Senin, 04 Desember 2017

7 Novel yang Cocok Dibaca di Musim Hujan



1. Angel in the Rain – Windry Ramadhina


Dari judulnya saja, sudah memakai kata hujan. Angel in the Rain cocok untuk pecinta cerita cinta yang manis dan romantis, tetapi dengan kadar gula yang tidak berlebihan sehingga tidak menimbulkan diabetes, hehehe. Angel in the Rain adalah kisah yang dimulai di musim hujan, berakhir di musim hujan, dengan keajaiban payung merah dan kehadiran malaikat yang turun saat hujan. 

2. Heartwarming Chocolate – Prisca Primasari


Cerita ini memang tidak berlatar di musim hujan. Tetapi ada minuman cokelat lezat di dalamnya. Dan minuman cokelat paling enak diminum saat musim hujan. Jadi, bagi saya ini cerita yang cocok dibaca di musim hujan. Masih cerita cinta juga, kalau yang ini, manis dan malu-malu dengan sedikit teka-teki yang bikin penasaran. Novelnya tidak terlalu tebal. Mungkin akan tamat dibaca sampai hujan reda. Kecuali kalau hujan turun semalaman, hehehe.

3. Chocolat – Joanne Harris


Cokelat lagi? Iya, bagaimana dong, saya suka cokelat, sih, hehehe. Kali ini ceritanya tentang wanita pengembara yang pandai membuat cokelat. Cokelat buatannya sangat enak dan dia bisa memilihkan cokelat yang cocok untuk kepribadianmu atau masalahmu saat itu. Membaca novel ini sungguh dapat membuatmu mengidam cokelat. Jadi, saya sarankan sebelum membaca novel ini, siapkanlah setidaknya sebatang cokelat atau segelas minuman cokelat sebagai teman. Oke?

4. Gadis Korek Api – Hans Christian Andersen


Musim hujan adalah waktu yang tepat untuk melamun atau berkelana di dunia peri. Atau setidaknya begitulah menurut saya. Jadi, salah satu buku yang cocok untuk dibaca saat musim hujan adalah kumpulan dongeng H.C. Andersen. Nomor ini merupakan pengecualian dari nomor-nomor lainnya, ya, karena bukan novel.

5. Night Circus - Erin Morgenstern

 
Masih dari dunia khayalan, Night Circus adalah novel yang sooo dreamy. Cerita tentang sirkus dan segala keajaibannya yang menakjubkan dan memukau. Ditambah dengan gaya bahasa indah yang dipakai penulisnya, sangat membantumu membayangkan hal-hal yang ditulisnya.

6. Dash and Lily’s Book of Dares – David Levithan & Rachel Cohn


Kembali lagi ke novel romantis, kali ini dengan kategori Young Adult alias pembaca muda. Yang membuat novel ini sangat cocok dibaca di musim hujan adalah karena latarnya bulan Desember, dan di Indonesia, bulan Desember adalah musim hujan. Jadi, yah, mereka cocok. Cerita tentang dua remaja yang dipertemukan oleh sebuah notebook merah berisi pertanyaan dan tantangan. Apakah yang selanjutnya pada dua remaja dan notebook merah itu? Lebih baik baca sendiri….

7. Heidi – Johanna Spyri


Kisah klasik tentang gadis cilik bernama Heidi dan kehidupannya di Pegunungan Alpen ini dapat menghangatkan hati-hati yang dingin di musim hujan. Jika kamu ingin membaca buku yang menyenangkan sekaligus menghangatkan hati, tanpa bumbu patah hati atau cinta bertepuk sebelah tangan, novel Heidi sangat cocok untukmu.

Itulah 7 novel yang menurut saya cocok dibaca di musim hujan. Bagaimana denganmu? Novel atau buku-buku apa yang menurutmu cocok dibaca musim hujan? Haruskah kisah sendu atau romantis, atau malah kisah thriller dan misteri? Share, yuk di komentar….

