10 Buku Terbaik Tahun 2019

Assalamualaikum, mudah-mudahan belum telat banget untuk posting buku terbaik tahun 2019.

Jadi, sebenarnya saya sudah menyiapkan tulisan ini dari akhir Desember, tetapi karena laptop sedang dipinjam adik dan saya baru tahu (dan belum biasa) posting di blogger lewat aplikasi HP, alhasil baru sekarang bisa posting. Ini pun besok sudah harus dikembalikan lagi laptopnya.

Alhamdulillah, tahun ini saya berhasil membaca lebih dari 100 buku. Petjah rekor! Di Goodreads sih tercantum telah membaca 108 buku, tetapi aslinya 142. Beberapa buku yang saya baca nggak ada di Goodreads. Tetapi, jangan takjub apalagi heran ya kenapa saya bisa baca lebih dari 100 buku, itu karena tahun ini saya jadi pengangguran, wkwkwk. 

Kegiatan sehari-hari nggak jauh dari membaca, menulis, beres-beres rumah, udah gitu aja. Saya sendiri pun, antara seneng dan biasa aja berhasil baca 100 buku. Seneng karena berhasil petjah rekor, biasa aja karena yah... pengangguran gituh... nggak aneh, kan? Kalau masih kerja mungkin bakal seneng dan sombong, hahaha...

Ya sudah, langsung aja ke daftar 10 buku terbaik yang saya baca tahun 2019. Siap-siap buku nonfiksi mendominasi :)




Saya taruh ini di urutan pertama karena Lapis-Lapis Keberkahan benar-benar buku yang bagus banget dan saya heran kenapa saya mesti menunggu bertahun-tahun untuk membaca buku ini.

Buku ini saya baca awal tahun dan sepertinya bisa dibaca ulang, lagi dan lagi, jika sedang membutuhkan semangat dan motivasi. Ah, pokoknya ini buku bagus banget. Penggemar tulisan Salim A. Fillah pasti setuju. yang bukan penggemarnya pun pasti setuju.



Sebenarnya saya sudah membaca awal buku ini tahun lalu, tetapi nggak saya selesaikan. Bukan karena bukunya yang nggak bagus, malah karena bagus dan menyentuh banget, saya berharap bukunya nggak habis-habis say abaca.  Jadi saya tunda membaca buku Reclaim Your Heart dan meminjamkannya kepada teman saya.

Kemudian, tahun ini, saya membaca ulang dari awal Reclaim Your Heart dan isinya memang bagus banget. Menyentuh banget. Buku ini cocok buat yang sedang galau, merasa nggak punya tujuan hidup, dan sebagainya. 

Sama seperti Lapis-Lapis Keberkahan dan Reclaim Your Heart, buku Aku Bukan Budak Gaji sudah saya beli dari beberapa tahun yang lalu, tetapi kok rasanya masih malas baca. Saya baru membaca buku ini setelah resign, yang sebenarnya lebih bagus jika dibaca saat saya masih bekerja. Akan tetapi, nggak apa-apa lah, ya, daripada nggak dibaca sama sekali. Walaupun sudah resign, buku ini masih related dengan kehidupan saya.

Buku ini pula yang pertama kali membuka mata saya tentang kebebasan finansial dan segala macamnya. Pembahasannya nggak ribet, sederhana, dan tentunya memberi alasan yang logis dari sudut pandang agama kenapa kita harus kaya dan bebas finansial. Bagi yang ingin merdeka secara finansial atau membuka wawasan tentang seluk-beluk finansial, harus baca buku ini.

Buku Aku Bukan Budak Gaji mengantarkan saya pada Rich Dad Poor Dad, buku yang menginspirasi penulisnya untuk menulis buku Aku Bukan Budak Gaji. Yup, di buku Aku Bukan Budak Gaji memang sering menyebut Robert Kiyosaki. Karena penasaran dan ingin tahu lebih lanjut tentang dunia finansial saya pun membeli buku ini. 

Namun, setelah beli pun saya nggak langsung membacanya. Biasalah, malas dan nggak mood. Saya baru membaca buku ini lewat tengah tahun 2019 saat sedang buntu menulis cerita. Setelah membaca buku ini saya menjadi bersemangat kembali.

Apakah buku ini tentang menulis? Tentu saja tidak, buku ini tentang Ayah Kaya dan Ayah Miskin dan nggak ada hubungannya sama sekali dengan cerita yang sedang saya tulis kala itu. tetapi, pokoknya, membaca buku ini bikin saya semangat lagi, terutama semangat dalam mempelajari ilmu finansial.

