Jumat, 22 September 2017

Resensi Buku: Lukisan Dorian Gray



Penulis: Oscar Wilde
Penerjemah: Diyan Yulianto
Editor: Addin Negara
Tahun Terbit: 2015
Penerbit: Diva Press
ISBN: 978-602-255-782-1



“The Picture of Dorian Gray adalah satu-satunya novel karya Oscar Wilde sekaligus karyanya yang paling mahsyur. Diterbitkan pertama kali dalam bentuk novel pada tahun 1890, karya ini langsung mendapat sambutan pro dan kontra di kalangan pembaca karena berani menyentuh tema-tema sosial yang sensitif dalam masyarakat era abad ke-19. 

Sebuah penyatuan antara naskah drama, pelajaran moral, dan keindahan sastra; itulah ungkapan-ungkapan yang paling tepat untuk menggambarkan novel ini. karena kelebihannya ini, karya ini dinobatkan sebagai salah satu novel terbaik yang pernah ditulisa dalam bahasa Inggris.” (dikutip dari Pengantar Penerbit Diva Press)

Lukisan Dorian Gray bercerita tentang seorang pemuda tampan bernama Dorian Gray. Ia memiliki sahabat, seorang pelukis bernama Basil Hallward. Basil sangat memuja ketampanan Dorian. Dorian hampir selalu menjadi objek lukisannya. Lukisan yang Basil buat dengan sepenuh hati dan tak rela ia bagi dengan siapa pun.

Pemujaan dan kekaguman Basil terhadap Dorian tentu dipandang aneh oleh sahabatnya, Lord Henry Wotton. Lord Henry tak mengerti bagaimana seorang Basil bisa begitu memuja seorang pemuda tampan sampai ia sendiri bertemu dengan Dorian Gray. Seperti Basil, Lord Henry juga mengakui ketampanan dan keluguan Dorian Gray.

Sama seperti hari-hari sebelumnya, Basil pun mulai melukis Dorian. Ketika selesai, semuanya mengakui kalau lukisan itu amat mirip dengan Dorian Gray. Bahkan lukisan itu tampak lebih indah dari aslinya. Sampai Lord Henry berseloroh kalau ia iri dengan Dorian Gray di dalam lukisan itu. Dorian Gray di sana akan selalu tampak muda, tampan, tidak akan tersentuh waktu.

My Review

Awal tertarik membaca Lukisan Dorian Gray karena judul ini disebutkan dalam novel Beastly. Lukisan Dorian Gray adalah salah satu novel yang dibaca tokoh utamanya saat sedang menjalani hukuman kurung. Selain itu, saya juga penasaran karena katanya novel ini menceritakan tentang pemuda yang amat mengagumi wajahnya sendiri sehingga rela menukar jiwanya dengan kemudaan abadi.

Sebelum membaca, saya mengira Dorian Gray adalah tipe laki-laki yang ambisius dan haus akan pujian. Ternyata setelah membaca, saya malah jatuh kasihan pada Dorian. Dia termakan oleh omongan Lord Henry tentang kemudaan. Kemudaan dan ketampanan yang harus dimanfaatkan sebaik-baiknya, karena saat itu, kau melakukan kesalahan apa pun akan dimaklumi orang. Kemudaan dan ketampanan yang akan menjadikan pusat perhatian, kekaguman, dan pujian. Kemudaan dan ketampanan yang hanya hinggap sejenak sebelum akhirnya kau keriput, tua, dan layu, dan orang tidak ada yang peduli denganmu.

Di dalam cerita ini ada tiga tokoh utama. Dorian Gray, Lord Henry, dan Basil Hallward. Dorian Gray, pemuda ini awalnya polos banget. Dia bersahabat baik dengan Basil. Tetapi suka malas jadi objek lukisannya, ya, karena bosan dan capek lah ya, duduk berjam-jam dengan gaya yang sama. Mana saat Basil melukis, dia selalu diam, nggak ngajak ngobrol atau apa. Fokus banget dengan lukisannya.