Kamis, 23 November 2017

Call from an Angel - Blogtour & Giveaway



Penulis: Guillaume Musso
Penerjemah: Yudith Listiandri
Penyunting: Selsa Chintya
Penerbit: Spring
Tahun Terbit: Cetakan Pertama, Oktober 2017
ISBN: 978-602-6682-08-6

  
Semua itu terjadi di bandara John F. Kennedy, New York. Madeline baru saja menghabiskan liburan bersama pacarnya, Raphael, dan hendak pulang kembali ke Paris. Sementara itu, Jonathan menjemput anaknya, Charly, untuk menghabiskan liburan Natal bersamanya di San Fransisco.

Restoran di bandara itu penuh sesak. Madeline dan Jonathan sama-sama memburu satu-satunya meja kosong yang masih tersisa. Mereka bertubrukan dan saling memarahi seperti yang bisa dipastikan akan terjadi. Malas berdebat dengan Madeline, Jonathan pun memilih pergi bersama Charly, tanpa menyadari bahwa ia salah mengambil ponsel.

Ketika Madeline telah tiba di Paris dan Jonathan di San Fransisco, mereka baru sadar kalau ponsel mereka tertukar. Kesamaan jenis dan bentuk ponsel membuat mereka tidak menyadari bahwa ponsel yang mereka bawa bukanlah ponsel milik masing-masing.

Jonathan dan Madeline pun bersepakat untuk saling mengirim ponsel ke alamat masing-masing. Namun, sebelum itu, mereka tak bisa menahan godaan untuk tidak membongkar isi ponsel tersebut. Melihat foto-foto, agenda, percakapan, email, pesan suara, dan segala sesuatu yang biasa disimpan orang di ponsel mereka. Masing-masing ponsel itu menyimpan rahasia yang ditutup rapat oleh pemiliknya. Rahasia yang membawa mereka berdua ke dalam penyelidikan penuh kejutan dan bahaya. 

Berhasilkah Madeline dan Jonathan mengungkap rahasia tersebut? Apakah ponsel mereka akan kembali ke tangan masing-masing?

My Review

Ketika melihat sampulnya dan membaca sinopsis di bagian belakang bukunya, yang pertama ada di pikiran saya adalah sebuah kisah romansa yang berawal dari tertukarnya ponsel. Begitu juga saat membaca bab pertama novel ini, saya semakin yakin bahwa novel ini adalah novel romantis penuh cinta. Mungkin kedua tokoh utama kita akan melalui jalan yang rumit dulu sampai akhirnya mereka berdua bertemu lagi dan saling jatuh cinta. Begitulah dugaan saya.

Ternyata saya salah besar. Novel Call from an Angel tidak seromantis kelihatannya. Semakin dibaca, pembaca semakin dibawa ke dalam rahasia misterius yang menegangkan. 

Pada bagian permulaan, Musso menceritakan secara umum keseharian dua tokoh utama kita, Madeline dan Jonathan. Madeline, perempuan Inggris yang tinggal di Paris dan sehari-hari bekerja sebagai floris. Ia memiliki pacar bernama Raphael yang sangat ia sayangi dan menyayanginya. 

Jonathan, seorang duda beranak satu, mantan chef terkenal di Amerika. Tadinya ia memiliki bisnis kuliner yang sangat maju dan berkelas, tetapi semua itu berakhir karena pengkhianatan istrinya, Francesca. Setelah bercerai dengan Francesca, Jonathan meninggalkan hiruk pikuk dunia gastronomi yang telah melambungkan namanya, lalu membuka restoran kecil sederhana bernama French Touch.

Peristiwa tertukarnya ponsel mereka di bandara, membuat Jonathan dan Madeline mengulik kehidupan pribadi masing-masing. Mereka membongkar rahasia yang dikubur rapat-rapat oleh pemilik ponsel dan tanpa disangka, rahasia itu malah membawa mereka pada sebuah takdir yang lain.

Secara keseluruhan, jalan cerita novel ini benar-benar tidak disangka-sangka. Seharusnya saya sudah bisa menebak gaya Musso, mengingat saya telah membaca Girl on Paper yang juga memiliki plot twist tak terduga. Namun, Call from an Angel bukan hanya memiliki plot twist tak terduga, melainkan Musso seolah-olah sengaja membiarkan pembaca mengira ini novel romansa biasa, lalu diam-diam, pelan-pelan, membawa pembaca pada konflik yang benar-benar mengejutkan.

