Jumat, 21 Juli 2017

13 Buku Anak Paling Favorit



Assalamualaikum…

Iseng-iseng aku membuat semacam wrap-up resensi yang pernah kubuat. Kali ini temanya buku anak paling favorit. Sebenarnya banyak banget buku anak yang kusukai. Tetapi aku pilih 13 (tadinya mau 10 saja, tapi susah banget mengeliminasinya, hehehe) yang paling aku sukai.

Akhir-akhir ini aku jarang membaca buku anak. Seperti belum menemukan buku anak yang memikat hatiku. Padahal membaca buku anak itu sangat ampuh untuk menghilangkan (atau paling tidak mengurangi) stress, lho. 

Membaca buku anak juga membuat kita teringat untuk tidak terkungkung dengan cara berpikir orang dewasa. Kita jadi lebih terbuka, lebih antusias, lebih happy melalui hari-hari. Pokoknya baca buku anak tuh seru, deh.

Nah, ini 13 buku anak paling favorit yang pernah kubaca dan kuresensi.…
Ingat kartun Remi yang dulu pernah tayang di RCTI? Kalau ingat, berarti umurnya nggak jauh beda sama aku, hehehe… Nobody’s Boy atau Sebatang Kara adalah sebuah novel yang berkisah tentang perjalanan Remi, seorang anak laki-laki Prancis.
Sejujurnya, aku sudah lupa dengan kisah Remi yang di TV, tetapi kisah Remi di novel benar-benar menyentuh hati. Banyak bagian yang aku suka. Aku juga suka banget dengan karakter Remi yang tabah dan pantang menyerah. 
Kisah dari Astrid Lindgren ini sangat cocok dibaca saat musim liburan atau malah pas lagi dikejar deadline. Soalnya ceritanya lucu dan seru, sih. Pokoknya efek setelah baca buku ini itu bawaannya senang.
Aku suka kisah ini karena mengangkat kisah tiga bersaudara yang tabah menghadapi perubahan hidup dan menjalaninya dengan penuh keceriaan.
Mau membaca dongeng yang berbeda dengan dongeng-dongeng kebanyakan? Baca buku ini, deh! Buku ini berkisah tentang putri yang ceroboh, monster yang pandai membuat kue, naga yang takut terbang, dan penyihir yang punya belas kasihan.
Satu lagi buku anak yang menimbulkan perasaan bahagia setelah membacanya. Heidi ini gadis yang supel, baik hati, dan periang. Pokoknya kalau ada Heidi, segalanya akan baik-baik saja. 

6. The Girl Who Could Fly - Victoria Forrester
Piper McCloud tidak pernah menyangka memiliki kemampuan terbang. Ia pun dibawa ke sekolah khusus bagi anak-anak yang memiliki kemampuan ajaib. Ternyata, sekolah yang dimasukinya memiliki suatu masalah. Bersama teman-temannya, Piper berusaha memecahkan masalah terebut. Mungkin konfliknya cukup pasaran dan sederhana, tetapi tokoh-tokoh di dalam cerita ini menarik.
Siapa sih yang nggak kenal dengan Pippi Longstocking? Paling tidak, pasti pernah mendengar namanya yang mahsyur. Pippi ini  gadis yang unik dan keren banget. Kisah-kisahnya lucu dan sangat menghibur.

8. Wonderstruck - Brian Selznick
Karya Brian Selznick yang satu ini nggak kalah keren dengan The Invention of Hugo Cabret yang sudah difilmkan. Malah aku jauh lebih suka Wonderstruck karena ada 2 kisah di dalamnya. Kisah masa sekarang dan kisah masa lalu. Gambar-gambar yang indah, tema tak biasa yang diangkat, dan karakter yang lovable membuat aku makin suka buku ini. 

9. The Emerald Atlas – John Stephens
Ini cerita petualangan yang seru banget. Sebenarnya aku nggak menyangka bukunya bakal seseru itu, karena menemukannya di tumpukan buku obral. Eh, ternyata seru banget. Dan sudah ada sekuelnya juga. Aku berniat untuk membaca ulang buku ini sebelum melanjutkan buku kedua. Mari berharap supaya Gramedia tidak lupa untuk menerbitkan buku ketiganya. Amiin.
Aku suka banget dengan tokoh Calpurnia Tate atau biasa dipanggil Callie Vee. Dia contoh anak perempuan pemberani, suka belajar, suka membaca buku, dan memiliki rasa ingin tahu yang tinggi. Buku ini juga mendapat penghargaan Newberry pada tahun 2010, lho.
Premis awal buku ini sekilas mirip kisah Charlie di pabrik cokelat Willy Wonka. Tetapi cerita selanjutnya berbeda banget dan nggak kalah seru dengan petualangan Charlie dan keempat temannya. Yang paling aku suka dari buku ini adalah bagaimana penulis menulis cerita dari lima sudut pandang para tokoh dan menjalinnya menjadi suatu cerita yang tidak tertebak.