Suatu saat sesi melukis, Basil ditemani Lord Henry. Di situlah momen pertama Dorian berkenalan dengan Lord Henry. Lord Henry ini orangnya banyak omong, pikirannya agak nyeleneh, tetapi apa yang dia bicarakan sesungguhnya benar, realistis, dan jujur. Dorian termakan omongan Lord Henry tentang kemudaan. Oleh karena itu, saat lukisan Basil sudah jadi, dan ia melihatnya, Dorian berdoa, berharap dengan sungguh-sungguh kalau ia bisa awet muda seperti lukisannya. Dan biarkan lukisan itu yang menjadi tua dan jelek karena menanggung dosa-dosanya.

Ternyata apa yang diharapkan Dorian menjadi kenyataan. Suatu kali ia berbuat salah. Lalu ia melihat lukisan itu. Ada satu kerut yang muncul di dalam lukisan buatan Basil. Awalnya, Dorian tidak percaya. Namun, setelah melakukan kesalahan beberapa kali, Dorian yakin lukisan buatan Basil itulah yang menanggung dosa-dosanya, menjadikan wajahnya penuh kerut dan luka. Sedangkan wajah Dorian sendiri tetap muda dan tampan seolah tak bertambah tua sedetik pun.

Jadi, yang saya tangkap setelah membaca novel ini, Dorian awalnya tidak sungguh-sungguh berniat mengawetkan wajah tampannya. Pada akhirnya, Dorian terus termakan dengan kata-kata Lord Henry, yang membuat ia semakin tidak peduli dengan kesalahan-kesalahan yang diperbuatnya.

Meskipun begitu, Dorian sangat takut lukisan itu dilihat orang lain. Lukisan itu memang diberikan Basil pada Dorian. Setelah Dorian menyadari keganjilan lukisan tersebut, tidak ada seorang pun yang diizinkan melihat lukisan itu. Lukisan itu disimpan dengan amat rapi dan tersembunyi, setiap hari ditutup oleh kain. Hanya Dorian yang boleh melihat lukisan itu.

Jika di awal disebutkan bahwa novel ini adalah salah satu karya sastra terbaik, saya mengamininya. Meskipun ceritanya lebih banyak diisi narasi, kalaupun ada dialog, dialognya juga panjang-panjang sekali, keseluruhan novel ini tidak membosankan untuk dibaca.

Kalimat-kalimatnya itu bikin merenung dan berpikir. Bahkan saat awal-awal membaca, banyak sekali kalimat yang saya tandai. Saking banyaknya, saat di bagian tengah sampai selanjutnya saya sudah bosan menandai karena bagi saya isinya bagus semua.

Saya tidak menyangka akan menyukai novel ini. Terlebih terjemahannya apik dan enak dibaca. Meskipun sampulnya terkesan agak horror, ya, dan sempat membuat saya berpikir novel ini agak sedikit horror. Ternyata tidak. Bagian paling seru adalah bagian akhir. Saat Dorian sudah mulai lelah dengan kehidupannya dan semakin takut rahasia besarnya diketahui orang banyak.  Jujur, saya deg-deg-an banget saat membacanya.

Tema novel ini sesungguhnya tidak lekang oleh zaman. Tentang kemudaan yang hinggap untuk sementara, tentang kelakuan buruk yang akan meninggalkan jejak di wajah, tentang keinginan untuk dipuja dan dikagumi. Setelah membaca novel ini, saya berharap Oscar Wilde tidak membuat satu novel saja selama hidupnya. Sayangnya, harapan itu tidak akan menjadi nyata.

Salah satu novel yang akan saya baca lagi, suatu hari nanti.

“Ada bencana dalam setiap kelebihan fisik maupun kelebihan intelektual, bencana yang telah menjatuhkan raja-raja lemah sepanjang sejarah. Adalah lebih baik menjadi seperti orang kebanyakan. Mereka yang buruk rupa dan bodoh mendapatkan yang terbaik di dunia ini. mereka bisa duduk-duduk dengan tenang sambil mengagumi jalannya permainan. Jika mereka tidak pernah mengecap manisnya kemenangan, merek a juga tidak akan merasakan pahitnya kekalahan. Mereka hidup apa adanya, tidak diganggu, tidak mencolok, dan tidak pernah merasa cemas. Mereka tidak pernah menyebabkan orang lain menderita dan tidak pula dibuat menderita oleh orang asing.”

