Rabu, 09 Mei 2012

Inspired by Tasaro

Mungkin memang benar, ketika kita telah menemukan sosok yang kita kagumi dan menginspirasi, kita menjadi lebih bersemangat untuk mencapai mimpi-mimpi kita.

Semua ini berawal dari tugas kuliah, yaitu meresensi buku. Sejak pertama kali diberi tahu tugas itu, saya sudah berpikir, buku apa yang akan saya resensi. Sebabnya adalah, semester ini saya miskin sekali membaca buku. Bahkan buku yang sudah saya beli pun, belum dibaca pula. Waktu berlalu, dan tugas itupun seolah terlupa, karena memang jangka waktunya yang cukup lama, yaitu 2 minggu. Parahnya, ketika lewat deadline, barulah saya ingat akan tugas itu, dan seperti yang sudah-sudah, mengerjakan ala kadarnya.

Malam-malam, saya lihat-lihat rak buku, mencari buku yang hendak di resensi. Dan saya pun mengambil buku Galaksi Kinanthi karya Tasaro. Buku romantis favorit saya sepanjang masa. Tapi, meskipun meresensi buku favorit, pikiran tetap saja menjalar ke mana-mana. Setengah lari ke presentasi software 3D Issue, setengahnya lagi ke UAS Statistika Sosial. Alhasil, resensi pun benar-benar ala kadarnya. Dan besoknya, dosennya ‘marah-marah’. Hanya setengah kelas yang mengirim, dan itu pun asal jadi. Kami pun disuruh merevisi kembali, setelah dijelaskan panjang lebar apa itu resensi buku yang benar menurut ilmu jurnalistik.

Salah satu cara meresensi buku yang baik adalah dengan mengenal penulis bukunya. Setidaknya kita tahu latar belakang umum penulisnya itu apa. Saat itu juga, saya langsung searching Tasaro, dan ternyata, inilah jalan yang mengembalikan semangat saya.

Seperti yang pernah saya post sebelumnya, saya sempat merasa ‘membenci’ menulis, malas menulis, dan galau mau jadi wartawan atau tidak, bahkan ‘mengutuk’ diri sendiri yang tersesat di dunia jurnalistik ini. Namun mengenal penulis favorit saya lebih jauh, ternyata memberi inspirasi dan semangat tersendiri.

Saya lupa, kapan pertama kali saya membaca karya Tasaro, dan apa judulnya. Tapi, kemungkinan besar sih Pitaloka. Waktu saya membaca Pitaloka, tidak ada kesan yang terlalu khusus. Yang jelas, saya suka ceritanya. Pitaloka itu novel bertema sejarah, tapi membacanya kadang seperti nonton film laga, yang diselipi romantisme yang nggak norak. Satu hal yang membuat saya kagum adalah, pasti penulisnya benar-benar mempelajari literature dan sejarah Indonesia zaman kerajaan dulu.

Kemudian Tasaro diundang ke sekolah saya untuk menjadi pembicara di seminar jurnalistik, dan saya akui, saya antusias sekali waktu itu. Itu tahun 2008, dan saya sangat senang bisa bertemu langsung dengannya. Ditambah, bisa dapat tanda tangannya. Yah, untuk ukuran anak kelas 1 SMA, hal itu sudah pasti membanggakan bukan? Hehehe

Ini masih saya simpan tanda tangan beliau …

Lalu tahun 2009, terbit Galaksi Kinanthi. Melihat beberapa teman saya sudah menenteng-nenteng buku itu, dan saya sempat lihat-lihat juga, saya pun bertekad untuk segera memilikinya. Dan selesai membacanya, memberikan satu pengaruh besar buat saya. Pengaruh besar dari sebuah kalimat sederhana, “Tersenyumlah, Allah mencintaimu lebih dari yang kau perlu.”

Bagi saya, Tasaro sangat brilian karena telah merangkai kata-kata itu dan menjadikannya kalimat dengan makna yang begitu dalam. Sampai kini, dan mungkin selamanya, setiap saya merasa lemah, putus asa, atau sendirian, terngiang selalu kalimat itu, dan kalimat itulah akhirnya yang memompa saya untuk bangkit lagi.

Dan ternyata, hasil searching itu membawa saya pada beberapa hal yang baru saya ketahui. Saya membaca beberapa blog orang yang mengomentari karya Tasaro, website majalah yang berisi petikan wawancara dengan Tasaro, dan multiply Tasaro sendiri, yang ditulis beberapa tahun lalu. Di situ saya menemukan tentang proses beliau menulis novel Muhammad dan tujuannya. Cerita tentang tulisan-tulisannya yang ditolak dulu. juga komentar-komentar orang tentang tulisannya, terutama novel biografi Muhammad.