12. Si Bandel dan 13. O Mungil – Edith Unnerstad
Sebelumnya, aku tidak pernah mendengar nama Edith Unnerstad. Aku tidak tahu kalau beliau adalah salah satu penulis anak-anak. Dan cerita tentang Si Bandel dan O Mungil ini seruuu banget. Membaca kisah tentang kepolosan mereka bikin aku tertawa.

Omong-omong, beberapa buku yang kusebutkan adalah buku terbitan lama yang mungkin sudah agak sulit untuk ditemukan. Ada beberapa yang kubaca dari hasil meminjam di perpustakaan, meminjam punya teman, atau buku obralan, hehehe. 

Bagaimana denganmu? Apakah suka membaca buku anak juga? Buku apa yang paling favorit?


*picture taken from pinterest, edited by me

Rabu, 19 Juli 2017

Wishful Wednesday – All About Paris

Ikutan Wishful Wednesday lagi, ah...


Kali ini aku sedang tertarik dengan buku-buku bertema Paris, setelah kemarin jalan-jalan ke Gramedia dan melihat beberapa buku tentang Paris yang menggiurkan.


Paris My Sweet – Amy Thomas


Blurb
Amy Thomas, si penggila makanan manis dan penggemar segala sesuatu yang berbau Prancis, mendapatkan pekerjaan impian, yaitu meninggalkan Manhattan untuk bekerja di Paris sebagai penulis iklan untuk Louis Vuitton. Dalam gemerlap Kota Cahaya, Amy bekerja di kantor di Champs-Élysées, menjelajahi jalan-jalan cantik Paris, serta menjajal pâtisserie dan boulangerie—toko kue, roti, dan cokelat terbaik—di kota itu.

Namun, apakah jatuh cinta pada satu kota berarti meninggalkan kota yang lain? Sebesar apa pun kekaguman Amy akan Paris, ada bagian dirinya yang tetap merasa bagaikan kue chocolate chip bersahaja di tengah-tengah lautan macaron yang sempurna. PARIS, MY SWEET menunjukkan bahwa pencarian akan kebahagiaan bisa berlalu sekejap bak souffl é karamel asin, bisa begitu memuaskan bagai kue cokelat leleh, dan kehidupan yang kita jalani terkadang tidak sesuai dengan yang kita harapkan.

Buku ini setengahnya berisi surat cinta kepada Paris, setengahnya kepada New York. Namun di atas segalanya, PARIS, MY SWEET adalah peta harta karun bagi siapa pun yang dahaga akan kehidupan.

Lihat beberapa review di Goodreads menyampaikan kalau buku ini banyak membahas tentang makan manis di Paris. Sedangkan dari segi alur cerita, banyak juga yang bilang kalau buku ini nggak terlalu exciting. Saya sendiri sepertinya masih terpikat karena janji-janji (kue) manis yang ada di blurbnya.

Paris Letters – Janice Macleod


Blurb
Dalam kondisi lelah lahir batin, Janice mengajukan pertanyaan itu kepada dirinya sendiri sembari mencoret-coret gambar di notesnya. Ternyata jawaban pertanyaan itu tidak seheboh yang semula diduganya. Dengan sedikit hitung-hitungan dan keteguhan hati yang besar, Janice mulai hidup berhemat dan menabung untuk membiayai dua tahun hidup penuh kebebasan di Eropa.

Beberapa hari setelah menginjakkan kaki di Paris, Janice bertemu dengan Christophe, tukang daging tampan yang bekerja di dekat tempat tinggalnya—pria pujaan yang tak bisa berbahasa Inggris. Dengan campuran bahasa isyarat dan Franglais, kisah asmara mereka pun bersemi. Tak lama, Janice menyadari bahwa dia tidak akan bisa kembali ke kerja kantoran. Maka dia menyemai harapannya pada tiga hal yang dia cintai—kata-kata, lukisan, dan Christophe—demi mewujudkan akhir kisah cinta yang bahagia di Paris.