Musso berhasil membuat saya penasaran dengan siapa Madeline dan Jonathan sebenarnya. Takdir apa yang membuat mereka terhubung satu sama lain dan apa yang akan terjadi pada mereka akhirnya.

Dalam novel ini, Musso menekankan tema masa lalu yang akan selalu menghantui kita selama kita tak benar-benar melepaskannya. Masa lalu itu akan terus menghantui kita, mengikuti ke mana kita pergi, mengendalikan kita dalam membuat keputusan yang mungkin saja merusak masa sekarang bahkan masa depan kita. 

Dengan latar waktu bulan Desember, gambaran Paris dan New York di musim salju, berbagai macam bunga di toko bunga Madeline, beraneka macam makanan enak karya Jonathan, dan kasus misterius yang menegangkan, Call from an Angel sangat cocok menjadi teman liburan akhir tahunmu.

Giveaway!

Kamu bisa mendapatkan novel Call from an Angel yang keren dan seru ini secara cuma-cuma dari Penerbit Spring dengan syarat yang mudah sekali. Silakan mampir ke blog-blog peserta blogtour yang ada di banner dan follow IG Penerbit Spring


Penerbit Spring akan mengadakan lomba photoqutoe dari kutipan-kutipan yang tertera di resensi setiap blogger. Karena blog ini adalah blog terakhir dalam rangkaian blogtour, lebih baik kamu segera kunjungi IG Penerbit Spring supaya tahu detil perlombaannya.

Selamat mengikuti giveaway. Semoga beruntung! 

Kutipan-Kutipan


 Mengapa sejak usia muda, manusia selalu mengabaikan saran para ahli?” p. 83

… Cinta itu seperti candu. Awalnya, kau pikir bisa mengendalikannya, tapi kemudian, suatu hari kau sadar bahwa candu itulah yang mengendalikanmu.” p. 114

 Aku selalu menghadapi hidup dengan berani, selalu berdiri tegak dengan hal yang kupercayai. Aku selalu berjuang dalam setiap pertarungan, menulis takdirku sendiri dan menciptakan kesempatanku sendiri, tapi hari ini berbeda. Aku harus menghadapi musuh yang tangguh: diriku sendiri. Musuh utama. yang paling berbahaya.” p. 227

Kalau kau benar-benar merasa ingin lebih baik, kau harus menyingkirkan hantu masa lalu yang terus membebanimu.
Hantu seharusnya tidak terlalu berat, kan?
Tidak, tapi rantai yang mereka seret di belakang mereka sangat berat.” p. 198

Kadang-kadang cinta itu menghancurkan, tapi kadang juga mengkristal dalam karya seni yang menakjubkan.” p. 215

Jumat, 17 November 2017

Resensi Buku: Angel in The Rain



Penulis: Windry Ramadhina
Penyunting: Yulliya dan Widyawati Oktavia
Penerbit: Gagas Media
Tahun Terbit: 2016
Halaman: 460
ISBN: 978-979-780-870-9


Gilang dan Ayu. Seorang pemuda lucu dan seorang gadis gila buku. Seorang editor sastra dan seorang penulis novel romansa. Mereka pertama kali bertemu di sebuah toko buku tua di London. Masing-masing memiliki alasan sendiri mengunjungi kota tersebut. 

Gilang pergi ke London untuk mengungkapkan cinta pada sahabat masa kecilnya, Ning. Sementara Ayu ke London demi menjauh dari persiapan pernikahan kakaknya, Luh, dan orang yang pernah mengisi hatinya, Em.

Pertemuan di toko buku itu adalah pertemuan pertama mereka dan tanpa mereka duga, akan ada pertemuan-pertemuan selanjutnya. Pertemuan-pertemuan yang membuat Gilang berpikir, masihkah ia mencintai Ning sebesar dulu, sementara ia tahu Ning tidak memiliki perasaan yang sama dengannya. Pertemuan-pertemuan yang membuat Ayu bertanya-tanya, haruskah ia percaya pada keajaiban cinta setelah ia memutuskan untuk tidak memercayainya.