Dari situ saya mengambil pelajaran, bahwa setiap orang memiliki fase ‘bawah’. Dan untuk mencapai ke ‘atas’ akan selalu bergantung pada orang yang menjalaninya. Mau bermuram durja di ‘bawah’, mengutuki nasib, atau tetap bergerak untuk mencapai ‘atas’.

Lalu saya melihat diri saya sendiri, yang begitu mudah putus asa dan langsung membenci menulis saat lomba-lomba yang saya ikuti tak terdengar kabarnya. Saat tulisan-tulisan yang saya kirim ke majalah tak tahu rimbanya. Menyerah lalu merasa memang tidak berbakat menulis. Dan ketika saya menemukan berbagai tulisan tentang Tasaro, saya seperti tersadar kembali kalau saya memang harus menulis. Dunia membaca dan menulis adalah dunia saya. Dunia yang begitu saya cintai, dan membuat saya merasa hidup. Sungguh tidak sepatutnya saya merasa putus asa dengan menulis.

Saya seolah mendapatkan kembali jiwa dan tangan menulis saya. Bahkan tidak hanya sekedar menulis, tapi menulis dengan tujuan. Tujuan yang baik tentu saja. dan itu semua Allah berikan melalui tugas resensi buku dan searching Tasaro.

Oya, saya masih ingat, saya bertemu lagi dengan Tasaro ketika semester tiga. Saat itu ada seminar sastra dari fakultas sebelah, dan saya yang kuliah, bela-belain bolos hanya karena ingin melihat Tasaro dan Taufiq Ismail yang menjadi pembicara. Sayangnya, untuk bagian Tasaro, saya hanya dapat waktu sedikit karena harus kuliah dulu. Namun, ada kalimat terakhir beliau yang terngiang-ngiang di otak saya, setiap kali saya hendak menulis.

“Setiap saya menulis, saya selalu menunjukkan ke-Islam-an dan ke-Indonesia-an saya.”

Bagi saya, itu prinsip yang hebat. Prinsip yang menunjukkan identitas kita dan kita bangga dengan hal itu.

Satu lagi, Tasaro itu dulunya wartawan. Beliau pernah jadi wartawan selama lima tahun, meskipun sekarang telah menjadi editor di sebuah penerbitan. Saya jadi ingat kata dosen atau pembicara di sebuah workshop menulis (saya lupa, hehe). Beliau mengatakan, biasanya penulis yang bagus itu dulunya wartawan. Karena wartawan terbiasa menulis sesuatu yang mungkin rumit, tapi ia bahasakan dengan sederhana, lugas, dan mudah dipahami.

Omong-omong tentang wartawan, sebenarnya itu masalah yang sensitive buat saya. Karena saya masih galau, mau jadi wartawan atau tidak. hehehehe….
Baiklah, semoga curhatan panjang lebar yang nggak jelas ini bisa bermanfaat buat siapa saja yang membacanya. :D

Jumat, 27 April 2012

all the journalism's stuffs

-Wartawan itu cahaya, salah satu penerang dalam kehidupan-

 Kalimat itu saya dapatkan dari kuliah, dari seorang dosen yang mengajar mata kuliah jurnalistik.

Setelah lebih dari satu setengah tahun kuliah, (mendekati dua tahun) baru semester empat ini, benar-benar terasa seperti apa rasanya menjadi jurnalis. Baru kerasa bedanya kami (anak-anak jurnalisme) dengan mahasiswa lain. Di saat mahasiswa lain sibuk duduk belajar bersama, nyari bahan di fotokopian, dan ngafalin teori-teori, kami malah kelayapan ke mana-mana, nyari berita, nunggu narasumber, bikin video, dan sebagainya. 