5.    Aroma Karsa


Dari satu sampai empat sudah didominasi buku nonfiksi, kali ini buku fiksi muncul. Sepertinya, semua yang sudah membaca Aroma Karsa, baik penggemar tulisan Ibu Suri maupun yang biasa saja (seperti saya) akan setuju kalau novel Aroma Karsa adalah salah satu novel terbaik yang pernah ditulis oleh Dewi Lestari.

Novel yang kaya akan deskripsi bau-bauan dan aroma, kisah yang berangkat dari TPA Bantargebang hingga Cannes, Prancis, lalu menelusuri kedalaman hutan Gunung Lawu, benar-benar memaksa saya untuk terus membacanya hingga tamat. 

Novelnya memang tebal, tetapi font hurufnya cukup besar dan spasinya lumayan renggang, jadi bisa baca dengan nyaman (dan cepat kalau benar-benar penasaran). Novel Aroma Karsa membuat saya ingin memiliki buku Di Balik Tirai Aroma Karsa. Buku nonfiksi yang menceritakan perjalanan Dee  saat melakukan riset untuk novel Aroma Karsa.

Saya menemukan buku ini di obralan, merasa senang sekaligus sedih. Ini buku yang bagussss banget, tetapi akhirnya diobral. Yah, senang sih, karena bisa memiliki buku yang bagus dengan harga murah. Tetapi, sedih juga karena kalau sampai diobral, kan, berarti nggak terlalu banyak yang beli.

People of the Book adalah novel historical fiction. Diceritakan dari dua sudut pandang, sudut pandang Hannah si tokoh utama di masa sekarang dan sudut pandang orang-orang yang pernah berhubungan dengan ‘sang buku’ pada masa lalu.

Beberapa orang yang sudah membaca buku ini (dua, sih, yang saya tahu), bilang ke saya kalau buku ini beneran bagus banget. Jadi, sayang aja kalau nggak membacanya.

7.    Big Magic


Buku Elizabeth Gilbert pertama yang saya baca. Awalnya, nggak berekspektasi banyak dengan buku ini, setelah dibaca ternyata bagus banget. Cara Gilbert bercerita juga enak, seperti sedang mendengar dia lagi ngobrol dengan kita. 

Buku ini lebih fokus kepada kehidupan kreatif seorang penulis, ya. walaupun, bisa juga dipraktikkan di bidang-bidang kreatif yang lain. Jadi, bagi para calon penulis yang butuh semangat atau motivasi tentang kepenulisan, harus banget baca buku ini.

Dari awal tahu buku ini terbit, saya sudah kepengen banget baca. Syaikh Aidh al-Qarni sudah jaminan mutu bukunya bagus-bagus. Apalagi, buku ini juga memenangkan IBF Award 2019 nominasi buku terjemahan terbaik. Dengan sampul cantik berwarna biru muda, saya langsung menobatkan buku ini menjadi buku wajib dibaca dan dimiliki.

Akhirnya Kutemukan Kebahagiaan Sejati berisi kisah-kisah pribadi Syaik Aidh al-Qarni selama beliau hidup. Beliau bercerita tentang pertemuan atau obrolan beliau dengan seseorang, pengalaman pribadinya saat melakukan ini-itu, atau berkunjung ke tempat-tempat tertentu yang memberi hikmah luar biasa bagi beliau. Beliau menuliskan kisah-kisah tersebut ditambah dengan pesan-pesan beliau yang amat menyentuh hati dengan cara yang paling lembut.

Bagi saya, buku ini adalah buku yang penuh nasihat indah untuk tetap mengingat Allah apa pun yang terjadi. Buku Akhirnya Kutemukan Kebahagiaan Sejati milik saya, halaman-halamannya hampir penuh dengan tanda stabilo karena banyak sekali kalimat indah yang bikin bersemangat lagi.

Buku ini juga termasuk buku yang sudah lama sekali dibeli, tetapi belum saya baca. Akhirnya, saya baca juga tahun ini dan buku inilah yang membuat saya mantap untuk lebih mendalami ilmu sejarah tahun 2020, khususnya sejarah Islam.

Tahun 2018 saya juga membaca beberapa buku yang berkaitan dengan sejarah Islam, seperti 1001 Penemuan dan The Genius of Islam, tetapi kedua buku itu berfokus kepada ilmuwan Muslim dan penemuan-penemuan yang terjadi pada masa keemasan Islam. Sementara buku ini, Sejarah Islam yang Hilang, membahas secara ringkas, tetapi cukup detail, sejarah Islam dari Islam turun di Mekah hingga keruntuhan Islam di Turki. 