Rata-rata reviewer di Goodreads memberi bintang 4 atau 5 untuk buku ini. Dan sempat liat sneak-peek bukunya juga di akun Instagram Gramedia Pustaka Utama. Ada beberapa ilustrasi di dalam bukunya yang bikin makin mupeng.

Kemolekan Landak – Muriel Barbery


Blurb
Renee adalah penjaga gedung apartemen mewah di Paris. Di mata para menghuni apartemen, ia jujur, dapat diandalkan, dan tampak kurang berpendidikan – citraan yang sengaja ia tampilkan layaknya seorang penjaga gedung yang ideal. Tapi diam-diam Renee punya rahasia. Di balik tampilan luarnya, ia sangat pintar, menyukai seni dan budaya.

Beberapa lantai di atas kamar Renee, tinggallah Paloma Josse yang berusia 12 tahun. Gadis kecil ini tengah berusaha menghindar dari masa depan birjuisnya yang telah tertebak dan sedang merencanakan bunuh diri daat ia berumur 13 tahun nanti.

Pada satu titik Renee dan Palima bertemu dan terjadilah hal-hal yang tak terduga.
Kemolekan Landak karya Muriel Barbery telah berhasil mempesona negeri Prancis dengan jutaan eksemplar terbitnya dan sekarang internasional bestseller ini hadir untuk pembaca Indonesia.

Oke, dari segi judul, rasanya judul buku ini terdengar tak biasa, ya? Saya nggak bisa membayangkan landak yang molek itu seperti apa. Tetapi kalau lihat blurb-nya, sepertinya tidak membahas tentang seekor landak pun.  Entahlah.

Reviewer di Goodreads memberi bintang yang sangat kontras. Banyak yang hanya memberi satu bintang, tidak sedikit pula yang memberi bintang 5. Buku-buku seperti ini buat saya termasuk menantang. Saya jadi penasaran, kira-kira saya masuk golongan yang mana, hehehe.

The Little Paris Bookshop – Nina George

 
Blurb
Monsieur Perdu menyebut dirinya apoteker literatur. Dari toko buku apungnya di Sungai Seine, ia meresepkan novel-novel untuk membantu meringankan beban hidup. Sepertinya, satu-satunya orang yang tak mampu ia sembuhkan hanya dirinya sendiri; ia masih dihantui patah hari setelah kekasih hatinya pergi, meninggalkan surat yang tak pernah dibukanya.

Akhirnya Perdu tergoda untuk membaca surat tersebut, lalu ia angkat sauh dan berangkat ke Prancis Selatan demi berdamai dengan kehilangannya. Bersama pengarang yang sedang mengalami kebuntuan menulis serta chef Italia yang sedang gundah dirundung cinta, Perdu berlayar sembari membagi bagikan kebijaksanaanya, membuktikan bahwa buku dapat memulihkan jiwa manusia.

Bagi para pecinta buku, novel yang bercerita tentang buku adalah sesuatu yang sangat menarik. Saya juga tertarik dengan buku ini karena katanya banyak membahas buku. Tetapi sempat juga menemukan resensi yang menyatakan beberapa kekurangan dari buku ini yang membuat saya maju mundur ingin memiliki buku ini. Tetapi setelah dipikir-pikir, bolehlah membaca buku ini. Apalagi katanya buku ini banyak menyebutkan buku-buku lain.

Nah, itulah buku yang aku inginkan minggu ini. Bagaimana dengan kalian?


EDIT

Baru aja hari ini aku lihat postingan si empunya Wishful Wednesday, Mbak Astrid, mengucapkan salam perpisahan untuk WW yang sudah dikelolanya selama lima tahun. Aku yang baru tahun ini ikutan WW jadi sedih, hiks... Semoga hiatus ini melahirkan  postingan baru yang lebih kece ya Mbak!

Meskipun Mbak Astrid akan hiatus dalam Wishful Wednesday, sepertinya aku yang terlanjur suka dengan postingan wishlist ini tetap akan memposting buku-buku keinginanku. Entah akan diberi nama apa, entah akan jadi postingan reguler atau bukan. Yang jelas, aku sudah suka banget dengan postingan macam ini. Siapa tahu kan, ada yang lihat terus tergerak hatinya membelikanku buku yang aku inginkan. (Ngareeeep....)
Amiin ya Allah.


Sabtu, 15 Juli 2017

Menulis Review Buku Nggak Asyik, Perlukah?




Assalamualaikum…

Kali ini saya ingin membahas tentang sesuatu yang sering saya alami, yaitu malas menulis resensi buku. Lebih tepatnya lagi, malas menulis resensi buku yang menurut saya nggak asyik dan mempostingnya di blog. Kenapa?

