Melankolia Ninna: Kisah tentang Menanti Buah Hati

Penulis: Robin Wijaya
Penyunting: Jia Effendie
Penerbit: Falcon Publishing
Tahun Terbit: Desember 2016
Halaman: 234
ISBN: 978-602-60514-1-7

Ninna dan Gamal, sepasang suami istri yang harus rela melepaskan keinginan mereka untuk memiliki anak karena Ninna mengidap penyakit kanker rahim. Satu-satunya jalan yang bisa diambil agar Ninna kembali sehat adalah merelakan rahimnya diangkat. Bagi seorang perempuan kehilangan rahim tentu saja hal yang sangat berat, terlebih jika belum dikaruniai anak. Padahal, Gamal dan Ninna telah menanti kehadiran buah hati mereka selama lima tahun. Bahkan, mereka telah membuat kamar bayi yang telah lengkap dengan berbagai perabot dan hiasan untuk anak-anak.

Setelah operasi pengangkatan rahim, kehidupan Gamal dan Ninna berubah. Banyak hal yang menjadi sensitif bagi Ninna. Gamal berusaha semampunya menjaga suasana hati agar tetap bahagia. Namun, bagaimana jika ia juga memiliki keinginan yang lain yang mungkin tidak merusak ketenangan Ninna? Akankah Gamal mengungkapkan keinginannya?


me.lan.ko.lia /mèlankolia/

  1. n kelainan jiwa yang ditandai oleh keadaan depresi dan ketidakaktifan fisik
  2. n Psi patologi tentang suasana hati yang ditandai dengan kesedihan dan depresi

My Review 

Ini buku kedua Blue Valley series yang saya baca setelah Lara Miya. Saya pilih cerita ini, ketimbang empat buku lainnya karena ide ceritanya cukup dekat dengan kehidupan saya. Bukan berarti saya mengidap penyakit seperti Ninna, hanya saja saya jadi penasaran dengan novel-novel yang mengisahkan kehidupan rumah tangga, khususnya rumah tangga yang permasalahannya menanti buah hati.

Novel ini diceritakan dari sudut pandang Ninna dan Gamal secara bergantian. Jadi, pembaca dapat mengetahui isi hati dan apa yang dilakukan masing-masing tokoh.

Bisa dibilang, Gamal adalah contoh suami idaman. Bagaimana tidak, ia tetap setia dan amat sangat sabar mendampingi Ninna yang menurut saya labil dan agak egois. Gamal berusaha memenuhi setiap keinginan Ninna asalkan Ninna tidak selalu terpuruk dalam kesedihan, salah satunya mengizinkan Ninna bekerja kantoran lagi. Begitu juga saat Ninna ingin kamar bayi yang telah mereka persiapkan dikosongkan, semua baju dan perlengkapan bayi yang mereka miliki Ninna sumbangkan. 

Sementara itu, Gamal tidak rela melepaskan baby’s crib yang ia buat dengan tangan sendiri dan penuh harapan. Akhirnya, NInna membolehkan Gamal tetap menyimpan baby’s crib itu dengan syarat sudah dibongkar kayu-kayunya dan diletakkan di tempat yang tidak akan dilihat Ninna. Gamal setuju. Namun, diam-diam, ia menaruh harapan untuk memiliki bayi. Ia merangkai kembali baby’s crib itu dan menyimpannya di gudang. Siapa tahu nanti akan dibutuhkan.

Saat baca cerita, saya agak kesal dengan Ninna yang egois dan ‘cewek’ banget. Iya, meskipun laki-laki, sepertinya penulis sangat mengenal karakter umum perempuan sehingga bisa menghidupkan karakter yang ‘cewek’ banget seperti Ninna. Ngambek ke Gamal tetapi nggak bilang karena apa, malah pergi begitu saja. Ya, walaupun agak egois, karakter seperti ini masuk akal banget, sih.

Gamal juga, walaupun kelihatan sempurna, tetap ada sisi-sisi manusiawinya yang bikin dia tampak ‘normal’. Jadi, tokoh-tokoh di cerita ini benar-benar seperti ada di sekitar kita. Alur ceritanya pun tidak mengawang-awang, tidak terlalu sinetron, pokoknya tidak berlebihanlah. Baik tokoh maupun alur ceritanya, terasa pas.

Saya sempat menitikkan air mata pada beberapa bagian di novel ini. walaupun belum sampai termehek-mehek atau book hangover. Secara keseluruhan, karya Robin Wijaya yang pertama kali saya baca ini menarik. Membuat saya penasaran dengan karya-karya beliau yang lain.

Saya tidak tahu apakah reaksi saya akan sama jika saya membaca novel ini sebelum menikah atau sudah menikah dan sudah memiliki anak, tetapi jikapun tidak berada dalam posisi yang sama dengan Gamal dan Ninna, tidak ada salahnya membaca buku ini. agar empati kita semakin terasah terhadap berbagai ujian yang dihadapi orang-orang di sekitar kita dan mungkin membuat kita jadi sungkan bertanya hal-hal yang bisa mengusik hati semacam, “Kapan nikah? Kapan punya anak?” :)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Resensi Pertama: The Lord of The Rings