Review ini untuk




Kategori Classic Literature

Selasa, 29 Agustus 2017

Resensi Buku: Mengulas 3 Karya Ziggy



Assalamualaikum, kali ini saya mau membahas 3 karya penulis bernama unik, Ziggy Zezsyazeoviennazabriskie. Setelah sebelumnya terpesona dengan Lucid Dream, saya tertarik untuk membaca hampir semua karya Ziggy. Saya berkesempatan membaca tiga buah bukunya dengan ekspektasi yang cukup tinggi. Apakah setelah dibaca buku-buku itu sesuai dengan harapan saya? Let’s find out!

Saving Ludo (Mizan Fantasteen, 2015)


Ini karya kedua Ziggy yang saya baca. Masih di bawah lini Fantasteen. Dari berbagai resensi yang saya baca, banyak yang menyukai kisah persahabatan antara Theo dan Ludo. Saya agak takut sebenarnya dengan gambar sampulnya yang menyeramkan. Seperti sosok Alice in Wonderland versi hantu. Saya cukup penasaran dengan, apakah sosok Alice ini ada hubungannya dengan cerita.

Well, ternyata benar. Diceritakan, seorang anak laki-laki bernama Theo memiliki sahabat yang amat ia sayangi bernama Ludo. Namun, Ludo sekarat karena penyakit leukemia yang dideritanya. Theo sangat takut kehilangan Ludo. Ia rela melakukan apa saja demi kesembuhan Ludo. Dan ya, Theo rela menukar ingatannya tentang Ludo hanya agar Ludo kembali sehat seperti sedia kala. Meskipun itu harus mengorbankan persahabatan yang mereka miliki selama ini.

Dengan siapa Theo menukar ingatannya? Yup, benar! Dengan Alice versi hantu ini. Theo tak sengaja mengikuti kelinci gendut yang dapat berbicara. Kelinci itu tentu saja mirip dengan kelinci terburu-buru yang ada di kisah Alice in Wonderland. Si Kelinci membawa Ludo ke toko Alice. Di toko itulah, Theo dapat membeli apa pun yang dia inginkan. Semakin berharga keinginannya, semakin mahal pula bayarannya. Namun, bayarannya bukan memakai uang. Harga untuk kesembuhan Ludo adalah ingatan persahabatan antara Theo dan Ludo. Saat Ludo sembuh nanti, ia tidak akan pernah ingat pernah berteman dengan Theo. Begitu juga dengan Ludo.

Dari segi gaya bahasa, saya tetap menyukai gaya Ziggy. Rasanya seperti membaca buku terjemahan. Apalagi dengan latar cerita yang sepertinya juga bukan di Indonesia. Akan tetapi, saya kurang suka dengan ide ceritanya. Well, mungkin ini masalah ideologis, sih. Saya tahu ini buku fantasi. Tetapi saya tidak suka dengan segala sesuatu yang bekerja sama dengan setan.

Di cerita Saving Ludo ini, Alice adalah jelmaan setan. Setan yang bisa mengabulkan apa pun keinginan manusia dengan bayaran tertentu. Tentu saja, bayaran itu merugikan si manusia. Tetapi siapa yang peduli, toh yang penting keinginan mereka terkabul. Rasanya, untuk buku anak-anak dan remaja, ide cerita ini sangat tidak bagus.

Jujur saja, saya agak menyesal membeli buku ini. Ini bukan jenis buku yang ingin saya koleksi dan simpan untuk anak saya di kemudian hari. Saya tidak tahu, apakah saya akan berpikir seperti ini jika saya membaca buku ini saat masih remaja. Mungkin saya akan menyukainya, mungkin juga tidak. 

Terakhir, setelah membaca buku ini, jujur saja, saya jadi penasaran dengan kisah Lewis Carroll. Meskipun saya tahu ini fiksi, mungkin….yah, hanya mungkin… ada kisah-kisah nyata tersembunyi di dalamnya.

       Toriad (Mizan Fantasteen, 2014)


Jika dilihat dari tahun terbitnya, buku ini diterbitkan sebelum Saving Ludo. Dan setelah cukup kecewa membaca Saving Ludo, saya tidak banyak berharap dengan Toriad. Meskipun sebagian hati kecil saya masih berharap kalau buku ini akan mempesona saya seperti Lucid Dream. Kenyataannya, Toriad tidak lebih menakjubkan ketimbang Saving Ludo. Why? Mari kita ulas sebentar ceritanya.