My Review

Angel in The Rain adalah sekuel tidak resmi dari novel Windry sebelumnya, London: Angel. Bagi yang telah membaca London dan Walking After You, tentu penasaran dengan kelanjutan kisah Gilang dan Ayu yang dibiarkan menggantung. Di novel Angel in The Rain inilah kita akan mengetahui kisah mereka selengkapnya.

Jika di London: Angel, tokoh utama kita adalah Gilang dan Ning, maka di Angel in The Rain, kita akan lebih mengenal sosok Ayu yang dimunculkan secara singkat di novel London. Latar belakang Ayu, kesehariannya, dan alasannya tidak lagi memercayai cinta.

Jujur saja, saya agak heran dengan alasan Ayu yang begitu takut memulai sebuah hubungan. Ya, mungkin dia memang patah hati, apa lagi cowok yang disukainya menikah dengan kakaknya sendiri. Tetapi dia seharusnya tahu, sebelum ia menjalin hubungan dengan Em, Em telah berpacaran dengan Luh, kakaknya. Saya merasa hal itu kurang kuat untuk menjadi alasan Ayu membenci Luh dan tidak percaya lagi pada hubungan percintaan.

Saya juga kurang suka dengan Ayu yang tampak tidak acuh dengan persiapan pernikahan kakaknya. Bahkan seolah bersikap seenaknya di depan orang tuanya. Duh, kalau saya berlagak seperti Ayu, bisa-bisa tidak dianggap anak lagi oleh orang tua saya. Intinya, sih, ada beberapa sifat Ayu yang saya kurang suka. 

Sekarang Gilang. Saya mengenal tokoh Gilang sejak membaca London: Angel. Meski sudah agak lama membacanya, saya masih ingat sedikit-sedikit dengan karakter Gilang. Dan saya merasa heran juga mengapa penulis memilih ‘pemuda lucu’ sebagai deskripsi untuk Gilang. Saya tidak merasa Gilang sebagai ‘pemuda lucu’ baik lucu dalam arti lucu melawak, lucu imut, lucu lugu, lucu apa pun, deh. Atau mungkin saya yang tidak bisa menangkap makna lucu yang dimaksud penulis? Entahlah, kalau saya melihat Gilang seperti pemuda kantoran kebanyakan. Bedanya, dia bekerja sebagai editor sastra dan suka membaca dan menulis, meski novelnya tak kunjung usai. 

Terlepas dari kekurangsukaan saya atas beberapa sifat Ayu dan kebingungan saya dengan makna pemuda lucu untuk Gilang, saya sangat menyukai Angel in The Rain. Terutama pada cara Windry menyajikan kisah ini dengan sudut pandang malaikat. Si malaikat ini menyapa pembacanya dengan panggilan ‘Sayang’. Menurut saya, Windry berhasil membuat sosok si malaikat begitu hidup dan berada di samping Gilang dan Ayu untuk menceritakan kisah mereka kepada pembaca.

Di novel ini, Windry banyak menyebut karya-karya sastra klasik. Sebut saja Wuthering Heights (cetakan pertamanya sangat dicari Ayu), Burmese Days (cetakan pertamanya dicari Gilang, tetapi kemudia dia menyerah untuk mencarinya), Lolita, Breakfast at Tiffany’s, Great Gatsby, dan lain-lain. Tidak lupa pula, penulis menyisipkan sindiran-sindiran halus terkait dunia penerbitan buku. Bagi yang dekat atau familiar dengan tren buku di Indonesia berikut dunia penerbitannya, sindiran-sindiran halus ini menggelitik sekali.