Alasan pertama, mungkin karena saya memang malas. (Alasan apa pula ini!) 

Kedua, menulis di blog terkesan harus serius, rapi, detail, pokoknya nggak bisa komentar serampangan lah. Ada susunan resensi yang mesti diikuti. Meskipun nggak wajib seperti itu, tapi karena sudah lama menulis di blog dengan terformat, rasanya aneh kalau bikin resensi asal-asalan.

Ketiga, merasa cukup dengan memberi bintang dan komentar seperlunya di Goodreads. Menulis di Goodreads juga terasa lebih fleksibel dan hemat waktu.

Keempat, ada beberapa buku yang nggak terlalu sesuai ekspektasi saya, yang bahkan menamatkannya pun dengan usaha keras, hingga setelah selesai, aduh rasanya berat banget untuk menulis resensinya. 

Oleh karena itu, akhir-akhir ini saya sering bertanya-tanya pula, sebenarnya perlu nggak sih saya menulis resensi buku yang nggak terlalu saya suka? 

Sejujurnya, saya pernah beberapa kali memaksakan diri menulis resensi buku yang nggak asyik bagi saya. Karena, yaah, sayang aja gitu kalau nggak diresensi. Lumayan kan buat nambah-nambah postingan di blog. Tetapi saya malah merasa tulisan saya datar, kaku, dan nggak seru. 

Saya jadi bertanya-tanya juga, apakah itu karena saya nggak suka bukunya, atau saya memang sedang tidak mood menulis resensi? Satu-satunya jawaban yang muncul dari kepala saya adalah, bisa jadi karena keduanya.

Saya pun blogwalking ke berbagai blogger buku, kembali memerhatikan cara setiap orang meresensi buku yang telah dibacanya. Mencoba mempelajari cara meresensi buku yang baik dan berusaha menemukan gaya saya sendiri.

Hmm… kalau diingat-ingat lagi, ketika mengawali dunia resensi meresensi ini, saya memang melakukannya untuk buku-buku yang saya suka, bahkan amat sangat suka. Buku-buku yang membuat saya hang over dan sulit move on setelah membacanya. Dan saya menulis resensinya dengan semangat membara, berharap orang-orang juga tertarik membaca buku tersebut.

Nah, bagaimana dengan buku-buku yang bagi saya nggak asyik ini? Saya juga masih bingung.


Sebenarnya bisa saja saya menyampaikan apa yang menurut saya kurang dari buku tersebut, lebih baik bukunya seperti apa, dan sebagainya. Intinya sih, kritik yang membangun. Eaaaaaa… Tapi, tetep aja saya malas. Maunya dilupakan saja. Tetapi, seperti ada semacam perasaan bersalah gitu, lho. Such as “Why I didn’t review that book?” feeling…

Pada akhirnya, saya memilih untuk tidak memaksakan diri. Jika buku yang saya baca ternyata nggak seru, saya nggak akan memaksa untuk menulis resensinya. Bahkan, jika rasa nggak seru itu sudah muncul di awal atau di pertengahan buku, ada kemungkinan saya tidak akan lanjut membaca buku tersebut.

Meskipun begitu, saya akan tetap memberi rating dan menulis komentar di Goodreads. Yah, walau sekadar kalimat, ‘nggak terlalu suka buku ini, nggak cocok untuk saya’, dan kalimat-kalimat semacam itu, hehehe. Mudah-mudahan sih nggak banyak buku yang bikin saya nulis kayak gitu, ya…

Lagi pula, meresensi buku seharusnya menjadi suatu hal yang menyenangkan. Untuk menyampaikan kesan kita terhadap suatu buku, untuk mendiskusikan buku yang telah kita baca, untuk menjadi arsip ingatan tentang buku-buku yang pernah kita baca, dan untuk mengompori orang-orang agar membaca buku yang kita suka, hehehe.

Bagaimana dengan kamu? Apakah kamu tetap meresensi buku-buku yang nggak terlalu kamu sukai? Kenapa?

Jumat, 07 Juli 2017

Personal Journal: Timbunan dan Wishlist untuk Paruh Kedua 2017

Assalamualaikum semua…. Mohon maaf lahir dan batin, ya… Bagaimana libur Lebarannya? Menyenangkankah? Kalau saya, walaupun libur Lebaran ini tidak mudik, tetapi Alhamdulillah, cukup untuk refreshing dari rutinitas kerja.