Sepanjang hari, setiap kuliah pun, rasanya dosen tak henti-hentinya menggambarkan beratnya menjadi jurnalis. 
Jurnalis itu harus berpengetahuan umum luas, pengetahuannya harus jauh di atas rata-rata orang kebanyakan. 
Jurnalis itu harus mengerti segala bidang kehidupan. dia harus mengerti ekonomi, hukum, politik, geografi, yah, pokoknya segala bidang kehidupan manusia. Walaupun tidak dituntut untuk paham secara mendalam.
Jurnalis itu nggak boleh salah kalau nulis berita, harus tepat nama, jabatan, tempat, istilah, dan segalanya yang dia pakai dalam penulisan/pembacaan berita.
 Jurnalis itu harus bisa bikin hal yang tadinya rumit, disampaikan dengan cara yang mudah dicerna tanpa mengubah substansinya.
Jurnalis itu harus peduli, peka terhadap lingkungan, punya rasa penasaran yang tinggi.
Jurnalis itu harus sehat, nggak boleh sakit, atau cacat tubuh.
Jurnalis itu harus rela berpeluh di bawah terik sinar matahari, kehujanan, bahkan liputan di daerah bencana.
Jurnalis itu nobody, bukan siapa-siapa. Dia bekerja untuk rakyat, tanpa diketahui atau dikenal oleh rakyat itu sendiri.
Dan yang paling penting adalah, jurnalis itu bukan profesi, tapi dia panggilan hidup.
Jangan pernah berharap jadi orang kaya dengan jadi jurnalis.
Jangan pernah berpikir kalau jurnalis itu kerjaannya enak, duduk nyaman di kursi yang empuk, di dalam ruangan ber AC.

 Selalu, setiap hari, saya (dan teman2 jurnal lainnya) di doktrin seperti itu. Sampai rasanya, saya jadi ragu apakah tetap ingin jadi jurnalis. Bukan hanya pada sisi jurnalis itu harus berpeluh, tapi sisi tanggungjawabnya. Jurnalis itu kan menyampaikan informasi kepada khalayak. yang nantinya pasti akan membentuk jalan pikiran mereka. Kalau ada kesalahan sedikit, bisa runyam akibatnya. Itulah yang dibilang kalau jurnalis itu tanggung jawabnya berat. Jurnalis itu nggak boleh salah dalam menyampaikan beritanya.

Saya sempat bertanya-tanya, apa benar saya yakin ingin menjadi jurnalis. Padahal saya orangnya cuek, suka nggak peka sama keadaan sekitar, dan sama sekali bukan tipe orang yang cepet penasaran. Dari hal itu aja, saya udah nggak memenuhi syarat buat jadi jurnalis. Belum lagi pengetahuan umum yang luas. Just FYI, seminggu sekali, kami ada kuis pengetahuan umum. Pertanyaan-pertanyaannya adalah semua hal yang diberitakan di media massa. Ini adalah salah satu cara agar kita update informasi terbaru secara sempurna. Dan saya nggak pernah bisa jawab seluruh pertanyaan itu. Paling hanya satu atau dua, itu pun nggak rinci. Beli koran pun, nggak sempat semua berita dibaca.

Dan entahlah, meskipun begitu banyak mata kuliah menulis di semester ini, tapi saya nggak menikmatinya. Tidak seperti saat saya dulu menulis cerpen, novel, atau puisi. Sampai saat ini, saya masih tidak menulis hal-hal yang saya sukai itu.

Saya pernah ikut sebuah forum, yang di situ saya mendapatkan sebuah kalimat, "Passion is not something you good at, but something you enjoy the most." Sayangnya, saya nggak menemukan kenyamanan, atau kesenangan saat saya bersibuk-sibuk ria mencari dan menulis berita. Seolah seperti terpaksa saja melakukannya. Hanya karena sudah bersusah payah biar bisa kuliah di UI, dan saya nggak ingin menyia-nyiakan mimpi saya. Tapi, ya seperti itu.

Awalnya saya memang kepikiran terus. Seperti bertaya-tanya, jangan-jangan saya nggak kenal sama diri saya sendiri. Jurnalistik yang dulu saya pikir ternyata passion saya, kayaknya kok sekarang enggak. Tapi karena sudah berjalan begitu lama, ya sudahlah. Lanjutkan saja.

Dulu, saya punya mimpi yang terarah tentang masa depan saya. Setelah kuliah di UI, lanjut S2 di luar negeri, kalau bisa di Inggris. Lalu jadi wartawan yang keliling dunia. Atau wartawan di daerah konflik. Tapi sekarang, bahkan saya nggak tahu apa yang mau saya lakukan setelah lulus nanti. Setelah saya tahu, nggak perlu S2 untuk jadi wartawan. dan rasanya, lebih baik jadi wartawan ketika masih muda, ketika badan emang masih sanggup untuk berlelah-lelah.

Namun, sekali lagi, apakah benar, saya memang benar-benar ingin menjadi jurnalis???
Entahlah, sampai tulisan ini saya posting, saya tidak tahu harus menjawab apa…