Saya melihat salah satu review di Goodreads menyatakan kalau Angel in The Rain banyak mengulang adegan di novel London: Angel. Saya mengiyakan hal itu, tetapi saya juga memahami mengapa Windry melakukannya. Angel in The Rain bukanlah sekuel resmi London: Angel. Pembaca bisa membaca novel ini sebagai sebuah novel utuh, bukan sebuah novel lanjutan dari novel sebelumnya. Oleh karena itu, penulis menaruh kembali adegan-adegan Gilang dan Ayu di novel London: Angel di sini agar tidak ada bagian cerita yang berlubang.

Adegan Ayu di kedai Afternoon Tea juga merupakan pengulangan dari cuplikan di novel Walking After You. Di novel Walking After You, sosok Ayu diceritakan dari sudut pandang Ann yang menganggapnya sebagai gadis berpayung merah misterius yang selalu membawa hujan ketika dia datang. Di novel ini, adegan Ayu di kedai Afternoon Tea tentu saja diceritakan dari sisi Ayu, dan pembaca mendapat jawaban atas keanehan-keanehan yang dilihat Ann.

Seperti judulnya, Angel in the Rain mengajak pembaca percaya pada keajaiban yang ada setiap hujan turun. Bahwa setiap rinainya turun serta malaikat yang membawa doa-doa kita kepada Yang Mahakuasa. 

“Allahumma shayyiban naafi’an”

Selasa, 07 November 2017

7 Cara agar Berhasil Puasa Beli Buku (a.k.a. Book Buying Ban)




Assalamualaikum, apa kabar?

Sudah lama tidak posting, kali ini saya mau sharing tentang Puasa Beli Buku atau istilah kerennya Book Buying Ban. Bagi para pecinta (dan penimbun) buku, istilah ini pasti familiar. Book Buying Ban atau Puasa Beli Buku adalah momen di mana para pecinta buku menahan diri dari godaan diskon buku besar-besaran, buku obralan yang berserakan, dan buku baru terbit yang wara-wiri di instagram.

Kenapa? Biasanya sih karena timbunan buku yang belum dibaca sudah setinggi gunung. Yang jadi pertanyaan, apakah itu akan berhasil? Apakah para pecinta (dan penimbun buku) itu mampu menahan diri dari berbagai godaan yang selalu menghadang?

Well, kalau melihat-lihat dari curhatan para pecinta buku di Instagram atau di blog sih, ada yang gagal dan ada yang berhasil. Alasannya macam-macam. Saya juga sering meniatkan diri untuk puasa beli buku, tetapi gagal terus. Lagi-lagi, kenapa? 

Godaan pertama adalah buku murah dan diskon besar. Meskipun sebesar-besarnya diskon buku paling sekitar 20-25% sih. Godaan paling berat buat saya adalah buku murah alias obralan. Dulu saya sering menyambangi basement Gramedia Depok yang sering menjual buku obral. Tempat paling nggak aman buat yang mau puasa beli buku. Tetapi saya tetap ke sana dan paling tidak membawa satu dua buku pulang ke rumah. Sekarang, lantai basement itu dipakai sebagai lahan parkir dan toko. Walaupun sedih karena nggak ada buku murah lagi, saya bersyukur juga dompet saya aman, hehehe.

Godaan lain selain buku murah dan diskon besar adalah window shopping di situs-situs penjualan buku. Atau situs penulis yang jualan buku dengan iming-iming merchandise, tanda tangan, edisi terbatas, harga yang lebih murah, dan sebagainya. Saya pun pernah kalah di bagian ini. Yang tadinya nggak mau beli buku, jadi tergoda, dan yah begitulah. Akhirnya beli buku juga.

Bulan Oktober kemarin, saya dengan bangga mengumumkan kalau saya berhasil puasa beli buku. Alhamdulillah, senangnya. Saya juga nggak nyangka, sih. Awalnya malah nggak kepikiran untuk puasa beli buku. Sudah ada niatan untuk main ke toko buku yang selalu ngasih diskon, tetapi nggak sempet-sempet. Tahu-tahu sudah bulan November. Dan sampai saat saya menulis ini, saya belum juga mengunjungi toko buku yang dimaksud. Hehehe….