Toriad berkisah tentang seorang anak laki-laki bernama Green Bean. Ia hidup bersama komplotan pencuri yang dianggapnya seperti keluarga sendiri. Mereka dalam perjalanan mencari Pusaka Bintang. Sayangnya, di tengah perjalanan, Green Bean tidak diajak. Ia dianggap masih terlalu kecil dan disarankan untuk tinggal di desa terakhir yang mereka singgahi.

Tentu saja, Green Bean menolak. Sebesar apa pun bahaya yang menghadang kelompok mereka, ia harus ikut.  Akan tetapi, ketika mereka berpisah jalan, Green diculik. Ketika terbangun, ia sudah berada di negeri asing yang sangat aneh, dan dikabarkan kalau dialah pengendali negeri tersebut.

Entahlah, sejujurnya saya agak pusing dengan cerita ini. Lagi-lagi, ide ceritanya tidak bisa diterima di kepala saya. Saya juga merasa cerita ini agak anti-klimaks. Saya cukup menikmati bagian awal hingga pertengahan cerita. Saat kelompok Green Bean berusaha menyelamatkan diri dari kejaran kelompok yang membahayakan mereka. Cerita mulai terasa aneh ketika Green Bean sampai di negeri Holiston. Negeri tanpa pepohonan, di mana rumah-rumah melayang-layang di udara.

Mungkin saya bukan penggemar berat cerita fantasi. Atau mungkin karena alasan lain. Yang jelas, Toriad is not my cup of tea.

      White Wedding (Pastel Books, 2015)


Inilah karya pertama Ziggy yang saya baca, yang bukan di bawah lini Fantasteen. Dengan judul White Wedding dan sampul berwarna putih yang amat manis, saya berharap ini adalah sebuah kisah cinta yang manis. Membaca blurb-nya juga mendukung hal itu. Bagaimana dengan ceritanya?

White Wedding berkisah tentang gadis kecil benama Elphira yang mengidap albino. Karena penyakitnya tersebut, Elphira tidak bersekolah seperti anak-anak lain seusianya. Dan karena penyakitnya juga, ia amat sangat membenci warna putih.

Elphira bersahabat dengan Sierra. Anak laki-laki berambut merah yang sehari-hari menemani Elphi dan mengajarkannya berbagai macam pelajaran. Elphi sangat menyayangi Sierra, meskipun seringkali Elphi sebal karena Sierra tidak sama dengannya. Sierra sangat menyukai warna putih.

Kali ini, saya cukup menyukai White Wedding. Tema yang diangkat cukup bagus, tentang bagaimana mengelola perasaan kehilangan atau takut kehilangan. Meskipun di sini ada kisah tentang malaikat yang saya anggap sepenuhnya fiksi, saya masih lebih menyukai White Wedding ketimbang dua buku sebelumnya.

Secara umum, saya amat menyukai cara Ziggy berkisah dan bertutur. Entah apa yang dimilikinya, yang jelas gaya menulisnya itu keren sekali. Ide ceritanya juga bagus-bagus sebenarnya. Meskipun ada beberapa yang tidak terlalu saya sukai.

Setelah membaca tiga karya Ziggy, apakah saya ingin membaca karya Ziggy yang lainnya? Tentu saja! Entah kenapa, saya nggak kapok-kapok penasaran dengan karya-karyanya, meskipun tidak semua. Melihat cukup banyak karya yang dihasilkan dan beberapa bahkan mendapatkan penghargaan, sepertinya Ziggy akan menjadi salah satu penulis favorit yang ditunggu-tunggu karyanya di Indonesia.

Setelah membaca tiga buku ini, saya masih penasaran dengan karya Ziggy yang berjudul Di Tanah Lada, Jakarta Sebelum Pagi, dan beberapa karyanya dengan nama pena Ginger Elyse Shelley. Semoga saya berkesempatan membaca semuanya.







P.S. semua foto buku dari goodreads.com

Sabtu, 12 Agustus 2017

Personal Journal: 11 Buku Klasik yang Ingin Aku Baca

Setelah membaca Lukisan Dorian Gray, aku merasa ingin membaca buku klasik lebih banyak lagi. Dulu, waktu masih jadi pengunjung tetap perpustakaan kampus, kebanyakan buku-buku yang kupinjam memang buku klasik. Setelah lulus dan bekerja, aku merasa buku klasik yang kubaca sedikit sekali.