Membaca buku ini berhasil membuat perasaan saya campur aduk, ada rasa bangga, sedih, juga kesal. Ah, pokoknya jadi mau tahu lebih banyak tentang sejarah, deh, setelah membaca buku ini.

10.    After You’d Gone


Menentukan buku kesepuluh untuk daftar buku terbaik tahun 2019 adalah yang paling susah. Masih banyak buku bagus yang seharusnya bisa masuk daftar, tetapi saya sudah membuat pakem sendiri untuk memuat hanya sepuluh buku terbaik. Sempat terpikir, tahun ini memuat sembilan saja (mumpung tahun 2019 juga, kan?) daripada bingung memilih memasukkan satu buku lagi di antara buku yang bagus-bagus. 

Akhirnya, setelah berpikir cukup lama, saya memutuskan After You’d Gone ke dalam urutan terakhir buku terbaik tahun 2019. Kenapa?

Buku ini hampir saja berstatus DNF (do not finish) karena saya malas membaca cerita yang banyak deskripsinya dalam bahasa Inggris. Selain deskripsi yang begitu rinci, perpindahan sudut pandang, waktu, dan kisah cerita juga terjadi begitu saja tanpa penanda apa-apa.

Saya sempat skimming beberapa bagian dan hanya membaca bagian yang menarik saja. bagian yang saya anggap menarik, memang benar-benar menarik bagi saya, sehingga saya merasa sayang jika tidak menamatkan buku ini.

Akhirnya, saya membuka Goodreads dan membaca komentar-komentar orang tentang After You’d Gone. Kebanyakan memberi bintang 4 dan 5 (sepertinya saya tidak menemukan yang memberi bintang 3 atau kurang dari itu) dan hampir semuanya mengatakan buku ini bagus dan memang penulis melakukan perpindahan sudut pandang dan waktu dengan semena-mena.

Berbekal komentar positif di Goodreads, saya pun membaca ulang After You’d Gone, kali ini tanpa skimming. Hasilnya, yah, penulis memang sangat detail dalam menggambarkan apa yang dirasakan, dilihat, dicium, atau dilakukan si tokoh juga semena-mena dalam melakukan perpindahan sudut pandang dan waktu. Tetapi, benar kata para komentator Goodreads, buku ini ‘menyentuh’ dengan caranya sendiri. Dan selama membaca buku ini, tangan saya tergerak menulis beberapa paragraph untuk cerita saya. oleh karena itu, saya memilih After You’d Gone sebagai buku terbaik kesepuluh yang say abaca tahun 2019.

----

Begitulah, daftar buku terbaik tahun ini memang didominasi oleh buku nonfiksi. Padahal, aslinya saya lebih banyak membaca buku fiksi seperti yang sudah-sudah dan mereka juga bagus-bagus. tetapi, buku nonfiksi tahun ini benar-benar menggugah hati dan ikut membentuk perubahan-perubahan yang terjadi dalam hidup saya tahun ini.

Karena ada begitu banyak buku bagus yang tidak masuk ke daftar, saya akan sebutkan beberapa buku layak baca lainnya. Yah, semacam honorable mention gitu, ya, hehehe.

Honorable Mention Kategori Nonfiksi: 

Parent’s Stories, #GIRLBOSS, dan How to Sell Your Art Online.

Tahun ini saya juga membaca ulang beberapa buku, yaitu: La Tansa Male Café, Parcel Mini La Tansa, Daun Berserakan (nonfiksi), The Magic Library, dan Ketika Mas Gagah Pergi.

Baiklah, setelah berpanjang-panjang kata, saya akan menutup postingan kali ini dengan harapan semoga semakin banyak buku yang saya (dan kita semua) baca pada tahun 2020 dan bukan hanya banyak, tetapi juga buku-buku tersebut membuka wawasan, menambah ilmu pengetahuan, serta mendorong kita untuk menjadi lebih baik dari hari (tahun) kemarin.

Nah, buku apa yang terbaik yang kamu baca tahun 2019? Coba sebutkan judulnya di komentar, siapa tahu saya jadi tertarik untuk membacanya juga. ?

Komentar

  1. Dari 10 buku di atas saya baru membaca Rich Dad Poor Dad, Aroma Karsa, dan Big Magic. Tetapi belum satu pun yang saya review.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nggak apa-apa, yang penting sudah dibaca :D

      Hapus

Posting Komentar