyunting: Barokah Ruziati

Penyelaras Aksara: Nadia Yasmine

Perancang Sampul: Sukutangan

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Tahun Terbit: Cetakan Kedua, Juli 2020

Halaman: 400



Saking inginnya menulis review buku ini, aku membaca ulang sekali lagi, karena aku lupa jalan ceritanya. Yang tersisa di aku saat mengingat novel ini adalah pertanyaan yanh sedikit ragu, 'Ini kok rasanya seperti Ren diam-diam suka pada kakaknya sendiri, Keiko?' Tapi mungkin itu pikiranku saja.

Rainbirds datang dengan premis yang terdengar seperti misteri kriminal biasa: Keiko Ishida ditemukan tewas ditikam di jalanan sunyi kota kecil Akakawa. Adiknya, Ren, harus datang untuk mengurus pemakaman sekaligus menyelidiki kehidupan kakak yang ternyata tak benar-benar ia kenal. Tapi begitu halaman pertama dibuka, jelas sekali bahwa ini bukan novel detektif. Ini adalah perjalanan ke dalam keheningan, rahasia keluarga, dan luka yang tak pernah diucapkan.

Banyak novel misteri berlomba-lomba memberi twist mengejutkan. Rainbirds tidak seperti itu. Misteri di sini berkembang perlahan, seiring Ren bertemu dengan karakter-karakter yang tampaknya menyimpan kepingan rahasia Keiko: Honda, kolega Keiko yang ramah namun misterius; Katsuya Nakajima, murid privat yang dingin dan penuh teka-teki; dan seorang wanita bertopi yang sering muncul di sudut-sudut kota.

Semakin dalam Ren menyelidiki, semakin jelas bahwa hidup Keiko penuh dengan kehidupan ganda yang mengejutkan. Tapi alih-alih menyajikan thriller mencekam, novel ini menyajikan pengungkapan-pengungkapan itu dengan nada yang pilu. Seolah berkata: inilah bebannya, inilah kenapa ia harus pergi seperti itu.

Rainbirds bukan bacaan untuk semua orang. Temponya lambat. Sangat lambat. Jika kamu mengharapkan misteri yang memacu adrenalin, novel ini mungkin akan mengecewakan. Ada beberapa alur yang terasa menggantung, dan endingnya ambigu—tidak memberikan katarsis yang tegas.



Komentar