Oleh karena itu, aku ingin mendaftar buku-buku klasik apa saja yang ingin kubaca dan kumiliki supaya tidak lupa.

1. Wuthering Heights by Emily Bronte. Sejak lama, aku penasaran dengan karya Bronte Sisters, salah dua karyanya yang membuatku penasaran adalah Jane Eyre dan Wuthering Heights.


2. The Hobbit by J.R.R. Tolkien. Setelah membaca Trilogi Lord of The Rings, rasanya ingin kembali lagi dunia Middle Earth.


3. Seluruh seri The Chronicle of Narnia by C.S. Lewis. Aku baru membaca buku The Magician Nephew, The Silver Chair, dan The Last Battle. Masih ada beberapa buku lagi yang harus dibaca!



4. Seluruh seri Anne of Green Gables by Lucy M. Montgomery. Yup, as one of my favorite author, harus banget baca karya Montgomery yang satu ini.



5. Oliver Twist by Charles Dickens. Aku juga penasaran dengan karya-karya Dickens, dan salah satu karya yang menarik hati aku adalah Oliver Twist. Kebetulan dulu pernah membaca cuplikan ceritanya di buku pelajaran Bahasa Inggris, dan pernah menonton film adaptasinya juga.



6. The Woman in White by Wilkie Collins. Entah kenapa, dari dulu penasaran dengan buku ini.


7. The Prince and The Pauper by Mark Twain. Setelah membaca The Adventure of Tom Sawyer dan The Adventure of Huckleberry Finn, tidak lengkap rasanya kalau tidak membaca karya Mark Twain yang satu ini.


8. Peter Pan by J.M. Barrie. Just because it’s Peter Pan.



9. The Hunchback of Notre Dame by Victor Hugo. Dulu pernah baca cuplikan ceritanya di majalah anak-anak, dan sekilas pernah menonton versi film kartunnya. Tidak afdhal rasanya kalau tidak baca novelnya juga.


10. Tree Grows in Brooklyn by Bettie Smith. Pernah baca beberapa kutipan novelnya. Sepertinya menarik dan sudah diterjemahkan juga ke Bahasa Indonesia.



11. And last, but not least, seluruh seri Harry Potter by J.K. Rowling. Menurutku ini juga masuk kategori klasik. Iya, kan?




Itulah daftar buku klasik yang ingin kubaca? Bagaimana dengan teman-teman? Apakah suka membaca buku klasik juga? Ada rekomendasi buku klasik lain yang menarik untuk dibaca?

Silakan share di komentar ya…. Terima kasih

Jumat, 21 Juli 2017

Personal Journal: 13 Buku Anak Paling Favorit



Assalamualaikum…

Iseng-iseng aku membuat semacam wrap-up resensi yang pernah kubuat. Kali ini temanya buku anak paling favorit. Sebenarnya banyak banget buku anak yang kusukai. Tetapi aku pilih 13 (tadinya mau 10 saja, tapi susah banget mengeliminasinya, hehehe) yang paling aku sukai.

Akhir-akhir ini aku jarang membaca buku anak. Seperti belum menemukan buku anak yang memikat hatiku. Padahal membaca buku anak itu sangat ampuh untuk menghilangkan (atau paling tidak mengurangi) stress, lho. 

Membaca buku anak juga membuat kita teringat untuk tidak terkungkung dengan cara berpikir orang dewasa. Kita jadi lebih terbuka, lebih antusias, lebih happy melalui hari-hari. Pokoknya baca buku anak tuh seru, deh.