Tidak terasa ya, enam bulan sudah berlalu di tahun 2017. Di awal Juli ini (anggap aja masih awal Juli, oke? hehehe), saya mau melihat kembali target bacaan yang sudah tercapai. Kalau berdasarkan catatan di Goodreads, saya sudah membaca 36 buku dari target 50 buku. Insya Allah, saya yakin tahun ini target tersebut tercapai. Bahkan kalau bisa lebih dari target. 


Memang sih, tidak semua buku yang saya baca, saya tulis resensinya. Beberapa buku tipis dan buku-buku yang tidak menarik bagi saya, tidak saya tulis resensinya. Selain mengevaluasi target membaca, saya juga mengevaluasi target memiliki buku.

Omong-omong, sejak tahun ini saya lebih ketat dalam membeli buku. Tidak seperti dulu, setiap ada diskon atau obralan buku, saya kalap dan membeli banyak buku. Sekarang, saya lebih selektif dalam membeli buku, meskipun saat itu sedang obralan. 


Saya hanya membeli buku-buku yang ada di dalam wishlist utama saya. Ada juga wishlist cadangan, yaitu buku-buku yang saya inginkan dan boleh dibeli jika buku itu sedang diskon. Jadi, kalau ada obralan buku, tapi buku-buku yang dijual tidak sesuai dengan wishlist saya, tidak saya beli. Ya, meskipun dengan susah payah, sih, hehehe. 

Alhamdulillah, sejak menerapkan sistem tersebut, keinginan saya membeli buku menjadi lebih terkendali. Dan itu sangat berpengaruh pada timbunan yang kini tidak terlalu tinggi lagi, hehehe. Dari 10 buku yang berada di wishlist utama, saya sudah memiliki 8 buku. Tinggal dua buku lagi, yaitu Muhammad; Generasi Pewaris Hujan karya Tasaro GK dan Anne of Green Gables karya Lucy M. Montgomery.

Saya juga masih punya sisa timbunan dari tahun lalu dan tahun sebelumnya. Saya berniat membabat sebagian besar timbunan dari tahun-tahun lalu sebelum kehilangan mood untuk membacanya. Iya, tahun-tahun lalu, saya masih sangat menggandrungi novel, sedangkan akhir-akhir ini saya lebih tertarik pada buku-buku nonfiksi. Meskipun bukan berarti saya tidak lagi membaca novel, hanya dikurangi saja.

Ada beberapa buku yang saya ingin baca ulang sebelum membaca buku lanjutannya. Seperti seri Books of Beginning karya John Stephens. Seri keduanya, The Fire Chronicle ada di dalam daftar timbunan. Buku pertamanya, TheEmerald Atlas, buat saya seru banget. Saya berniat membaca ulang buku tersebut sebelum memulai The Fire Chronicle.

Saya juga berencana untuk melengkapi Tetralogi Muhammad saw karya Tasaro GK dan membaca ulang dua buku pertamanya setelah semua serinya lengkap. Liburan kemarin saya baru membeli buku ketiganya. Tinggal buku keempat yang belum saya miliki. Semoga ada rezekinya, ya.


Beberapa buku yang menjadi target baca saya enam bulan ke depan adalah:

  1. Lukisan Dorian Gray
  2. Five People You Meet in Heaven
  3. The Leap
  4. Pesantren Impian
  5. Cinderella in Paris
  6. Spells
  7. Illusions
  8. Peter Rabbit vol. 1
  9. Peter Rabbit vol. 2
  10. Recclaim Your Heart
  11. Ruby Red
  12. Sapphire Blue
Oiya, selain target membaca buku, saya juga memiliki beberapa rencana untuk blog ini. Mulai bulan ini, Insya Allah, Perpustakaan Ratih Cahaya tidak hanya diisi dengan resensi buku melainkan postingan lain yang tentu saja masih berhubungan dengan buku. Apakah itu? Tunggu saja minggu depan, ya. Saya merencanakan untuk memposting tulisan non-resensi setiap hari Sabtu, sedangkan untuk postingan resensi setiap hari Selasa atau Rabu.

Saya juga berniat mengadakan giveaway pribadi di bulan ulang tahun saya sekaligus ulang tahun blog ini juga. Kapan itu? Sekali lagi, tunggu saja, ya. Insya Allah tidak lama lagi, kok. Semoga target-target tersebut bisa terlaksana, ya. 

Kalau kamu bagaimana? Apa rencanamu di paruh kedua tahun 2017 ini? Buku-buku apa saja yang ingin kamu baca atau kamu miliki? Share di komentar, yuk…