Karena itu, saya jadi berpikir, apa saya melanjutkan puasa beli buku sampai Desember nanti, ya? Mungkin antara akhir tahun 2017 atau awal tahun 2018, baru beli buku lagi. Atau sekalian tunggu sampai bulan April nanti pas Islamic Book Fair? Hmm… kalau itu sepertinya terlalu lama. Saya mau melihat dulu apakah puasa beli buku bulan November ini berhasil.

Alasan saya puasa beli buku sebenarnya sederhana saja. Saya belum punya rak buku yang layak untuk menyimpan buku-buku saya. Saya hanya punya satu rak susun plastik yang sangat tidak cocok untuk menyimpan buku. Sebagian besar buku-buku saya ada di rumah orang tua. Buku-buku yang ada di rumah saya adalah buku-buku yang saya baru beli setelah menikah. Itu pun jumlahnya jauh lebih sedikit ketimbang buku-buku yang saya beli sejak kuliah. 

Selain tidak punya rak, cukup banyak buku yang belum saya baca. Kalau dihitung-hitung, dengan asumsi satu bulan membaca 4 buku, mungkin buku-buku di timbunan saya bisa sampai bulan Februari atau Maret 2018. Walaupun sepertinya sulit, saya tertantang untuk mencoba cara Marie Kondo mengenai timbunan buku.  

Buku yang kau punya adalah buku yang kau yakin akan membacanya langsung setelah membelinya. Jika tidak, sebaiknya lupakan saja. 

Nah, kali ini saya ingin berbagi tips agar berhasil puasa beli buku alias book buying ban

1. Tidak pergi ke toko buku atau tempat mana pun yang menjual buku. (terutama yang menjual buku murah).

2. Tidak membuka situs toko buku online, baik yang berbasis website, Instagram, Facebook, pokoknya semua, deh. Jangan pernah sekali pun.

3. Mengabaikan cuitan, update-an, postingan, atau apa pun yang berkenaan dengan promosi buku. Terutama dari akun-akun yang sifatnya personal. (misalnya dari sales buku, editor, promotor, atau penulis buku tsb.) Mengapa? Karena yang personal biasanya lebih mudah meruntuhkan niat kita puasa beli buku. Dia bisa dengan sangat halus merayu kita hingga akhirnya kita tergoda dan mengatakan, “Iya, saya beli bukunya.”

4. Ingat selalu timbunan yang kamu miliki. Kalau bisa foto timbunan tersebut dan lihat kembali foto itu setiap kali godaan ingin membeli buku baru muncul. Saya belum mencoba langkah ini, (belum sampai tahap melihat foto), saya hanya membayangkan buku-buku yang menumpuk di rumah dan itu sudah cukup membuat saya sadar kembali dari keinsafan.

5. Buat jadwal membaca dari buku-buku yang sudah ada. Jika jumlah buku yang kamu miliki bisa kamu baca hingga dua tahun ke depan, itu sudah lebih dari cukup menjadi alasan untuk puasa beli buku.

6. Untuk menghibur diri, buatlah daftar buku yang ingin kamu beli. Saya suka mengumpulkan foto-foto buku yang ingin saya beli, berikut nominal harganya. Jika godaan ingin membeli buku itu kumat, saya menghibur diri dengan melihat foto-foto wishlist saya dan menyemangati diri sendiri bahwa akan tiba waktunya saya memiliki buku-buku tersebut. Seperti pepatah bilang, semua akan indah pada waktunya. Hehehe...

7. Puasa beli buku bukan puasa menerima buku. Jadi, sama sekali nggak haram meminta dibeliin buku ke orang terdekat, (pasangan, sahabat, adik-kakak, dll) asal jangan keseringan. Boleh juga aktif ikutan giveaway dan kuis-kuis berhadiah buku yang bertebaran di media sosial. Siapa tahu di sana ada buku yang berjodoh denganmu, ya kan?


Nah, itulah sedikit tips puasa beli buku dari saya. Mudah-mudahan bermanfaat dan berhasil dilakukan.

Bagaimana denganmu? Pernah mencoba puasa beli buku juga? Mengapa? Ceritain dong caranya…