Nah, ini 13 buku anak paling favorit yang pernah kubaca dan kuresensi.…
Ingat kartun Remi yang dulu pernah tayang di RCTI? Kalau ingat, berarti umurnya nggak jauh beda sama aku, hehehe… Nobody’s Boy atau Sebatang Kara adalah sebuah novel yang berkisah tentang perjalanan Remi, seorang anak laki-laki Prancis.
Sejujurnya, aku sudah lupa dengan kisah Remi yang di TV, tetapi kisah Remi di novel benar-benar menyentuh hati. Banyak bagian yang aku suka. Aku juga suka banget dengan karakter Remi yang tabah dan pantang menyerah. 
Kisah dari Astrid Lindgren ini sangat cocok dibaca saat musim liburan atau malah pas lagi dikejar deadline. Soalnya ceritanya lucu dan seru, sih. Pokoknya efek setelah baca buku ini itu bawaannya senang.
Aku suka kisah ini karena mengangkat kisah tiga bersaudara yang tabah menghadapi perubahan hidup dan menjalaninya dengan penuh keceriaan.
Mau membaca dongeng yang berbeda dengan dongeng-dongeng kebanyakan? Baca buku ini, deh! Buku ini berkisah tentang putri yang ceroboh, monster yang pandai membuat kue, naga yang takut terbang, dan penyihir yang punya belas kasihan.
Satu lagi buku anak yang menimbulkan perasaan bahagia setelah membacanya. Heidi ini gadis yang supel, baik hati, dan periang. Pokoknya kalau ada Heidi, segalanya akan baik-baik saja. 

6. The Girl Who Could Fly - Victoria Forrester
Piper McCloud tidak pernah menyangka memiliki kemampuan terbang. Ia pun dibawa ke sekolah khusus bagi anak-anak yang memiliki kemampuan ajaib. Ternyata, sekolah yang dimasukinya memiliki suatu masalah. Bersama teman-temannya, Piper berusaha memecahkan masalah terebut. Mungkin konfliknya cukup pasaran dan sederhana, tetapi tokoh-tokoh di dalam cerita ini menarik.
Siapa sih yang nggak kenal dengan Pippi Longstocking? Paling tidak, pasti pernah mendengar namanya yang mahsyur. Pippi ini  gadis yang unik dan keren banget. Kisah-kisahnya lucu dan sangat menghibur.

8. Wonderstruck - Brian Selznick
Karya Brian Selznick yang satu ini nggak kalah keren dengan The Invention of Hugo Cabret yang sudah difilmkan. Malah aku jauh lebih suka Wonderstruck karena ada 2 kisah di dalamnya. Kisah masa sekarang dan kisah masa lalu. Gambar-gambar yang indah, tema tak biasa yang diangkat, dan karakter yang lovable membuat aku makin suka buku ini. 

9. The Emerald Atlas – John Stephens
Ini cerita petualangan yang seru banget. Sebenarnya aku nggak menyangka bukunya bakal seseru itu, karena menemukannya di tumpukan buku obral. Eh, ternyata seru banget. Dan sudah ada sekuelnya juga. Aku berniat untuk membaca ulang buku ini sebelum melanjutkan buku kedua. Mari berharap supaya Gramedia tidak lupa untuk menerbitkan buku ketiganya. Amiin.
Aku suka banget dengan tokoh Calpurnia Tate atau biasa dipanggil Callie Vee. Dia contoh anak perempuan pemberani, suka belajar, suka membaca buku, dan memiliki rasa ingin tahu yang tinggi. Buku ini juga mendapat penghargaan Newberry pada tahun 2010, lho.
Premis awal buku ini sekilas mirip kisah Charlie di pabrik cokelat Willy Wonka. Tetapi cerita selanjutnya berbeda banget dan nggak kalah seru dengan petualangan Charlie dan keempat temannya. Yang paling aku suka dari buku ini adalah bagaimana penulis menulis cerita dari lima sudut pandang para tokoh dan menjalinnya menjadi suatu cerita yang tidak tertebak.

12. Si Bandel dan 13. O Mungil – Edith Unnerstad
Sebelumnya, aku tidak pernah mendengar nama Edith Unnerstad. Aku tidak tahu kalau beliau adalah salah satu penulis anak-anak. Dan cerita tentang Si Bandel dan O Mungil ini seruuu banget. Membaca kisah tentang kepolosan mereka bikin aku tertawa.

Omong-omong, beberapa buku yang kusebutkan adalah buku terbitan lama yang mungkin sudah agak sulit untuk ditemukan. Ada beberapa yang kubaca dari hasil meminjam di perpustakaan, meminjam punya teman, atau buku obralan, hehehe. 

Bagaimana denganmu? Apakah suka membaca buku anak juga? Buku apa yang paling favorit?


*picture taken from pinterest, edited by me